
"Vinno tolong jelaskan mengapa princess bisa masuk rumah sakit lagi? Aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan dari kami, jangan pernah merahasiakan apapun dariku menyangkut princess. Aku tidak akan pernah memaafkan mu kalau sesuatu terjadi pada putriku dikemudian hari. Jadi jujurlah kali ini padaku, tentang keadaan putriku yang sebenarnya. Aku berhak tau penyakit putriku, karena aku adalah daddynya.à" Antonio mengintimidasi Vinno agar mau berkata jujur padanya. Antonio merasa penyebab putrinya masuk rumah sakit gara-gara kelelahan sudah tidak wajar.
Jika ada jurus menghilang, mungkin Vinno sudah menghilang dari ruangan ini. Tatapan tajam Antonio yang mengintimidasi dirinya, sungguh mengerikan. Ini pertama kali Vinno merasa bersalah seumur hidupnya.
"Aku anggap diam mu adalah benar, kau menyembunyikan sesuatu soal penyakit putriku," ujar Antonio dengan nada tinggi.
"Pelankan suara Vierr! Sepertinya aku memang tidak punya pilihan selain harus memberitahu mu tentang itu. Tapi ku mohon berjanjilah kau harus berpura-pura di depan princess, bahwa kau belum mengetahui tentang penyakitnya," papar Vinno.
"Ya, aku akan melakukan itu," jawab Antonio mantap.
"Aku akan menceritakan, tapi kau tidak boleh memotong. Sekali kau potong, aku tidak mau melanjutkannya," kata Vinno.
"Hem, cerita saja aku tidak akan menyela sedikitpun," balas Antonio.
"Kau masih ingat kecelakaan 10 bulan yang lalu, dari kelima anak-anak kita. Rey lah yang terluka parah, Rey mengalami kerusakan ginjal, kami berusaha mencari ginjal yang cocok untuknya, tetapi kami belum dapat menemukan, semantara Rey harus segera dioperasi. Queen tau mengenai Rey saat itu, Queen menyalahkan dirinya atas kecelakaan itu, ditambah lagi Arcell mengamuk dan ikut menyalahkan. Dia sangat tertekan, sehingga dia mendatangi ku. Kau tau apa yang dikatakan, dia bersedia menjadi pendonor untuk saudaranya, dia tidak ingin kehilangan lagi. Aku menolak keinginannya, tapi apalah daya, dia tetap kekeh ingin menjadi pendonor. Pada saat itu yang menangani operasi adalah dokter Asyraf. Sampai hari ini tim ku belum menemukan pendonornya."
Antonio menangis tanpa suara mendengar cerita Vinno. Ia menjambak rambutnya sendiri, mengapa hal seperti ia harus tidak tahu.
Antonio bangkit menarik kerah kemeja Vinno, dia menatap nyalang adik kandungnya, yang dengan tega menyembunyikan penyakit serius putrinya.
"Mengapa tidak dari awal kau memberitahuku sialan! Kau mau putriku mati dulu baru kau menceritakan ini," berang Antonio melampiaskan kemarahan pada Vinno.
"Bagaimana aku bisa menceritakan ini, sedangkan posisi ku saat itu terikat janji. Dan hari ini aku mengingkari janji ku, kau tau Vierr aku sangat merasa bersalah sampai hari ini, merahasiakan ini dari kalian semua." Vinno menekan suaranya.
Tubuh Antonio luruh ke lantai, "Aku merasa gagal melindungi putriku, aku pergi meninggalkan dia berbulan-bulan, semantara dia menahan rasa sakitnya." Antonio mengusap kasar rambutnya.
"Vinno lakukan operasi dan ambil saja ginjal ku, aku tidak akan bisa kehilangan putriku. Hidupnya masih panjang, dia harus bahagia, sudah banyak penderitaan yang dialaminya. Jika aku yang merenggang nyawa itu tidak masalah, aku sudah tua," kata Antonio tanpa memikirkan apa yang terjadi kedepannya, jika dia tiada.
Vinno mendorong kuat Antonio hingga pria itu jatuh terduduk di sofa, "Kau gila heh, kau pikir kematian mu tidak masalah bagi kita semua. Dimana letak otak mu Vierr, bodoh sekali bisa-bisanya kau berpikiran sempit seperti itu. Mana Antonio Xaviero yang cerdas? Jika kematian mu bisa mengembalikan kehidupan Queen seperti semula dan kebahagiaannya, dengan senang hati aku akan lakukan operasi transplantasi ginjal itu." Emosi Vinno meluap begitu saja, lalu melanjutkan omongannya.
"Sayangnya tidak, kau sama saja membunuh Queen secara perlahan. Kau mau meninggalkan Khanza semudah itu, disaat kalian baru saja berkumpul bersama. Sudahlah Vierr lebih baik kita berpikir jernih, agar bisa segera menemukan pendonor yang cocok untuk Queen." Vinno duduk memijit kepala yang tiba-tiba pening memikirkan tindakan saudara dalam mengambil keputusan.
__ADS_1
"Berapa lama lagi Vinno, putriku sudah sangat sekarat." lirih Antonio.
Vinno menepuk pundak Antonio, "Aku berjanji akan segera menemukan pendonornya. Princess kita kuat, dia akan tetap terus hidup bersama kita."
"Siapa saja yang tahu penyakit princess?" Tanya Antonio.
"Hanya kau saja, yang lain belum ada yang tahu soal ini," jawab Vinno.
"Sepertinya akupun tidak bisa memberitahu Khanza dan yang lainnya. Termasuk Rey, jika dia sampai tahu princess yang menjadi pendonornya waktu itu. Rey pasti sangat menyalahkan dirinya." Ujar Antonio.
Dibalik pintu ruang kerja Vinno, seseorang telah mendengar pembicaraan antara keduanya.
"Jadilah penyebab princess ku sering masuk rumah sakit. Bukan sekedar demam biasa dan kelelahan. Tapi ginjalnya hanya satu, kenapa aku bodoh sekali percaya omongan papa, padahal aku ini dokter, tapi aku tidak tahu mengenai penyakit princess ku."
🥀
Gadis yang tengah terbaring tidak sadarkan diri, kini sudah siuman beberapa menit yang lalu. Gadis itu bangun bersandar dikepala ranjang, sedari tadi ia terus menanyakan keberadaan daddynya yang belum juga kembali dari ruangan papanya.
"Mommy kenapa daddy lama banget diruangan papa. Memang sepenting apa sih pembicaraan mereka, aku mau daddy mommy," rengek Queen, ia tidak akan makan jika Antonio belum berada disampingnya.
"Sabar sayang bentar lagi daddy juga datang, kamu makan dulu ya mommy suapin," bujuk Khanza, namun Queen yang keras kepala menolak makan sebelum melihat Antonio.
"Rey, susul daddy keruangan papa mu. Seret daddy ke kamar rawat sekarang. Bilang putri manjanya engga mau makan," seru Khanza menyuruh putranya yang tengah asik bermain game sembari berbaring di pangkuan Kirana.
"Suruh abang El aja mom, aku lagi sibuk," sahut Rey enggan menyusul Antonio.
"Rey yang mommy suruh itu kamu, bukan abang mu. Sekarang susul daddy mu atau ponsel mu mommy sita," ancam Khanza, dengan ogah-ogahan Rey bangun dari berbaring nyamannya.
Queen tertawa melihat wajah Rey yang terpaksa. Rey paling tidak bisa diancam soal ponsel.
"Arsen kok langsung kesini, gak istirahat aja dulu diruangan kamu nak. Kamu pasti capek habis melakukan banyak operasi hari ini," kata Khanza lembut saat melihat putra baru masuk ke kamar rawat princess.
__ADS_1
"Nanti saja aku istirahatnya mom, aku mau liat keadaan princess dulu," ucap Arsen menyambangi ranjang princessnya dan memeluknya.
"Gimana keadaan kamu sayang. Apa yang kamu rasakan sakit?" Tanya Arsen seolah-olah tak tahu.
"Aku baik abang, abang naik sini. Istirahat diranjang aku aja, ranjang aku kan luas, muat berdua. Aku tau abang juga capek, kalau abang enggak mau istirahat diruangan abang, mending disini aja," usul Queen memberikan solusi.
Arsen mengangguk, kemudian naik keatas ranjang lalu berbaring disamping Queen. Melihat senyum adiknya, dada Arsen seperti diremas kuat, dia ingin menangis saat ini juga. Bagaimana bisa adik kecilnya ini mengorbankan nyawanya demi adik laki-lakinya.
Tangan Khanza begerak mengusap kepala Arsen, supaya putranya merasa lebih nyaman.
"Daddy!" Seru Queen kegirangan melihat Antonio muncul didepan pintu dengan Vinno dan Rey yang menunjukkan wajah dongkolnya.
"Ada apa sayang, kok bangun-bangun langsung nyariin daddy. Abang Rey juga bilang princess gak mau makan hem," ujar Antonio lembut menciumi wajah putrinya.
"Putri manja mu, cuma mau kamu yang menyuapinya Mas. Jadi sekarang cepat suapin putri mu," sahut Khanza.
"Sekarang princess makan daddy suapin." Queen mengangguk lalu membuka mulutnya menerima setiap suapan dari daddynya.
"Hampir saja aku melakukan kebodohan, untunglah Vinno mengingatkan." Batin Antonio ketika memandang wajah ceria putrinya, apalagi putrinya mencari dirinya saat tidak melihat keberadaannya.
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1