
"Aku kira gak bakalan pernah bertemu keluarga ku, dengan keadaan ku yang mengalami amnesia akan sulit mengenal kalian, nyatanya walaupun aku amnesia tapi perasaan seorang istri dan Ibu, masih bisa aku rasakan," ujar Khanza sambil terisak pelan. Antonio membawa kepala istrinya bersadar di dada bidangnya.
"Kamu tau honey, kepergian mu membuat Mas hancur. Mas begitu jahat meninggalkan princess dalam keadaan berduka. Mas menemani papa berobat ke luar negeri, dengan teganya Mas ninggalin anak-anak kita. Saat itu Mas butuh ketenangan, tanpa memikirkan anak-anak kita," ujar Antonio juga menceritakan bagaimana keadaan keluarganya saat Khanza dinyatakan meninggal.
"Pasti saat itu adalah hari terberat bagi Queen, ditinggalkan dua orang sekaligus dengan tujuan berbeda. Aku juga paham, keputusan yang Mas ambil juga sebenarnya berat, tapi putri kita hebat ya Mas bisa menjalaninya dengan kuat, putra-putra kita juga hebat menjaga adik mereka dengan baik," ujar Khanza, Antonio mendengarkan dengan baik perkataan istrinya, ia mencium pipi istrinya yang basah karena bercerita sembari menangis.
"Sebenarnya princess beberapa kaki pernah ketemu kamu honey, tapi kami menganggap selalu berhalunisasi. Nyatanya kami yang bodoh tidak percaya omongannya, andai kami percaya waktu itu, mungkin kamu sudah berkumpul bersama kami." Antonio mengakui kesalahan yang tak pernah mempercayai omongan princess nya.
"Engga papa Mas, itu tandanya belum waktunya. Allah maha baik, pasti sudah mengatur cara mempertemukan kita. Awal melalui princess, sampai Arcell dan kamu yang memaksa ikut bersama mu," kata Khanza mengingat pertemuan mereka beberapa hari yang lalu, dimana Antonio menggendong secara paksa membawanya pergi.
Antonio tersenyum lebar kala mengingat itu, ia sama sekali tidak merasa bersalah saat itu, karena ia tidak menculik melainkan membawa belahan jiwanya yang sudah sekian lama terpisah, wajar saja ia begitu merindukan istrinya, berhubung istrinya mengalami amnesia, jadi ia harus bertindak memaksa, hanya dengan cara itu ia bisa bersama istrinya.
"Kamu gak ngerasa bersalah gitu Mas, sudah bawa aku dengan cara paksa." Khanza mendengkus kesal, seraya mendongak untuk melihat wajah Antonio, dan apa yang dilihatnya suaminya malah tersenyum lebar tanpan beban.
"Gak dong honey, kan Mas gak ngerasa menculik. Kamu kan memang istriku, jadi gak ada salahnya kan Mas bawa kamu, ya walaupun Mas tau saat itu kamu amnesia. Tapi Mas gak bisa nahan rindu lebih lama lagi," ungkap Antonio.
"Mas kita sholat asar yuk, habis itu kita ke rumah sakit. Aku mau jengukin Bibi Inahya, sama mau ketemu Arsen. Cuma Arsen yang gak tau aku masih hidup, dia pasti kaget ngeliat aku," kata Khanza mengajak suaminya melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
Khanza tidak hanya sholat berdua dengan Antonio, tetapi mereka sholah berjamaah di tempat yang memang sudah tersedia di dalam mansion Horison khusus untuk sholat.
Setelah selesai sholat, Khanza dan Antonio serta Queen menuju rumah sakit. Hanya mereka bertiga, sedangkan yang lain punya kesibukan masing-masing. Arcell yang harus ke kantor karena ada beberapa perkerjaan dan Ghani ada tugas kuliah yang harus diselesaikan, dan Rey yang tengah mencari tahu tentang seseorang yang lagi memenuhi hatinya. Naila memang mau tinggal di mansion membantu pelayan lain menyiapkan makan malam. Abian juga keluar berkumpul bersama teman-temannya.
🥀
Dirumah sakit...
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan dilorong rumah sakit, menaiki lift untuk sampai dilantai atas. Tiba-tiba mata Queen tidak sengaja bertemu pandang dengan Nafisa yang berada di luar bersama Deon.
"Ayah bunda, kalian disini juga! Siapa yang sakit bun?" Tanya Queen yang menghampiri Deon dan Nafisa. Sedangkan Antonio dan Khanza pun akhirnya memilih mengikuti Queen.
"Lambung kakek kambuh lagi Sha, didalam juga ada opa oma kamu jengukin kakek. Ayo masuk, kamu mau ngeliat kakek kan," ujar Nafisa mempersilahkan ketiga orang masuk ke kamar rawat ayah mertuanya.
Queen mengangguk dan segera masuk berasama mommy dan daddy nya, serta Nafisa dan Deon juga ikut masuk.
"Kakek," seru Queen memeluk Levian.
"Cucuku kesayangan ku, kamu kok berada disini. Darimana kamu tau kalau kakek sakit?" ujar Levian bertanya.
"Sebenarnya aku kesini mau jengkuk nenek Inahya, gak sengaja aku ngeliat bunda sama ayah. Jadi aku samperin, pengen tau siapa yang sakit. Bunda bilang lambung kakek kambuh lagi, ini pasti kakek telat makan ya," ujar Queen seolah-olah marah. Levian menanggapi ucapan Queen dengan senyuman.
"Khanza, ka-kamu masih hidup nak," kaget Erina menutup mulit bahkan air matanya mengalir begitu saja melihat menantu berdiri tepat dibelakangnya bersama putranya.
Tidak hanya Erina saja yang terkejut melihat Khanza, Andreas pun sama terkejutnya.
"Bagaimana bisa kamu masih hidup nak? Lalu siapa yang dikubur saat itu," ujar Andreas, kepalanya dipenuhi pertanyaan.
"Papa nanti saja kami menjelaskannya, tidak enak membahas ini dirumah sakit," imbuh Antonio.
"Khanza, mama bahagia ngeliat kamu ternyata masih hidup," ucap Erina memeluk Khanza dengan sayang, sungguh Khanza dan Naila adalah menantu kesayangannya.
Andreas juga memberikan pelukan untuk Khanza, "Papa juga bahagia ngeliat kamu nak." Ucap Andreas.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok lelaki yang beberapa bulan tak pernah bertegur sapa dengannya. Queen perlahan mundur dan berdiri diantara mommy dan daddy nya.
"Kakek, maaf aku baru datang," kata Alex mendekat ke ranjang Levian.
Khanza bisa menangkap gerak-gerik putrinya, ia bisa menebak bahwa sebelum terjadi masalah antara pemuda itu dan putrinya, entah apa masalah mereka ia pun tidak tau mengenai itu. Biarlah nanti saja ia menanyakannya pada putrinya.
"Hem, sekarang kamu melupakan kakek, semenjak ada perempuan itu. Kakek merasa kehilangan cucu sekarang, kamu seperti dari jangkauan kakek. Lebih kakek kembali saja ke luar negeri tinggal bersama Arthur, daripada disini kakek merasa kaya gak punya cucu," ungkap Levian, ia akan memainkan sedikit drama untuk membuat perjodohan yang sempat ditolak oleh kedua cucunya, kembali disetujui lagi. Ini adalah kesempatan Levian, membuat keduanya bersatu, walaupun tindakannya kelewatan, biarlah demi janjinya dan Andreas.
"Maaf selama ini aku selalu menentang kakek dan melawan, tolong tetaplah di Indonesia kakek. Jika kakek tinggal diluar negeri disana tidak ada yang mengurus kakek, Arthur juga pasti sibuk dengan sekolahnya," ujar Alex. Lelaki itu tidak tega membiarkan kakeknya kembali ke luar negeri.
"Alex benar yah,,, kalau ayah balik ke luar negeri, ayah pasti kesepian disana, apalagi tidak ada yang mengurus ayah disana," sambung Deon.
"Ayah akan tetap tinggal dengan satu syarat."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1