
Keisyam masih setia menunggu di depan IGD. Cowok itu duduk dengan tenang di kursi yang telah disediakan. Meski terlihat tampak tenang, nyatanya dia begitu sangat khawatir sekarang. Dia sudah dua kali menyaksikan gadis itu pingsan dan menolongnya.
"Mungkinkan Alesha punya penyakit serius, apa ku tanyakan sama Rey saja, pasti dia tau penyakit Alesha alami sekarang," gumam Keisyam terpikir untuk menanyakan pada Rey.
Saat Keisyam akan menghubungi Rey, bertepatan dengan dokter Vinno keluar dari ruang IGD.
"Ekhem! Kau mau menelpon siapa?" Tanya dokter Vinno ketika melihat pemuda didepan mau menempelkan ponsel ditelinga, namun tak jadi karena ada dia.
"Saya mau menelpon Rey, om. Mau ngasih tau kalau Alesha lagi dirumah sakit," ujar Keisyam berkata jujur.
"Sebaiknya tidak usah menghubungi Rey dahulu, biar nanti saya saja yang mengabari seluruh keluarga," sahut dokter Vinno.
"Baik om, kalau begitu saya tidak akan menelpon Rey," balas Keisyam.
Keisyam masih ragu ingin menanyakan penyakit yang diderita gadis didalam. Tetapi dia sangat penasaran soal ini, karena sepertinya penyakit gadis itu sangat serius, apalagi tadi dia dengan jelas melihat wajah pucat gadis itu.
"Ada yang mau kamu tanyakan sama saya," celetuk dokter Vinno kemudia duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Keisyam.
"Iya om, saya ingin bertanya. Pertanyaan ini sungguh menganggu pikiran saya, jika tidak dikatakan sekarang," ungkap Keisyam.
"Tanyakan lah, saya masih punya waktu sepuluh menit untuk mendengar pertanyaan mu dan menjawabnya jika saya ingin," tukas dokter Vinno melipat tangannya menatap pemuda yang masih berdiri dihadapannya.
"Om, apa Alesha ada riwayat penyakit serius? Bukan maksud saya lancang ingin tahu, tetapi sudah dua kali saya menolongnya saat pingsan. Belum lagi saya juga sering melihatnya memegangi kepala, bahkan saya juga pernah tak sengaja melihat hidungnya mimisan," papar Keisyam bertanya dengan wajah dibuat seserius mungkin.
"Duduklah! Saya tidak bisa memberitahu mu tentang penyakit putriku, tapi yang harus kamu ketahui putriku baik-baik saja saat ini. Putriku hanya kelelahan, saya minta kamu jagain dia ketika berada disekolah," jawab dokter Vinno tidak bisa menjelaskan lebih detail yang dialami princess nya. Dia sudah terikat janji, maka dia tak bisa mengingkarinya. Biarlah semua orang tau pada waktu yang tepat, tapi dia masih berusaha mencari pendonor yang bersedia menyerahkan ginjalnya untuk putriku.
"Saya akan berjanji akan menjaganya," ucap Keisyam yakin, sebab hati dan perasaan sepenuhnya diisi oleh gadis itu.
"Kamu mencintai putriku," tebak dokter Vinno tepat sasaran, membuat Keisyam gugup.
"Tak usah gugup, saya senang kamu mencintai putriku. Kamu kelihatan sangat tulus pada putriku, tapi seperti akan sulit untuk kalian bersama," ujar dokter Vinno mematahkan harapan Keisyam yang sempat tersanjung berberapa detik lalu.
__ADS_1
"Saya tau om, Alesha mencintai Alex. Tetapi Alex sudah memiliki kekasih," kata Keisyam.
"Ah bukan soal Alex saja, ini lebih ke putra sulung Horison. Arcell abangnya Alesha sangat posesif, dia tidak bisa sepenuhnya melepaskan Alesha pada lelaki yang menurutnya tidak cocok dengan adiknya atau tidak bisa melindungi adiknya. Arcell sangat selektif jika menyangkut adiknya, bukan cuma Alesha tapi juga berlaku untuk adik-adiknyaq yang lain. Tapi yang lebih diutamakan Arcell adalah Alesha, karena Alesha satu-satu adik perempuannya," tutur dokter Vinno menceritakannya.
Keisyam mangut-mangut, akhirnya dia tahu sebelum mendapatkan Alesha, dia harus lebih dulu meluluhkan abang sulung gadis itu. Biar jalan sedikit dipermudah, dia sudah mengenal siapa abang sulung gadis itu, mereka pernah bertemu saat makan malam. Wajah pria itu sangat datar, tatapan tajam sungguh mengerikan bagi orang yang tidak kuat mental.
Drrrttt...drrrttt
Ponsel Keisyam berdering, dia pun meminta izin untuk mengangkat telpon. Dia berdiri sedikit menjauh dari dokter Vinno.
"Ada apa papa telpon Kei?" Tanya Keisyam to the point, tidak mau basa basi.
"Kemana kamu? Jam pulang sekolah sudah lewat," ujar Gibran diseberang sana.
"Woah apa sekarang papa mulai perduli dengan ku, sudah tidak usah mengurusi ku, urusin saja bisnis kalian. Yang terpenting uang kalian lancar untuk ku setiap bulannya," desis Keisyam, sebenarnya dia tidak tega bebicara kasar pada papanya, tetapi hatinya terlalu sakit pada orang tuanya, sedari kecil dia dan kakak perempuannya selalu ditinggal dirumah bersama bibi yang mengasuhnya. Tapi sekarang kakak perempuanya sudah memiliki keluarga sendiri.
"Jaga omongan kamu Kei, papa mama lakukan ini demi kehidupan kamu agar tetap nyaman. Sekarang papa minta kamu segera pulang."
Setelah mengatakan penolakan itu, Keisyam mematikan sambungan telpon secara sepihak dengan papanya. Keisyam ingin memberi orang tuanya sedikit pelajaran.
"Gimana pa, Keisyam?" Tanya Mila istri Gibran, mama dari Keisyam.
Gibran menggeleng, "Keisyam bilang nanti pulangnya, semakin kesini papa ngerasa anak itu susah diatur."
"Keisyam bukan susah diatur pa, dia hanya butuh perhatian dari kalian. Semenjak kecil kami sering papa dan mama tinggal. Mungkin aku bisa memahamu keaadan papa dan mama, tapi tidak dengan Keisyam. Dia butuh kalian ada didekatnya, apalagi aku sudah berkeluarga, aku tidak bisa tetap tinggal disini. Kemanapun suamiku pergi, aku pasti ikut dengannya. Dewi minta cobalah kalian rehat bekerja dan ajak Keisyam mengobrol, sambut dia saat pulang. Dewi yakin Keisyam pasti sangat senang bila papa dan mama melakukan itu untuknya," sanggah Dewi menyarankan papa dan mamanya untuk rehat dari pekerjaan mereka dan tinggal dirumah menemani Keisyam adiknya.
Gibran menatap istrinya, mereka berdua merasa bersalah terhadap Keisyam. Semua perkataan Dewi ada benarnya, jika mereka tidak ingin Keisyam semakin menjauh dari mereka, artinya mereka harus melakukan cara ini supaya Keisyam tidak membenci mereka.
'"Baiklah mama dan papa akan menemani Keisyam, kami akan mengambil cuti kerja," ucap Mila.
Dewi tersenyum mendengar perkataan mamanya, "Dewi senang dengarnya mah pah, biar Dewi telpon Keisyam. Mudahan saja dia mau pulang."
__ADS_1
Tak berselang lama panggilan telponnya diangkat Keisyam.
"Halo Kei, kamu bisa pulang sekarang gak dek. Kakak rindu sama kamu, keponakan kamu juga ingin mengajak uncle nya main bareng," ujar Dewi berbicara duluan.
"Kakak lagi dirumah ya, baiklah kalau gitu Keisyam akan pulang sekarang. Kei juga kangen sama keponakan ku yang menggemaskan," sahut Keisyam diseberang sana.
"Kakak tunggu ya dek." Setelahnya Dewi memutuskan sambungan telpon.
"Keisyam mau pulang mah," beritahu Dewi.
"Syukurlah, mama rindu sekali dengannya," ucap Mila.
Dewi memeluk mamanya dengan sayang. Dewi mengerti keadaan orang tuanya. Maka dari itu dia juga tidak bisa menyalahkan orang tuanya yang selalu tidak berada dirumah. Namun tidak bisa juga membenarkan mereka yang jarang berada dirumah.
Keisyam masuk ke dalam kamar Queen, untuk berpamitan pada dokter Vinno.
"Om, saya pamit pulang dulu, kakak saya berkunjung ke rumah. Jadi saya may menemuinya," kata Keisyam.
"Ya pulanglah, disini ada saya yang menjaga Alesha. Terimakasih kamu sudah menolong Alesha," sahut dokter Vinno.
Keisyam mengangguk, kemudian keluar dari kamar rawat Queen. Keisyam tidak menyadari seseorang telah melihatnya keluar dari kamar rawat Queen dengan tatapan tajam.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1