
"Mom aku bantuin masak bolehkan? Aku juga mau belajar masak, biar pinter kayak mommy," ujar Queen melukin Rani, orang yang dipeluk tidak merasa risih sedikitpun, malah hatinya senang mendapatkan pelukan dari gadis yang tidak dikenalnya, tapi hatinya tak bisa berbohong bahwa dia nyaman berada dekat dengan gadis tersebut.
Rani belum menjawab permintaan Queen. Rani melirik ke arah Antonio meminta persetujuan pada pria tua, tetapi masih tampan diusianya mungkin mencapai 60 tahun. Tanpa di duga Antonio mengangguk, memberi ruang untuk istri dan putrinya menghabiskan waktu kebersamaan, sebelum nanti malam ia yang akan bersama istrinya.
Rani terlalu percaya jika Antonio benar-benar akan mengantarkannya pulang, karena itu tak akan terjadi, istrinya akan tidur bersamanya malam ini dan untuk seterusnya, membayangkan istrinya kembali jauh lagi darinya sudah membuat dadanya sesak. Apalagi sampai terjadi, oh tidak akan mungkin.
"Mom kok diam, kalau misalnya ga boleh juga gak apa-apa, tapi izinkan aku tetap di dapur ngeliatin mom masak," ucap Queen terdengar sedih.
"Tidak, princess boleh bantuin kok," tukas Rani cepat.
Queen mengembangkan senyum, mendengar mommy nya mengizinkan bantuin memasak. Queen tampak bersemangat mengerjakan yang diperintah mommy nya, ia hanya di minta mengupas bawang putih dan petikan sayur kangkung, untuk bahan lainnya Rani semua yang mengerjakan.
Rani sebenarnya tak tega melihat Queen membantunya, tapi melihat kegigihan gadis itu yang mau membantunya, jadi Rani memperbolehkan saja. Namun dia tetap memantau gadis ku, takut jika tangan terluka kena pisau.
Begitu pula Antonio alih-alih menyibukan diri, ia malah duduk di bar dapur memperhatikan dua kesayangan tengah memasak bersama. Senyum di wajah Antonio tidak luntur melihat akhirnya putrinya kembali ceria dan bersemangat, ia juga sangat bersyukur istrinya masih hidup dan sekarang berkumpul lagi bersama mereka.
"Bagaimana ya reaksi mereka yang belum tahu kalau Khanza masih hidup, aku tidak sabar menantikan itu, pastinya mereka tidak akan percaya, orang yang sudah mereka kira meninggal hampir setahun ini, tiba-tiba berada di vila ini." Antonio membayangkan wajah mereka yang terkejut pasti lucu.
Satu jam kemudian, semua masakan Rani mateng sempurna. Rani menaruh masakan ke dalam wadah-wadah yang sudah disediakan oleh Queen. Lalu mereka menata masakan di meja makan.
"Ingat ya tuan antar saya pulang," gumam Rani pelan agar tidak didengar Queen.
__ADS_1
"Iya honey, aku mengingatnya," jawab Antonio terlalu santai.
Ghani yang baru saja membuka pintu kamar, langsung tercium harum masakan yang mengunggah selera, kakinya membawa dirinya melangkah menuju meja makan. Mata Ghani melebar melihat bermacam-macam masakan tertata rapi di meja makan. Ghani mengedarkan pandangan, bertemu dengan daddy yang duduk di kursi bar dapur, ia memicingkan mata kearah tatapan daddy nya yang belum menyadari keberadaannya. Diam-diam Ghani mendekatik daddy nya, kemudia mengejutinya.
"Hayo daddy ngintipin orang ya," tukas Ghani menyentuh pundak daddy nya.
"Ghani, ngagetin daddy saja," kesal Antonio pada Ghani yang mulai bertingkah seperti Rey adiknya.
"Daddy siapa yang memasak makanan sebanyank itu, apa daddy memanggil pembantu ke vila?" tanya Ghani penasaran, biasanya mereka memesan makanan saja untuk makan malam atau memilih makan di luar.
"Honey kemarilah, putra kita ingin melihat mu," seru Antonio membuat Ghani melotot kepada daddy nya, berani sekali daddy nya memiliki kekasih tanpa sepengetahuan mereka.
"Daddy memiliki kekasih ya, mengapa daddy tega mengkhianati mommy. Aku tidak mau punya Ibu tiri, Ibu hanya mommy Khanza," protes Ghani, enggan untuk melihat seseorang yang di panggil daddy nya dengan sebutan honey.
"Tidak princess, abang gak mau punya Ibu lain selain mommy Khanza. Titik, jangan paksa abang untuk menatap Ibu baru kita, abang gak sudi punya Ibu tiri," desis Ghani berkata kasar.
"Farghani Almair jaga omongan mu, jangan berkata kasar pada Ibu yang melahirkan mu," geram Antonio berdiri, perkataan putranya membuat emosinya tersulut. Queen bersembunyi di belakang Rani, saat melihat kemarahan daddy nya.
"Maksud daddy apa? Coba ulangi perkataan daddy," pinta Ghani.
"Tuan bicaralah yang pelan, anda membuat princess ketakutan," tegur Rani.
__ADS_1
"Maaf honey, mas kelepasan," ucap Antonio, berjalan kebelakang Rani. Meraih princess di bawa kepelukannya.
"Maafin daddy ya sayang, daddy tidak akan mengulanginya lagi," kata Antonio, princess mengangguk membenamkan kepala di dada bidang daddy nya.
Merasa tidak mendapatkan jawaban dari sang daddy. Ghani akhirnya membalikan badan berhadapan dengan tiga orang di depannya, ketika Ghani bersitatap dengan Rani, matanya langsung berkaca-kaca, bibirnya bergetar ingin mengucap kata 'Mommy'
"Mo-mommy!" Ghani menghambur memeluk Rani yang lagi terkejut mendapatkan pelukan secara tiba-tiba, dua kali sudah dia mengalaminya.
Ghani mengurai pelukannya, kini telapak tangannya menyentuh wajah yang selama setahun ini dia rindukan sosoknya. Memang Ghani tak pernah mengikhlaskan kepergian mommy nya, bahkan mengunjungi makam mommy nya saja jarang. Entah dia telah berfirasat jika mommy masih hidup, namun jauh dari mereka.
"Mo-mommy I miss you."
...🥀🥀🥀...
To be continue. . .
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaitu rate, vote, like, comennt dan gifts agar author semakin semangat updatenya.
Yuk follow ig author : @dianti2609
__ADS_1