
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Queen yang dulu telah kembali seperti kebiasaannya yaitu terus saja mengoceh tentang hal yang tidak penting menjadi sangat penting untuk di bahas. Queen juga selalu mengingatkan Arcell akan janji pria itu yang harus menungguinya sampai pulang sekolah.
Sementara Arcell cuma bisa memijit dahi dan hidungnya, serta menajamkan telinga mendengar ocehan Queen dengan baik, supaya jika adiknya mengulang pertanyaan dia bisa menjawab seperti yang sudah dikatakan sebelumnya. Tanpa membuat princess nya marah-marah, biar hukuman tidak bertambah dan cepat berakhir.
"Abang ingat ya jangan kabur, awas sampai kabur huk-"
"Hukuman abang akan bertambah sepuluh kali lipat!" Potong Arcell mengulang kalimat princess nya yang sudah diucapkan berulang kali.
"Abang mengingat semua perkataan mu dengan jelas sayang, jangan khawatir abang tidak akan kabur." Lanjut Arcell mengacak rambut princess dan tak lupa mengecup kening.
"Baguslah kalau abang ingat," tukas Queen tersenyum senang.
"Belajar yang rajin, princess juga jangan lupa sama yang sering abang bilang," kata Arcell sengaja menggantung kalimat, ingin mendengar apakah princess nya mengingat pesan-pesannya.
"Iya aku ingat abang, gak boleh jajan sembarangan di kantin, harus makan dari bekal yang dibawa. Mana mungkin aku lupa secepat itu, abang puas sekarang?" Queen berucap sebal, karena abangnya selalu membalikkan lagi omongannya.
"Pinter princess abang, sekarang masuk sana. Jangan lari, jalan saja, abang awasin dari sini."
Queen mengangguk menuruti perkataan abangnya, kali ini dia berjalan santai kearah gerbang. Arcell yang duduk di balik kursi kemudi, meluruskan pandangan terus mengawasi princess nya, cukup lama Arcell memandangi princess nya hingga punggung itu tidak terlihat lagi.
Sebenarnya hukuman dari princess nya sangat ringan dan mudah untuk dia jalani, daripada harus menerima hukuman dari opa Andreas yang sudah bisa dia tebak akan sangat berat. Jadi hukuman dari princess nya, tidak membuatnya mengeluh sedikitpun, bahkan sangat senang karena bisa menghabiskan waktu bersama princess nya yang jarang dilakukannya.
Queen berjalan menunduk sembari memperbaiki tali jam tangan sampai tak memperhatikan langkah, hingga menubruk dada bidang seseorang.
"Aduhh, sakit banget. Ishh siapa sih yang buat tembok sembarangan ditengah tengah lagi," omel Queen memukul dada bidang seorang yang dikira adalah tembok.
"Awshh tangan aku," ringis Queen kembali, menatap tangannya malah memerah.
Bukannya marah, orang yang dipukul malah tersenyum. Lalu dengan santainya mengambil tangan kecil yang memukulnya, kemudian mengusap serta meniup tangan mungil tersebut.
Sontak saja Queen tersadar dan mendongak untuk melihat wajah orang yang telah dipukulnya. Queen malah semakin kaget, ternyata orang yang dikiranya tadi tembok adalah seniornya. Sahabat abangnya, yang tadi malam berada di kediamannya untuk memenuhi undangan makan malam. Queen juga baru tahu orang di depannya lah yang telah membawa dia kerumah sakit saat pingsan di sekolah.
__ADS_1
"Tangannya masih sakit? Perlu ke uks, biar gue obatin," ujar Keisyam bertanya. Ya, Keisyam lah orang yang sudah Queen tabrak.
"Eum, gak perlu kak. U-udah gak sakit lagi," jawab Queen gugup seraya menarik tangan dari genggaman Keisyam.
"K-kak aa..aku minta maaf, udah mukul kakak. Tadi aku mengira kakak dinding, so-soalnya keras ba-banget itunya." Perlahan Queen mengangkat jari telunjuknya, menunjuk dada Keisyam yang ditutupi seragam sekolah.
"Santai aja, gue gak papa kok. Oh ya, boleh bicara sebentar, tapi gak disini," kata Keisyam.
Queen mengangguk tidak menolaknya, namun saat mereka akan berjalam bersama ke tempat yang dimaksud Keisyam, tiba-tiba dari arah berlawanan Alex datang langsung merangkul bahu Keisyam dari belakang.
"Kei bisa bantu gue di ruang osis, ada beberapa pekerjaan yang perlu gue selesain, tapi gue butuh bantuan lo," ujar Alex menghentikan langkah Keisyam dan Queen.
"Mengapa lo minta bantuan ke gue sih lex, kan banyak anak osis yang lain. Gue lagi gak bisa sekarang, gue mau bicara sama Alesha," tolak Keisyam kesal Alex menganggu saja.
"Gue tau masih banyak anak osis yang lain, tapi untuk kali ini pekerjaannya butuh banget bantuan lo," desak Alex tidak bermaksud menganggu Keisyam, tapi ini sangat darurat.
Alex beralih menatap gadis didepannya yang menunduk, seperti enggan untuk melihat dirinya. Alex hanya bisa maklum saja, karena semua ini memanglah kemauannya jadi apa boleh buat.
"Kenapa bertanya padaku, kalau aku terserah sama kak Keisyam saja," jawab Queen tanpa menatap orang yang bicara padanya.
"Tuh Kei lo dengarkan, jadi bantuin gue. Seperti biasa gue ga terima penolakan." Pungkas Alex.
"Hem, tunggu bentar gue mau ngomong sama Alesha." Keisyam melepaskan rangkulan Alex dan mendekati ke Queen.
"Gue tetap mau bicara hal penting sama lo, tapi gak sekarang. Waktunya kurang tepat, nanti gue hubungin lo ya. Tolong masukin nomor lo." Keisyam menyerahkan ponsel ke tangan Queen, meminta gadis didepannya mengetik nomornya.
Setelah selesai Queen langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Queen malas berlama-lama saat ada seseorang yang harus dia jauhin. Sedangkan Keisyam memilih menyimpan ponselnya sesudah mendapatkan nomor Queen.
Keisyam kesal dengan Alex, kedatangan sahabatnya membuat rencana yang tersusun rapi gagal. Padahal Keisyam memiliki banyak kesempatan untuk berbicara dengan Queen. Tapi dengan berat hati Keisyam harus membantu Alex.
🥀
__ADS_1
"Sha kamu sudah dijemput ya, kok jalannya cepat banget," tegur Luna memperhatikan Queen yang agak berbeda hari ini.
"Iya Lun, hari ini aku ditungguin abang El sampai pulang sekolah. Jadi pengen cepat ke halte, pengen lihat apa bang El masih disana atau malah kabur ninggalin aku," papar Queen.
"Woahh, tumben banget bang Arcell mau nungguin lo sampai pulang. Biasanya cuma nganter terus habis itu langsung ke kantor." Luna bersorak sampai bertepuk tangan, sama sekali tidak menyangka Arcell yang workholic mau menunggui Queen.
"Mau gimana lagi, abang El aku hukum. Siapa suruh lupa belikan aku es krim," ungkap Queen disertai wajah senang akhirnya bisa memberikan abangnya hukuman.
"Cuma lo yang bisa buat abang Arcell begini, salut gue sama lo," puji Luna ikut senang.
Saat sampai di depang gerbang, Luna langsung masuk ke dalam mobil jemputannya. Sedangkan Queen berjalan menghampiri mobil mercy yang masih setia menunggunya di tempat persinggahan tadi pagi.
"Mau kemana? Langsung pulang atau makan direstoran," tawar Arcell menanyai princess nya, ketika sudah duduk di kursi penumpang disampingnya.
"Aku mau ke toko kuenya oma Kirana," ucap Queen.
"Tumben mau kesana, kangen sama oma Kirana ya. Pasti mau manja-manja, benar begitu sayang," ujar Arcell menebaknya.
Queen mengangguk, membenarkan perkataan abangnya. Beberapa hari sudah Queen tidak bertemu oma cantiknya, membuatnya merindukan pelukan hangat oma Kirana.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1