
Tak kunjung mendapat sahutan, kini Antonio yang mencoba mengetuk pintu lebih keras seperti menggedornya supaya Arcell mendengarnya dan barangkali membuat Arcell terbangun.
"El bangun, ini sudah pagi." Seru Antonio lebih keras.
"Daddy gimana ini abang kok gak nyahut panggilan kita. Aku khawatir abang kenapa-kenapa," tukas Queen diserang kepanikan, bagaimana tak panik Arcell tidak biasanya kesiangan, kalau kesiangan berarti terjadi sesuatu dengan Arcell. Gimana mereka bisa mengetahui keadaan Arcell, kalau pintu kamarnya dikunci.
"Tenang sayang, daddy yakin abang mu baik-baik saja. Paling tadi malam Arcell pasti mengerjakan pekerjaan kantor, kamu pasti tahu gimana abang mu itu tak bisa lepas tanggung jawab dari kantor, padahal daddy sudah sering mengingatkan untuk tidak terlalu bekerja keras," papar Antonio seraya memijit keningnya merasa sedikit pusing, mencoba tidak ikutan panik seperti putrinya namun tidak bisa menyangkal bahwa sekarang ia juga diserang panik.
Sedangkan orang yang punya kamar masih bergelung dalam selimut. Semalam setelah kembali dari kamar Queen, Arcell mencoba memejamkam mata. Namun mata Arcell benar-benar tak bisa diajak kompromi, hingga membuatnya terpaksa mengerjakan beberapa pekerjaan kantor dan baru bisa tidur usai shalat subuh.
"ARCELL KALO TIDAK BANGUN JUGA, DADDY BAKALAN DOBRAK PINTU MU DALAM HITUNGAN KETIGA."
"Satu, dua, tig-"
"Daddy, princess! mengapa pagi-pagi menganggu ku, aku baru bisa tidur setelah sholat subuh dan sekarang aku masih mengantuk, tolong biarkan aku tidak beberapa jam lagi," ucap Arcell, meski dalam kondisi mata yang belum sepenuhnya terbuka lebar, tetapi Arcell masih bisa bicara normal.
"Abang!" Queen lantas memeluk Arcell dan menyentuh wajah abangnya memeriksa hangat atau tidak.
"Syukurlah abang gak demam. Aku khawatir sama abang tumben banget bangun telat, biasanya kan abang paling on time," ucap Queen memeluk erat Arcell.
"Abang baik-baik saja sayang, abang cuma banyak pikiran," kekeh Arcell seraya berkata jujur dan membalas pelukan princessnya.
"Apa yang kamu pikirkan El? Kantor sudah ada Satya dan Batara yang handle, jangan terlalu memforsir atau kau akan sakit. Satu lagi jangan berkerja disaat kita liburan, daddy tak suka. Jika kau mau bekerja lebih baik pulang saja," desah Antonio kesal dengan putranya satu ini, susah sekali dibilangi. Selalu saja dimanapun pekerjaan dibawa.
"Maaf dadd, pekerjaan sudah aku selesaikan. Sekarang aku tidak ada mengerjakan apapun lagi, dan akan bersenang-senang selama liburan," ungkap Arcell merasa bersalah karena tetap membawa pekerjaannya.
"Baguslah kalau begitu jangan sampai daddy tau kamu masih mengerjakan hal lainnya atau kau akan mendapatkan hukuman," peringat Antonio.
__ADS_1
"Sekarang mandilah, daddy tunggu di meja makan. Sehabis sarapan kita jalan-jalan ke kebun teh."
Antonio menarik lembut putrinya dari pelukan Arcell. Kemudian mereka menunggu Arcell di meja makan, dimana Antonio bisa melihat putranya Rey telah sarapan lebih dulu, tanpa menunggu anggota mereka lengkap. Antonio cuma bisa menggeleng-gelangkan kepala melihat kelakuan Rey.
"Daddy, maafkan aku sarapan duluan. Perut ku ga bisa diajak kompromi, tapi makanan gak aku habisin kok dadd," tukas Rey menatap daddy yang terlihat pasrah menghadapinya.
"Ya, daddy maafkan karena makanannya tidak kamu lahap semua. Kalau saja habis kamu yang daddy suruh memasak, tidak perduli kamu bisa atau tidak," kesal Antonio tapi tidak bisa mengamuk meluapkan emosi, sebab ini adalah liburan putrinya, jadi suasana harus bagus. Meskipun ia rela menyetok banyak kesabaran demi kebahagian princess kesayangan.
Queen lantas mendekati Rey dan memeluk abang nya tersebut. "Abang gak perlu minta maaf, aku mengerti abang pasti kelaparan jika harus menunggu abang El. Aku juga engga marah kalau abang makan duluan tanpa menunggu kita, jadi abang gak perlu minta maaf sama daddy." Tuturnya.
Rey tampak merasa senang mendapatkan pembelaan dari princess nya. Mata Rey beralih pada sang daddy yang memberikan tatapan tajam ke arahnya, tapi Rey hanya membalas tatapan daddy nya dengan sebuah senyuman manis.
Semantara ditempat lain Batara bangun lebih pagi dari biasanya. Pria itu menerima telpon tadi malam dari sang atasan yang memerintahkan dia melaksanakan sebuah tugas. Batara berangkat ke puncak pagi sekali, dimana langit masih gelap.
Batara menempuh perjalanan dua jam untuk sampai kesana, kini Batara telah berada di lokasi yang sudah dikirim bossnya. Batara menyusuru jalanan setapak dan meninggalkan mobilnya di jalan yang sepi. Batara bisa melihat sebuah warung disana, dia lekas menghampiri warung yang baru buka, sekalian numpang beristirahat disana.
"Hem kopi saja, gulanya sedikit," ujar Batara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ditunggu sebentar ya mas," kata Salsa berjalan ke dapur memanggil Rani, sebab dia tak tau cara menyeduh kopi.
"Ibu ada yang pesan kopi, Salsa engga tau cara buat kopi," ujar Salsa berkata jujur. Batara yang memainkan ponselnya masih bisa mendengar gadis yang tadi bertanya padanya.
"Tolong bantuan Ibu angkatin ini kedepan, biar Ibu yang bikinkan kopi." Rani lekas ke depan, lalu membuatkan kopi pesanan orang yang duduk di meja panjang yang tersedia diwarungnya. Hanya ada satu meja panjang saja, jika penuh orang harus mengantri.
"Ini mas kopinya silahkan diminum." Rani meletakan kopi di depan Batara.
"Iya makasih bu-Khan." Batara sontak terperangah dan buru membukan galeri ponselnya untuk memastikan apakah wanita didepan sama dengan yang ada di foto dikirimkan oleh bossnya.
__ADS_1
Batara memperhatikan wajah tersebut seksama, "Benar dia adalah Ibunya tuan Arcell, yang membedakan wajah wanita di depan ku ini terdapat luka bakar di rahang pipi dan lengan kanan kirinya." Ucapnya dalam hati.
"Mas mengapa menatap saya segitunya? Apa mas ini mengenal saya ya, jika mas mengenal saya tolong beritahu keluarga saya untuk datang kesini," ucap Rani berharap pria didepan mengenalnya.
Alih-alih mengangguk, Batara malah menggeleng. "Saya hanya pernah melihat Ibu, tapi saya lupa dimana. Memangnya Ibu sedang terpisah dengan keluarga?" Tanyanya ingin mengetahui sesuatu lebih dulu sebelum memberitahu bossnya kabar yang didapatkannya.
"Ya mas, saya hilang ingatan hampir satu tahun. Saya tidak mengingat keluarga saya sedikitpun, saya cuma selalu diberi mimpi tentang seorang gadis yang kerap memanggil saya mommy, namun wajah gadis itu tidak jelas dalam mimpi saya." Rani akhirnya bercerita, entah apa yang membuat seperti ingin saja memberitahu pria di depannya. Seolah dia merasa akan dipertemukan segera dengan keluarganya.
"Mengapa anda bisa hilang ingatan bu? Apa terjadi sesuatu dengan anda sebelumnya, maksud saya apa anda pernah mengalami kecelakaan," ujar Batara bertanya penuh hati-hati, takutnya wanita didepan curiga.
Rani mengangguk, "Ibu sama bapak angkat saya bilang, waktu itu saya berlari dijalan raya, lalu ada sepeda motor yang menabrak hingga kebentur. Mereka menyelamatkan saya dan membawa saya ke gubuk mereka dan mengobati luka saya. Ketika terbangun saya benar-benar tidak mengingat apapun." Paparnya.
Saat Rani selesai bercerita ponsel Batara berdering, membuat Batara langsung melihat siapa yang menelpon, ketika melihat nama bossnya Batara segera mengangkatnya.
"Boss saya menemukannya."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1