BELOVED

BELOVED
Episode 97.


__ADS_3

Salsa sudah ada di depan mansion Horison, dengan menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari stasiun KRL. Begitu pula dari Bogor - Jakarta memakan waktu perjalanan 1 jam 40 menit.


"Ibu Khanza beruntung memiliki suami kaya, bisa menikmati kemewahan. Aku rindu dengan hidup ku sebelum mama dan papa meninggal," gumam Salsa memandangi bangunan mewah didepannya, sungguh dia sangat kagum Ibu angkatnya ternyata orang kaya.


Salsa menekan bell gerbang, tak selang lama gerbang dibuka. Berdirilah seorang bodyguard berpakaian hitam dengan lambang huruf H emas yang melekat di pakaian seorang bodyguard.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya bodyguard menantap curiga pada gadis didepannya.


"Eum sa-saya ingin bertemu Ibu Khanza, apa beliau ada di dalam?" Salsa balik bertanya dengan kepala menunduk, dia takut menatap pria berbadan kekar dihadapannya.


"Ada kepentingan apa mencari nyonya saya?"


"Sa-saya anak angkatnya dari Bogor, bisakah bapak memanggilkan Ibu Khanza. Katakan saja ada Salsa, beliau pasti mengenali saya," pinta Salsa sopan.


"Tunggulah disini, saya akan menemui nyonya sebentar." Bodyguard itu melangkah menuju pintu utama, kebetulan disana ada Eduard yang lagi memanaskan mesin mobil.


"Pak Eduard maaf saya mengganggu anda, diluar ada seorang gadis mengaku sebagai anak angkat nyonya Khanza dan minta bertemu beliau. Bisakah anda yang menyampaikan langsung pada nyonya," ujar Bodyguad itu menjelaskan.


"Heum, sebentar. Suruh gadis itu masuk." Eduard lantas masuk mencari keberadaan Khanza di dalam.


"Nyonya diluar ada seorang gadis mengaku sebagai anak angkat anda," lapor Eduard.


"Itu pasti Salsa, suruh dia langsung masuk saja," perintah Khanza.


"Honey siapa yang bertamu masih pagi seperti ini?" Tanya Antonio yang baru saja keluar dari lift bersama si kembar Arcell Arsen.


"Ada Salsa Mas diluar, makanya aku suruh masuk," jawab Khanza.


"Salsa? Ada kepentingan apa gadis itu ke mansion kita mom?" cerca Arcell mengambil tempat duduk berhadapan dengan Khanza.


"Oh yaampun kita lupa memberitahu anak-anak Mas, kalau Salsa bakal pindah sekolah ditempat princess." Khanza menepuk dahi melupakam hal penting ini pada anak-anaknya.


"Memang siapa Salsa?" Kini Arsen yang angkat suara, dia baru kali ini mendengar nama gadis itu disebut, jadi dia tak tahu siapa orangnya.


"Dia gadis yang telah menemani mommy selama hilang ingatan, dia juga yang menyemangati mommy agar tetap kuat menjalani hidup." Khanza menjelaskan secara singkat saja.


"Honey mengapa kau suruh dia ke mansion, kenapa tidak langsung ke apartemen saja," sambung Antonio, tak suka gadis itu menginjak mansion Horison.


"Mas kok gitu sih ngomongnya, biarin Salsa sehari saja menginap disini," sahut Khanza, jika Salsa mendengar omongan suaminya, pasti gadis itu akan sakit hati.

__ADS_1


"Kesepakatan kita kemaren honey, dia boleh sekolah disini, asalkan tinggal diapartemen. Mas tidak ingin menambah anggota keluarga baru," tandas Antonio, lelaki itu melihat Salsa bersembunyi ditembok, namun dia tak perduli perkataannya menyakiti gadis itu, malah semakin bagus gadis itu mendengarnya agar tau diri.


"Aku suka gaya daddy, ternyata bukan cuma aku saja yang tidak menyukai kehadiran gadis itu daddy pun sama." Batin Arcell tersenyum miring.


"Mas stop, aku tidak minta Salsa masuk kedalam anggota baru keluarga kita. Aku hanya minta untuk semalam saja dia menginap disini, kasihan dia Mas. Dia cuma sebatang kara sekarang, Mas aku cuma minta pengertian kamu," ujar Khanza menghentikan suaminya.


"Terserah kamu, Mas cuma minta satu hal. Jangan mengabaikan princess kita, demi memberi perhatian untuk orang lain," pesan Antonio mencium kening istrinya.


"Mas berangkat, kamu gak usah antar Mas sampe luar cukup duduk disini." Antonio mencegah Khanza saat istrinya ingin bangkit mengantarnya ke depan pintu.


"Aku juga berangkat mom." Arcell menyalami punggung tangan Khanza, serta mencium pipi sang mommy.


"Arsen juga langsung ke rumah sakit, ada beberapa operasi. Mungkin nanti malam aku agak telat datang makan malam, atau bisa gak datang mom. Jadi gak usah nungguin aku ya mom," ujar Arsen melakukan hal yang sama dilakukan kembarannya Arcell.


"Arsen kalau waktunya istirahat, harus rehat ya nak. Mommy perhatikan kamu sibuk sekali dirumah sakit, sesekali luangkan waktu untuk keluarga terutama untuk princess. Princess sering ngeluh tiap makan malam, sarapan pagi, gaada abang Arsen. Princess kaya merindukan keberasamaan sama kamu nak," tutur Khanza mengungkap keluhan putrinya.


"Weekend biar aku ajak princess jalan-jalan mom," kata Arsen.


"Harus, atur waktu mu sebaik mungkin," ucap Khanza.


Antonio yang melewati Salsa menghentikan langkah di depan gadis itu, tatapan sinis ditunjukkan Antonio terang-terangan.


Sesudah berbicara Antonio lantas melanjutkan langkah bersama Arcell yang berada dibelakang. Arcell cuma melewati Salsa, enggan menyapa gadis itu. Sedangkan Arsen yang terakhir, hanya diam saja tanpa menyapa, Arsen tidak asal bersikap ramah, dia harus mengenal dulu orang tersebut baik atau tidak.


"Salsa, kesini nak. Jangan berdiri disana, ayo duduk dekat Ibu," seru Khanza menyuruh Salsa agar mendekat.


"Kamu sudah sarapan belum? Kalau belum ayo sarapan dulu," ucap Khanza lembut.


"Sudah tadi bu, sebelum naik kereta aku sarapan roti," kata Salsa.


"Roti mana kenyang nak, sarapan nasi mau ya," tawar Khanza.


Salsa tidak enak menolak tawaran Khanza, akhirnya dia memilih mengangguk.


"Mba Yunia, tolong barang-barang Salsa bawa ke kamar tamu," pinta Khanza.


"Makasih Mba," ucap Salsa.


Kemudian Salsa duduk dimeja makan bersama Khanza. Salsa memakan apa yang telah disiapkan oleh Khanza. Usai makan Khanza menyuruh Salsa langsung istirahat saja.

__ADS_1


🥀


Di meja makan, semua orang tampak menikmati hidangan makan malam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka bukan makan malam biasa, tetapi makan malam bersama keluarga Alastar.


"Kak Salsa kalo mau nambah, silahkan. Jangan sungkan ya kak, anggap aja kaya makan dirumah sendiri," bisik Queen ke telinga Salsa, kebetulan mereka duduk berdekatan.


"Iya Sha," sahut Salsa dengan suara kecil.


Mata keempat orang pria tak lepas memandang kedua gadis yang duduk saling berdekatan, pandangan mereka berbeda-beda.


Setelah usai makan malam mereka berkumpul diruang tamu untuk mengobrol ringan. Sampai tidak terasa jarum jam terus berputar menunjukan pukul 22.00 malam. Keluarga Alastar pamit untuk pulang, bahkan Alex belum bisa mendekati Queen hanya untuk sekedar mengajak gadis itu bicara berdua.


"Tidak papa ini hanya awal, aku yakin sebenta lagi Alesha akan jatuh kepelukannya." ucap Alex dalam hati dengan rasa percaya diri tinggi.


"Terimakasih untuk undangan makan malamnya Antonio Khanza. Kapan-kapan kalian yang ketempat kami untuk makan malam bersama," ujar Deon.


"Dengan senang hati Deon kami tunggu undangannya," kata Antonio.


"Khanza kapan-kapan kita quality time berdua ya," ajak Nafisa.


"Oke kak Fisa, aku selalu ada waktu, kabarin saja nanti," ucap Khanza.


Khanza dan Nafisa berpelukan, Nafisa menganggap Khanza seperti adiknya sendiri. Karena umur mereka beda lima tahun.


"Ayah Bunda, hati-hati dijalan ya," kata Queen memeluk keduanya bergantian, tapi tidak sedikitpun melirik Alex.


"Bro, nyetirnya jangan ngebut, ingat bawa orang tua," pesan Rey, hanya Rey yang masih bersikap baik pada Alex. Sebab Alex adalah sahabat baiknya, mungkin adiknya memang tidak berjodoh dengan Alex.


Alex mengangguk sebagai jawaban, kemudian melirik Queen sebentar, sebelum mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan area mansion Horison.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.


Yuk follow ig author : @dianti2609


 

__ADS_1


 


__ADS_2