
Hari seluruh keluarga Horison pergi ziarah ke makan Khanza. Antonio sebisa mungkin menguatkan hati untuk tidak menjadi lemah depan keluarganya. Antonio melakukan ini demi memperbaiki mood princess nya.
"Vierr jika kamu tidak ingin jangan ikut, biarkan aku dan yang lain nemani princess ke makam Khanza," ujar Vinno menyentuh bahu Antonio.
Antonio tidak bergeming, tatapannya lurus ke depan menghadap ke jendela kaca kamarnya yang mengarah ke halaman taman bunga milik Khanza.
"Vierr jangan membuat diri mu lemah dihadapan anak-anak mu, terutama depan princess. Aku tahu saat ini princess tidak baik-baik saja, dia membutuhkan dukungan sepenuhnya dari mu, princess lebih kuat karena ada daddy nya berada disampingnya," papar Vinno tetap berbicara meskipun Antonio belum mengucapkan sepatah kata pun.
"Oh ayolah Vinno! Akulah yang mengajak princess ziarah ke makan Khanza, jika aku tidak ikut maka princess tidak akan pergi tanpa ku," kata Antonio berbalik badan.
"Setidaknya pikirkan perasaan princess jika melihat mu lemah dihadapkan dengan makam Khanza." Vinno memperingati Antonio agar tidak pergi ke makam Khanza bersama mereka.
"Dengar Vinno! Sebelum kau memperingati ku, aku telah lebih dulu memikirkan konsekuensinya, jadi aku akan tetap menemani putri ku kesana untuk memperbaiki moodnya, aku tidak akan membiarkan putri ku terus bersikap pendiam. Aku tidak tahan melihatnya, mungkin dengan ziarah ke makan Khanza putriku bisa menjadi lebih baik," tutur Antonio panjang lebar.
Setelah berbicara panjang bersama Vinno. Antonio keluar dari ruang kerja menemui Queen, melihat apakan putrinya sudah bersiap untuk pergi.
"Daddy ngagetin aja," ungkap Queen ketika melihat pantulan Antonio di cermin rias kamarnya.
"Maaf sayang, apa kamu sudah selesai bersiapnya?" Tanya Antonio.
"Sudah dadd, ayo kita berangkat sekarang." Queen menggandeng tangan Antonio, keduanya melangkah keluar bersama.
"Vierr kau yakin ingin ikut pergi?" Kali Andreas lah yang bertanya pada Antonio untuk memastikan tidak akan terjadi apa-apa.
"Papa tenang saja, aku bisa mengusai diriku. Demi princess apapun akan aku lakukan," kata Antonio menyakinkan Andreas.
Selama dalam perjalanan Antonio menyetir sendiri dengan Arsen duduk dikursi samping kemudi menemani. Sedangkan Queen duduk ditengah-tengah antara Arsen dan Rey. Semantara Ghani ikut di mobil Abian bersama Vinno dan Naila. Andreas dan Erina memakai sopir, yaitu Eduard dan Alvaro ikut bersama mereka.
Di kendaraan umum, Rani juga dalam perjalanan ke kota pergi ke pemakaman menemani Salsa cucu tetangga dekat kontrakannya yang ingin ziarah ke makam kedua orang tuanya.
"Bapak Ibu! Salsa rindu sama kalian, mengapa kalian secepat ini meninggalkan Salsa yang masih membutuhkan kalian, sekarang Salsa cuma punya nenek yang harus bekerja banting tulang memenuhi kebutuhan Salsa." Salsa mencurahkan kesedihannya ke makam kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Salsa yang tegar nak! Kamu pasti kuat menghadapi ini, meskipun kedua orang tua mu telah tiada, tante akan menemani. tante sudah menganggap kamu seperti anak sendiri, jadi sungkan meminta apapun ke tante selagi tante mampu memberikan apa yang kamu inginkan," ujar Rani memeluk Salsa mengusap punggung gadis tersebut supaya menjadi lebih tenang.
"Makasih tante, selama ini tante selalu mencurahkan kasih sayang dan perhatian ke aku. Boleh engga aku panggil tante Ibu?" ucap Salsa meminta izin.
Rani menganggu dengan senang hati mengizinkan Salsa memanggilnya dengan sebutan Ibu.
"Makasih Ibu! Salsa sekarang merasa punya Ibu yang akan selalu bersama. Ibu janji ya jangan pernah tinggalin Salsa dalam kondisi apapun." Rani mengangguk.
"Sekarang kita pulang yuk," ajak Rani.
"Ayo Ibu," jawab Salsa bangun dari berjongkoknya. Salsa menggandeng tangan Rani erat, seperti takut kehilangan sosok Ibu yang sangat baik dan pengertian seperti Rani.
Beberapa saat kepergian Rani dan Salsa yang keluar meninggalkan pemakaman, mobil keluarga Horison barusan tiba di area pemakaman. Kini mereka berada di makam Khanza, dimana disamping makam Khanza adalah makam kedua orang tua Salsa yang barusan saja dikunjungi.
Queen menumpahkan air mata saat berada di makam Khanza. Antonio yang berada disamping putrinya, hanya bisa menenangkan dengan sebuah pelukan, bibir Antonio kelu untuk membuka suara mengatakan sesuatu. Sekuat tenaga Antonio tidak keliatan lemah dihadapan anak-anaknya.
Setelah selesai mengirimkan doa untuk Khanza. Tiba-tiba saja angin berhembus menerpa Queen, membuat gadis itu merasakan kehadiran Khanza didekatnya. Tanpa sadar Queen berteriak nyaring memanggil Khanza.
"MOMMY!!"
"Princess!!"
Semua keluarga kompak memanggil Queen, mereka mengejar Queen yang entah terus berlari.
"Awshh mommy tungguin aku," ringis Queen terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri.
"Princess!!" teriak Arcell saat melihat Queen terduduk di tanah.
"Abang aku ngerasakan kehadiran mommy barusan, pasti mommy ada disini. Ayo abang kita cari mommy, aku yakin mommy masih hidup." Queen mengatakan dengan percaya diri.
"Stop!! Princess berhenti berhalusinasi bahwa mommy masih hidup, mommy sudah tiada sayang. Kamu harus terima itu," tekan Arcell merendahkan nada bicaranya.
__ADS_1
"Enggak! Aku sangat yakin mommy masih hidup, mengapa kalian tidak bisa percaya dengan ku. Aku bisa merasakan ikatan batin dengan mommy, mommy hanya berada disuatu tempat," bantah Queen.
"PRINCESS BER-"
"Arcell berhenti, jangan membentak princess. Minggir kamu, biar daddy yang gendong, redakan emosi kamu, jangan sampai perkataan mu menyakiti princess." Sergah Antonio menghentikan kalimat Arcell, jika terlambat makan kalimat Arcell akan melukai perasaan princess nya.
"Daddy percayakan sama aku, aku benaran ngerasain mommy masih hidup. Aku yakin mommy berada di suatu tempat," ucap Queen yang berada dalam gendongan Antonio, tidak berhenti menyakinkan Antonio.
"Kita pulang ya, nanti saja kita bahas ini," ucap Antonio lembut, membawa masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan pulang Queen tertidur, karena kelelahan menangisi Khanza. Bahkan dalam tidurnya saja Queen masih mengigau menyebut nama 'Mommy'.
Kini Queen telah dibaringkan ke ranjang, seluruh anggota keluarga berada dalam kamar Queen untuk melihat keadaan Queen.
"Queen cuma butuh istirahat, sebaiknya kita biarkan Arsen saja yang menemaninya di kamar," ujar Vinno melihat Queen yang menggenggam erat tangan Arsen.
Mereka semua keluar membiarikan Arsen menemani Queen di kamar. Arsen sendiri merasa sesak setiap mendengar Queen terus berharap mommy mereka masih hidup.
"Sayang ini sudah hampir satu tahun kepergian mommy, mengapa kamu begitu sulit mengikhlaskan kepergian mommy. Abang gak tega liat kamu terus berhalusinasi bahwa mommy masih hidup." Gumam Arsen, mengusap kepala Queen dengan lembut.
"Mommy." Igau Queen.
"Dalam tidur saja kamu masih menyebut mommy, sebegitu rindu kah kamu dengan kehadiran mommy, ternyata mengajak mu pergi ke makam tidak membuat bisa mengikhlaskan kepergian mommy. Malah semakin membuat mu berharap mommy masih hidup, abang pun sama seperti mu sayang, abang rindu dengan mommy, tetapi abang harus ikhlas kalau mommy sudah tiada."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1