
Liam menyusuri lorong sekolah, kepala celingak celinguk mencari keberadaan Meldy. Ada sesuatu yang harus dia bicarakan dengan perempuan tersebut.
"Disini ternyata lo hem! Mau kabur kemana lagi lo?"
"Li-liam lo ngapain pindah sekolah disini?" Tanya Meldy gugup, bertemu dengan teman yang selalu dihindarin.
"Menyelesaikan masalah lo. Alex harus tau siapa lo sebenarnya, wanita busuk," tekan Liam diakhir kalimat, langkahnya terus maju menghimpit Meldy ditembok.
"Liam, gue mohon, tolong jangan beritahu Alex. Gue mencintainya, begitu pula sama halnya dengan Alex yang mencintai gue," ujar Meldy menatap Liam, berharap cowo didepannya luluh.
"Lo pikir gue bodoh heh! Lo tuh ga pantes sama sahabat gue, cewe murahan." Liam mencengkram bahu Meldy kuat, tak perduli wanita itu kesakitan.
"Sa-sakit," cicit Meldy.
"Ini gak seberapa dengan rasa sakit yang lo lakuin ke salah satu gadis disekolah kita dulu. Gara-gara lo dia merenggang nyawa, gue belum sempat nyatain perasaan gue sama dia," berang Liam, menatap nyalang pada Meldy. Satu tamparan lolos mengenai wajah wanita tersebut sampai wajahnya tertoleh ke samping.
'Plak'
"Rasanya gue ke pengen ngehabisin lo sekarang, tapi gue masih ada otak untuk melakukan secepat itu. Lo malah keenakan mati tanpa kesakitkan, jadi gue putusin mau nyiksa lo perlahan-lahan, sampai lo milih antara hidup dan mati haha." Liam tertawa sumbang, tangan mengelus wajah merah Meldy.
"Liam gue bukan pembunuh, asal lo tahu dia mati akibat overdosis," tukas Meldy.
"Semua itu karena lo sialan," sahut Liam beralih mencengkram rahang Meldy.
"Liam lepasin gue." Meldy memohon minta dilepaskan, mata wanita itu berair.
"Pergi lo cepat sebelum gue berubah pikiran." Liam melepas kasar cengkramannya.
"Ini baru permulaan Meldy, gue bakal buat lo sengsara. Membalas perbuatan yang udah lo lakuin ke gadis yang gue cintai." Liam lalu pergi ke kelas, dia tak bisa menyambangi Alex dkk ke kantin dalam keadaan dirinya tengah dikuasai emosi tinggi.
Semantara di dalam toilet khusus perempuan, Meldy membasuh wajahnya, dipantulam cermin dia bisa melihat pipinya memerah bekas tamparan Liam.
"Keterlaluan, dasar Liam brengsek!" Umpat Meldy mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Gue harus menyingkirlah Liam, gimana pun caranya. Dia cuma perusak hubungan gue sama Alex." Meldy memutar otak menyusun sebuah rencana membuat Liam balik ke tempat asalnya.
🥀
Tinn...tiinnn
Alex sengaja menghentikan mobil di depan halte, saat matanya menangkap sosok gadis yang belum mau didekati olehnya. Alex menurunkan kaca jendela mobil.
"Ayo masuk, biar gue anterin lo pulang," kata Alex, sayangnya omongan tak di gubris sama sekali oleh gadis tersebut. Bahkan gadis itu pura-pura tak melihat kehadirannya.
"Princess!" Seru seseorang yang Alex kenali suaranya, Alex menaikan kaca mobilnya. Dia lantas turun dari mobil untuk menyapa pemilik suara tersebut.
"Halo om, tante. Apa kabar?" sapa Alex seraya menanyakan kabar keduanya.
"Kami baik nak, apa kau tadi yang menawari mengatar Alesha pulang?" Tanya Khanza, sedangkan Antonio cuman diam, begitupun Queen sama halnya dengan sang daddy. Queen memeluk pinggang daddynya, menyembunyikan wajah di dada bidang daddynya, dia enggan menantap Alex.
"Iya tante, tadi saya pikir tidak ada yang menjemput Alesha jadi saya menawarkan untuk mengantar pulang," jawab Alex sopan.
"Honey ayo kita segera pulang," ajak Antonio.
"Baik tante akan saya sampaikan ke ayah bunda," kata Alex, hati berbunga-bunga mendapatkan kesempatan langka ini.
Setelah itu Alex masuk ke dalam mobilnya, untuk langsung pulang ke rumah. Berganti pakaian dan pergi ke kantor, membantu ayahnya.
"Honey kamu ngapain undang Alex makan malam di tempat kita," ujar Antonio, saat mereka dalam perjalanan pulang ke mansion Horison.
"Emang kenapa sih Mas? Meskipun Mas tidak menyukainya, bisa dibilang belum. Setidaknya jangan memutuskan tali silaturahmi dengan keluarga Alastar, jadi atau tidak perjodohannya," ujar Khanza bijaksana.
"Jelas, tidak akan pernah terjadi," tegas Antonio.
"Princess jangan sampai terpengaruh oleh Alex. Ingat dia udah nyakitin kamu nak, daddy sulit menerima tindakan lelaki itu. Daddy minta princess jaga jarak, kalau dia mendekati mu, langsung pergi saja ya sayang," pesan Antonio pada putri tersayangnya.
Queen mengangguk dalam pelukan Antonio.
__ADS_1
🥀
Di kota lain seorang gadis tengah berkemas, besok dia akan berangkat ke kota Jakarta untuk melanjutkan sekolah disana, dia benar-benar sangat bahagia bisa berdekatan dengan Ibu angkatnya.
"Salsa," panggil Bu Tini di pelantara rumah.
"Masuk saja nek, pintunya gak Salsa kunci," sahut Salsa dari dalam yang masih sibuk.
Bu Tini lantas masuk ke dalam rumah, dia berjalan kearah pintu kamar yang terbuka.
"Salsa mau kemana nak? Kok bawa banyak tas," ujar Bu Tini bertanya, dia belum mengetahui bahwa Salsa akan pindah.
"Sini nek, duduk dulu," kata Salsa mempersilahkan Bu Tini duduk didekatnya.
"Salsa mau pindah ke Jakarta nek, tingga sama Ibu Khanza. Salsa dibiayain sekolah disana, Salsa senang banget bisa dekat lagi sama Ibu. Nenek selama Salsa tinggal jaga kesehatan ya nek, sama kakek juga. Jangan terlalu lelah bekerja, Salsa menyayangi kalian berdua, kalian sudah Salsa anggap kaya nenek dan kakek kandung." Papar Salsa memeluk Bu Tini erat.
"Nenek juga menyayangi nak, sesekali pulang lah tengokin kami ya nak."
"Pasti nek, Salsa akan nengokin kalian."
"Ayo makan ke sebelah, kakek udah nungguin," ajak Bu Tini.
"Tunggu bentar ya nek."
Salsa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, lalu mengikuti Bu Tini ke sebelah. Mereka makan bertiga, Salsa selalu makan bersama dengan Bu Tini dan Pak Tono, mereka adalah orang baik yang Salsa sayangi.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1