BELOVED

BELOVED
Episode 92.


__ADS_3

Yunia memasuki mansion lewat pintu belakang yang langsung dari dapur. Disana masih ada bibi Fatimah tengah mencuci peralatan masak.


"Mbok apa tadi nona Alesha sudah makan?" Tanya Yunia yang berada dibelakang memperhatikan bibi Fatimah.


"Kaya belum Yun, habis nemuin kamu nona kaya nya langsung ke kamar," sahut bibi Fatimah.


"Mbok bisa minta tolong siapin makanan buat nona Alesha ya, aku mau ke kamar nona," pamit Yunia, setelah bibi Fatimah mengiyakan.


Berapa kali ketukan sudah Yunia lakukan, tetap sama tak mendapat sahutan sama sekali. Yunia merasa sangat cemas takut terjadi sesuatu dengan nona mudanya di dalam. Yunia tidak bisa membuka pintu, sebab dikunci dari dalam.


"Mana di kunci lagi, kuncinya sama tuan Arcell. Bagaimana ini apa yang harus ku lakukan," gumam Yunia panik, terlebih nona mudanya belum ada makan sama sekali.


Yunia turun kebawah mencari suaminya, dia tidak bisa berdiam terus menerus seperti ini. Perasaan takut menyelimutinya, apalagi orang-orang belum pada pulang.


"Mas Ed," seru Yunia dengan napas tersengal-sengal, akibat berlari menuruni tangga.


"Sayang ada apa, mengapa kamu lari-lari begini," ujar Eduard menyambangi istrinya.


"Huh Mas mas ka-kamar nona dikunci, dari tadi aku mengetuk pintunya. Engga mendapat sahutan dari nona, sungguh aku khawatir takut terjadia apa-apa dengan nona," kata Yunia menarik napas dan menghembuskan sebelum bicara.


"Ayo kita keatas," ajak Eduard.


Keduanya memasuki lift agar cepat sampai ke lantai atas. Benar saja yang dikatakan istrinya, kamar nona mudanya dikunci dari dalam.


"Duplikat kunci kamar nona ada sama tuan muda Arcell."


"Mas Ed, coba telpon tuan. Tanyain kapan tuan pulang," usul Yunia.


Eduard menggeleng, "Tuan Arcell lagi diluar kota, tuan pasti sibuk. Kita gak bisa mengganggu."


"Lalu gimana ini Mas, gak mungkin kita berdiam diri aja kaya gini. Perasaan ku juga gak enak," tukas Yunia mengusap wajahnya.


"Jalan satu-satunya, Mas harus mendobrak pintu kamar nona," ucap Eduard.


"Lakukan Mas, biarkan saja nanti kita diamuk, asalkan nona baik-baik saja." Yunia mendukung suaminua untuk mendobrak pintu kamar nona mudanya.


'Brak' pintu kamar Queen terbuka, Yunia langsung masuk ke dalam. Tubuh Yunia terpaku melihat Queen terbaring lemah dengan hidung mengeluarkan darah segar.


"NONA!" pekik Yunia duduk ditepian ranjang menepuk pipi Queen, tapi percuma saja, karena kelopak mata itu tidak mau terbuka.

__ADS_1


"Astaga nona, Yunia mas akan gendong nona ke mobil. Kamu hubungi tuan Vinno," pinta Eduard, dia mengangkat tubuh Queen, mereka menuju garasi mobil.


"Ha-halo tu-tuan Vinno, no-nona Ale-sha pingsan, hidungnya mengeluarkan darah." Yunia terbata-bata bicara dengan Vinno. Keadaan nona mudanya sangat mengenaskan, Yunia sangat takut.


"Cepat bawa Alesha ke rumah sakit, 10 menit kalian sudah harus sampai, saya tidak mau tahu." Terdengan teriakan Vinno diseberang telpon.


"Dokter Vinno ada apa? Anda kelihatan sangat cemas sekali, apa terjadi sesuatu dengan Alesha," ujar dokter Asyraf asal menebak saja.


"Kau benar dokter Asyraf. Alesha lagi dalam perjalanan ke rumah sakit, assisten rumah tangga barusan menelpon saya, mengatakan Alesha pingsan serta mimisan," jelas dokter Vinno.


Dokter Asyraf menutup mulutnya setelah mendengar perkataan dokter Vinno.


"Dokter Vinno saya tunggu di IGD, biar saya yang menangani Alesha." Dokter Asyraf lantas bergegas ke ruang IGD menyiapkan peralatan medis, suster Citra ikut bersamanya.


Kini Queen ditangani sendiri oleh dokter Asyraf. Syukur Alhamdulillah Queen dibawa ke rumah sakit dengan cepat, jika tidak kemungkinan besar nyawanya tak tertolong.


Vinno telah menanyakan yang terjadi pada Queen sampai bisa seperti ini pada Eduard dan Yunia. Vinno sangat marah mengetahui kelalaian Yunia, tapi dia lebih marah saat mengetahui Antonio dan Khanza pergi ke Bogor, tanpa memberitahukan pada mereka.


"Katakan apa yang terjadi pada Alesha saat dirumah? Apa ada sesuatu yang membuatnya sedih dan murung?" cecar Vinno, dokter Asyraf menyampaikan kondisi kesehatan Alesha menurun, dokter Asyraf bilang bahwa Alesha seperti tengah merasa sedih, saat menangani Alesha bulu mata lentik gadis itu basah, pipinya pun sembab, itulah yang memicu keadaannya.


"T-tuan anu nona-"


"Biar saya yang jelaskan," sela Eduard memotong ucapa istrinya tampak gugup berhadapan dengan Vinno.


"Kalian pulang lah, tolong jangan beritahu kabar Alesha pada Antonio dan Khanza. Biar saya sendiri saja yang menyampaikan," peringat Vinno.


"Baik tuan." Jawab Eduard, kemudian menggandeng istrinya, mereka berdua meninggalkan rumah sakit.


Vinno merogoh ponselnya menghubungi Naila istri tercintanya, meminta istrinya segera kerumah sakit dan membawa makanan untuk Queen.


"Sayang ke rumah sakit sekarang ya, bawa makanan. Alesha dirawat inap lagi,"


"Apa putriku dirawat inap lagi, baiklah aku akan menemaninya dirumah sakit. Kak Antonio dan Khanza apa mereka disana." Terdengar suara Naila yang terkejut.


"Mereka sedang di Bogor sayang, biar Mas saja yang menelpon Xavier,"


"Iya Mas, aku masakin princess bubur saja. Aku pulang dulu ke mansion,"


"Kamu hati-hati nyetirnya sayang,"

__ADS_1


Vinno menemani Queen di kamar rawat, sebetulnya dia ada operasi saat ini. Vinno meminta dokter lain menggantikan tugasnya, semantara dia tidak bisa meninggalkan putrinya sendirian.


"Papa," seru Queen dengan suara lemah.


"Sayang akhirnya kamu sudah sadar juga, kamu haus?" Tanya Vinno tersenyum hangat.


"Mommy, daddy," ucap Queen mengedarkan pandangan mencari dua orang, ia kira saat membuka mata maka kedua orang tuanya ada disini.


"Mereka di Bogor sayang, mau papa telpon suruh daddy sama mommy mu balik," tawar Vinno, Queen menggeleng.


"Papa, aku le-lelah, ingin istirahat," ucap Queen mampu membuat Vinno menangis dan memeluk putrinya itu.


"Pleasee sayang kamu harus tetap bertahan, papa gak bisa kehilangan kamu, seumur hidup papa akan dihantui rasa bersalah jika kamu pergi," kata Vinno menangis.


"Pa-papa aku hanya ingin istirahat, aku mau tidur lagi," ucap Queen.


Vinno mengangkat wajahnya, "Papa pikir kamu lelah dan mau ninggalin kami semua."


Queen tertawa pelan, 'Engga dong pa."


"Kamu istirahat aja, entar mama kamu kesini bawain makanan," ujar Vinno mengacak rambut putrinya.


"Papa pesenin ke mama, masakin ayam goreng," pinta Queen.


"Boleh entar papa telpon mama, sayang kamu papa tinggal sendiri gak takut kan. Bentar lagi Arsen ke kamar rawat kamu."


Queen mengangguk seraya mengulas senyum tipis.


"Oh ya satu lagi, kalau ada sesuatu yang mau princess ceritain, ungkapin aja sama papa, atau sama yang lain buat kamu nyaman. Jangan dipendam sendiri ya sayang, princess harus kembali sehat supaya bisa beraktivitas seperti biasanya. Maka dari princess gak boleh sedih dan murung, harus selalu ceria."


Vinno tersenyum lebar, ia mengusap puncak kepala putrinya, kemudian menunduk mencium kening putrinya, barulah ia keluar dari kamar rawat.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609

__ADS_1


 


 


__ADS_2