BELOVED

BELOVED
Episode 90.


__ADS_3

Satu bulan sudah Alex berupaya berbaikan dengan Queen dan mendekati gadis itu agar perjodohan mereka tetap dilanjutkan. Semua tindakan yang telah dilakukan sia-sia, gadis itu mungkin menyimpan kebencian untuk dirinya yang brengsek ini. Alex sangat mewajarkan sikap gadis itu padanya, sebab semua ini adalah salahnya. Mungkin Alex harus merelakan kakek Levian pulang semantara waktu.


"Ini sudah satu bulan Alex, apa kau sudah berhasil mendapatkan restu para pria Horison, terutama Arcell dan Antonio." Levian membuka obrolan, setelah mereka usai makan malam.


Alex menggeleng lemah, "Aku sudah berusaha semaksimal mungkin kek, mereka terlalu membenci ku. Bahkan Alesha sulit untuk diajak bicara, semua ini salah ku kek, akulah yang telah memaksa Alesha menolak perjodohan kami waktu itu. Lalu tiba-tiba sekarang aku ingin melanjutkan perjodohan ini, pantas saja dia membenci ku, aku sangat brengsek rupanya." Ungkap Alex mengakuinya.


"Sabar ya nak, memang penyesalan itu selalu datang diakhir. Mangkanya kamu harus berjuang lebih keras lagi, jika Alesha tidak mau melanjutkan perjodohan ini gak masalah, asalkan perbaikin hubungan kalian, itu sangat penting agar silataurahmi tetap terjaga." Bunda Nafisa berpindah tempat duduk dekat putra sulungnya, dia merangkul bahu putranya untuk menguatkan. Dia sendiri bisa merasakan kesedihan putranya.


"Kakek tidak mau tahu, perjodohan ini harus tetap berjalan. Inilah adalah perjanjian antara kakek dan Andreas. Sejak lama kami ingin berbesanan, kakek tidak akan setuju kamu pacaran dengan gadis lain, selain Alesha, kakek menyayangi Alesha, Alesha harus menjadi cucu menantu kakek," tegas Levian. Begitulah seorang Levian Alastar berpegang teguh dengan pendirian.


"Papa mengapa bukan Arthur saja kita jodohkan dengan Alesha, lagian mereka sudah saling mengenal sejak SD. Bahkan bersahabat baik, aku yakin Arthur pasti menerima keputusan kita." Deon buka suara, entah darimana datangmya pikiran itu, dia mengusulkan putra bungsunya untuk menggantikan putra sulungnya.


"Tidak bisa begitu Deon, dari awal memang Alex yang dijodohkan bukan Arthur. Apa kau mau merusak persahabatan Alesha dan Arthur?" Levian bertanya sembari menatap tajam Deon.


"Itu engga akan terjadi pah, aku tahu Arthur sedari dulu menyukai Alesha. Dia masih memendam perasaannya, dia tidak ingin jujur pada kita. Saat dia mengetahui papa menjodohkan Alex dengan sahabatnya. Putra bungsuku melanjutkan pendidikan di luar negeri itu hanya alasan, supaya tidak sakit hati melihat kakaknya bersanding dengan sahabatnya." Deon terpaksa harus mengatakan, Deon sendiri merasa bersalah pada Arthur. Sebab tidak bisa memenuhi keinginan putra bungsunya.


"Jadi akulah penyebab Arthur memilih bersekolah di luar negeri. Mengapa ayah baru bilang sekarang, seandainya aku tahu perasaan adikku mungkin aku akan balik sekolah diluar negeri saja dan masalah ini tidak akan pernah terjadi," tukas Alex, rasa bersalah makin bertambah dua kali lipat. Adik penurutnya harus mengalah darinya.


"Tetap saja perjodohan ini untuk Alex, Deon. Arthur bukan pria pengganti, aku tidak mau cucu ku merasa kita memanfaatkannya. Biarkan Arthur bersekolah disana dengan tenang, suatu hari nanti dia pasti akan bertemu perempuan yang dia cintai. Jadi jangan libatkan Arthur lagi," putus Levian tak suka cucu bungsunya ikut dilibatkan, Levian tak mau mengusik cucunya. Levian seperti itu bukan berarti pilih kasih, kedua cucunya adalah kebanggaannya. Hanya saja memang didalam surat perjanjian mereka Alex lah yang dijodohkan.


"Aku setuju keputusan papa, Mas. Jangan mengkaitkan Arthur, biarkan dia bersekolah dengan tenang disana, kalau Mas menginginkan Arthur kembali kesini, silahkan! Aku sangat mendukung itu, aku ingin kedua putra ku sama-sama bersekolah di Indonesia dan dekat bersama kita. Aku gak mau berpisah lagi dengan salah satu putra ku," tutur Nafisa tak sadar meneteskan air mata.


"Bunda jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkan bunda. Aku juga akan menelpon Arthur, membujuknya agar mau pindah sekolah seperti keinginan bunda kita berkumpul bersama," ucap Alex merengkuh bundanya.

__ADS_1


"Kakek tenang saja, aku akan tetap berusaha membuat Alesha menerima ku lagi," kata Alex, kemudian berdiri menuntun Nafisa. Dia membawa bundanya ke kamar agar beristirahat.


Tak berselang lama, Levian juga memutuskan pergi ke kamarnya. Dia harus mengemas pakaian untuk keberangkatan besok ke LA. Deon juga menyusul istrinya yang diantar putranya ke kamar.


🥀


Keesokan paginya Levian keluar dari kamar dengan assisten pribadinya membawakan kopernya. Alex yang melihat kepergian sang kakek lantas mencegatnya.


"Kakek mau pergi kemana, bawa koper segala," ujar Alex menghadang Levian, berdiri didepan kakeknya.


"Seperti yang kakek katakan satu bulan yang lalu saat dirumah sakit. Bila kamu belum berhasil juga meluluhkan hati Alesha, kakek akan pulang ke luar negeri," ujar Levian santai seraya bersedekap dada memandang cucunya.


"Aku kan sudah bilang, kalau aku bakalan berusaha lebih keras lagi. Aku mohon kakek jangan pulang," pinta Alex.


"Papa benaran mau pulang ke luar negeri? Nafisa khawatir papa disana, tidak ada yang mengurus. Belum lagi papa gak boleh sampai telat makan dan makan makanan sembarangan, ingat penyakit lambung papa," kata Nafisa mengingatkan papa mertuanya.


"Kau memang menantu yang pengertian dan paling perhatian. Papa senang anak brandal papa mendapatkan istri seperti mu, kamu sudah papa anggap seperti anak sendiri." Levian memeluk menantunya, membuat Deon mendelik pada papanya tak suka istrinya dipeluk demikian.


"Sudah pah, lepaskan pelukan papa dari istriku." Deon mendekat mengurai pelukan keduanya.


"Kau masih saja cemburuan, pada papa mu. Diumur mu yang sudah matang tidak pantas lagi rasanya cemburuan," tukas Levian menepuk pundak putra semata wayangnya.


"Papa juga tidak pantas lagi ngambekan pada cucu sendiri. Lagian putra ku tidak diam saja pah, dia masih terus berjuang untuk mendapatkan hati Alesha. Lalu mengapa papa malah memutuskan tetap pulang," sanggah Deon.

__ADS_1


"Jaffin kau tunggu saya di mobil saja," peritah Levian pada assistennya.


Jaffin mengangguk, lantas bergegas keluar dari mansion Alastar.


"Papa hanya pergi semantara waktu," balas Levian menolah ke belakang menatap cucunya masih setia berdiri diposisinya.


"Alex hubungi kakek, jika kau berhasil meluluhkan hati Alesha. Saat itu tiba kakek akan kembali, ingatlah sebelum kau mendekati Alesha putuskan hubungan mu dengan pacar mu. Jangan kau pikir kakek mu ini tidak tahu hubungan kalian, jelas saja Alesha tidak mau kau dekati sampai sekarang. Kakek juga minta stop menghamburkan uang demi pacarnya, kau kira kakek bodoh. Beberapa minggu lalu kau memberikan uang padanya seratus juta dan habis dalam sekejap. Apa tidak cukup membuat mu sadar, wanita itu hanya ingin memanfaatkan mu saja." Levian mencoba membuka pikiran cucunya agar sadar, sebelum terlambat.


Deon langsung melayangkan tatapan tajam putranya, "Sampai ayah tau kau mengulanginya lagi, kartu mu ayah blokir, biar saja uang jajan mu ayah kasih uang cash." Omongan Deon bukan sekedar ancaman semata.


Alex cuma bisa mengangguk, lelaki itu tau omongan ayahnya tidak bisa dia anggap remeh.


"Papa berangkat, Deon kau harus selalu mengawasi putra mu itu, agar dia tidak bodoh," kata Levian menyarankan, Deon mengiyakan dan menyetujui perkataan papanya.


Kemudian Levian melangkah keluar diantar Deon dan Nafisa. Semantara Alex kembali keatas dan memandang kepergian kakeknya dari balkon kamarnya.


"Kakek aku berjanji, akan mendapatkan hati Alesha sesegera mungkin. Sebelum itu aku harus memutuskan hubungan ku dengan Meldy terlebih dahulu, tapi aku akan mencari tahu kebenaran tentang Meldy." Tekad Alex, selama sebulan fokus meluluhakan hati Queen dan mendekati abang-abangnya serta daddy dan mommy gadis itu. Perasaan Alex pada Meldy seakan terkikis, hubungan mereka juga semakin hambar.


...🥀🥀🥀...


To be continue. . .


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.

__ADS_1


Yuk follow ig author : @dianti2609


__ADS_2