
Queen melangkah dengan kesal menuju meja makan, wajah ditekuk serta mengerucutkan bibirnya, kemudian menghempaskan bokong begitu saja ke salah satu kursi ditengah-tengah Arcell dan Arsen.
Antonio mengerutkan alis melihat ekspresi putrinya, sesuatu apalagi yang membuat putrinya kesal kali ini. Antonio mengkode putranya Arsen dengan gerakan tubuh, tanpa suara agar mengajak princess mereka berbicara.
"Hemm, princess masih marah sama abang, soal kemarin malam?" Arsen tiba-tiba menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Queen.
"Aku senang abang Arsen disini, aku juga udah lupa masalah kemaren," jawab Queen memperlihatkan senyumnya supaya Arsen percaya.
"Syukurlah kalau princess tidak marah sama abang, tapi abang tau kalau kamu lagi kesal. Jadi siapa orang yang sudah membuat princess cantik abang kesal?" Arsen tidak mudah percaya begitu saja dengan senyuman yang ditampilkan Queen.
"Katakan saja princess, biar opa bisa memberikannya hukuman, karena sudah membuat princess opa kesal." Andreas akhirnya ikut menimbrung pembicaraan Queen dan Arsen.
Mendengar kalimat Andreas, membuat Queen tersenyum lebar, seperti memiliki ide untuk menggunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin.
"Opa, gimana biar aku saja yang memberikan hukuman itu," pinta Queen telah memikirkan cara untuk menghukum orang tersebut.
"Baiklah, terserah kamu sayang," ujar Andreas.
"Tapi siapa orang yang membuat kesal princess? Daddy perhatikan kamu bersemangat sekali ingin memberinya hukuman," imbuh Antonio membuatnya ikut penasaran.
Sedangkan yang menjadi pelaku utama tengah fokus menatap handphone, demi menghindari kontak mata dengan orang-orang sekitarnya terutama Queen. Dia sadar akan kesalahannya yang melupakan janjinya membelikan es krim untuk princess nya. Dia pun menggeser kursi kebelakang, lalu bangkit, ketika ingin melangkah pergi suara seseorang mengintrupsi, membuat langkahnya menjadi terhenti.
"Mau kemana kamu El? Sebentar lagi waktunya makan malam," tegur Antonio saat mengetahui Arcell ingin meninggalkan meja makan, padahal sebentar lagi waktunya makan malam tiba. Mereka menunda makan malam dalam waktu beberapa menit saja, karena menunggu kedatangan tamu yang sudah diundang.
"Oh ini dadd, El mau ke toilet," bohong Arcell berharap sang daddy percaya dengan perkataannya.
"Tumben banget mau ke toilet bang, belum juga makan udah sakit perut aja," celetuk Abian terdengar seakan mengejek di telinga Arcell, membuat abang sepupu menatap tajam dirinya.
"Memang orang sakit perut, harus nunggu makan dulu. Benar begitu Bian?" Tanya Arcell sembari berbicara ketus.
"Ampun abang, aku kan cuma bercanda. Abang buruan gih ke toilet entar malah keburu keluar gas angin," ucapan Abian mengundang tawa gelak semua yang ada di meja makan.
"Abian Elghaisan, kunci motor kamu abang sita. Biar gak bisa balapan," tekan Arcell sembari tersenyum tipis bisa melihat tampang menegang adik sepupunya.
"Abian! Apa benar yang dibilang El barusan, kau sering ikut balapan liar?" Naila berdiri menghampiri putranya sambil berkacak pinggang.
Abian cemas dan gugup bersamaan, tak berani menatap wajah garang mama ketika sedang marah.
"Abang El bohong mah," elak Abian.
"Kau bilang abang bohong, perlu abang buktikan kalau kau memang sering ikut balapan liar. Biar mamah bisa liat kelakuan putra mamah ini. Meskipun kita tinggal terpisah, tapi abang selalu mengawasi adik-adik abang tanpa membedakan kalian sedikitpun," papar Arcell tambah membuat Abian tak bisa berkutik.
Abian mengenal Arcell dengan baik, abang sepupu kalau sudah berani mengungkap kesalahan orang lain pasti telah memegang buktinya. Apalagi sekarang mereka akan tinggal bersama di mansion Horison, dia akan semakin diawasi, meskipun tak pernah tahu siapa orang yang telah mengawasinya.
"Abian jawab mamah," ujar Naila marah.
"i-iya mah, abang El benar. Maafin aku ya mah, tapi aku selalu main aman kok mah setiap balapan," kata Abian memberanikan diri menatap wajah Naila.
"Tetap saja balapan liar itu tidak benar Abian. Mulai sekarang daddy akan meminta bodyguard mengawasi mu, agar tidak lagi melakukan balapan liar," usul Antonio.
__ADS_1
"Aku setuju dengan saran mu Vierr," timpal Vinno.
"Ya aku juga setuju dengan saran mu Vierr, dan El kau boleh menyita kunci motornya," tukas Andreas membuat Arcell mengangguk.
"Kamu sudah dengarkan, mulai sekarang kau cuma mamah bolehkan mengendarai mobil. Jika mamah sampai mengetahui kau ikut balapan lagi secara diam-diam, jangankan kunci motor, kunci mobil pun disita." Ancam Naila terdengar tidak main-main dengan kalimatnya.
"Terus kalau semuanya disita, aku kuliah naik kendaraan apa dong mah?" ucap Abian masih bisa menanyakan sesuatu yang telah diketahuinya olehnya sendiri.
"Pikir saja sendiri," jawab Naila sekenanya, lalu kembali ke tempat duduknya.
"Oma bantuin Abian bujuk abang El, supaya kunci motor Abian gak disita." Abian meminta bantuan Erina dengan cara bermanja pada sang oma cantiknya.
"Oh untuk kali ini oma tidak bisa membantu mu Bian. Oma sendiri sangat setuju dengan tindakan abang El dan daddy mu," ungkap Erina mengusap kepala Abian yang menyender ke bahunya dengan manja.
"Abang tetap mau ke toilet?" Tanya Queen menghentikan Arcell.
"Iya sayang, ada apa memangnya," ucap Arcell sebisa mungkin menjawab dengan tenang.
"Oh, aku kira abang lagi menghindar dari kesalahan." Perkataan spontan Queen membuat Antonio menatap putrinya penuh pertanyaan.
"Kesalahan apa yang dilakukan abang El ke kamu sayang?" Antonio bertanya serius.
"Abang sudah bohongi aku dadd, katanya mau belikan aku es krim, nyatanya ga ada. Aku kesal sama abang, jadi aku mau abang dihukum," kata Queen.
"EL!" Seru Antonio penuh penekanan.
"Papa sama abang Arsen bolehin kok, asal cuma boleh satu kali saja seminggu," bantah Queen.
"Iya El, yang dibilang princess benar, papa membolehkannya," sahut Vinno.
"Oke fine, abang memang salah, silahkan princess katakan hukuman yang pantas abang terima." Arcell pasrah setelah mendengar penyataan papa Vinno.
"Yes! Besok abang antar aku sekolan, sekalian juga nunggui aku sampe pulang, itu hukuman buat abang," ucap Queen antusias.
"Tidak bisakah abang ke kantor dulu setelah mengantar mu, abang pasti jemput kamu sebelum waktunya pulang," ujar Arcell mencoba bernegosiasi.
"Bilang aja abang gak mau kan. Yasudah kalau abang gak mau, aku bakal ganti hukumannya sama yang lain, gimana abang mau?"
"Memang apa hukuman yang lain sayang?"
"Cukup berat, abang gak boleh peluk aku maupun nyapa aku. Aku juga gak mau makan semeja sama abang selama satu minggu."
"What? Mana sanggup abang gak peluk sama gak nyapa kamu dan makam gak satu meja sama kamu. Oh no, fine! Abang pilih hukuman yang pertama saja."
Ting! Tong!
Bel mansion berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Rey merasa itu adalah sahabatnya, dia pun bergegas pergi ke depan menyambut kedatangan sahabatnya.
"Gue kira lo ga bakalan datang," ujar Rey saat sudah membuka pintu mansion.
__ADS_1
"Pasti gue datanglah, kan lo udah ngundang gue," balas Keisyam.
"Yasudah kita langsung ke meja makan aja." Rey mengajak Keisyam menuju meja makan.
Keisyam menghentikan langkahnya yang hampir sampai di meja makan, saat semua orang di menatapnya. Keisyam nampak tersenyum canggung kepada keluarga Rey.
"Maaf membuat kalian menunggu terlalu lama," kata Keisyam sopan dan ramah.
"Tidak lama kok nak Keisyam, mari duduklah. Kita mulai makan malamnya," ujar Andreas.
Mendengar opa Andreas menyebut nama Keisyam, membuat Queen menoleh memastikan bahwa Keisyam yang di sebut opanya adalah sahabat abangnya.
Keisyam cukup terkejut melihat Queen ditengah-tengah keluarga Horison.
"Gue tau lo kaget ngeliat Alesha berada disinikan," tebak Rey.
Keisyam mengangguk, "Ada hubungan apa Alesha sama keluarga lo?" Tanyanya penasaran.
"Alesha adik bungsu gue, kami sengaja menyembunyikan identitas, demi melindungi permata kami," jelas Rey mengungkapnya.
"Tapi kenapa lo gak beritahu kami Rey. Kami bisa bantu ngelindungi Alesha kok," ujar Keisyam.
"Gue percaya itu, gue minta ini jadi rahasia kita saja, jangan cerita ke Nazril dam Nabil. Biarlah entar mereka tau sendiri saat waktunya tepat," kata Rey.
"Oke, gue bisa jaga rahasia kok." Balas Keisyam.
Kemudian mereka makan malam dalam keheningan seperti biasanya. Usai makan malam Keisyam tidak diizinkan pulang, malah disuruh menginap.
Disinilah Keisyam berbagi tempat tidur dengan Rey. Namun mereka belum tidur, melainkan bermaim PS bersama.
"Kalau aja gue tau Alesha adik lo, gue gak bakalan ce-" Keisyam menghentikan kalimat saat sadar hampir keceplosan mengatakan yang tak perlu diketahu Rey.
"Ce, ce apa Kei? Kalau ngomong jangan setengah-tengah dong," kesal Rey harus dibuat mikir.
"Udah gausah dipikirin, kita lanjut main aja." Keisyam mengalihkam pembicaraan, dengan mereka melanjutkan permainan kembali.
"Rey ga harus tau perasaan gue ke Alesha."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1