Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Putra Mahkota masuk kedalam ruangan dan menampilkan senyum bahagia karena bertemu dengan wanita pujaannya, tapi seketika wajahnya murung saat Jia Li berkata.


"Aku akan menikah dengan Tuan Huan bulan depan, aku kesini untuk mengatakan itu, tapi ada yang lain juga....," ucapan Jia Li terhenti sesaat. "Aku ingin bernegosiasi denganmu dan juga ada yang ingin bertemu denganmu," lanjutnya.


Ekspresi Putra Mahkota yang sendu kembali ke mode serius. "Siapa?"


"Masuklah," panggil Jia Li.


Dan masuklah Xiao Chen, Putra Mahkota Feng langsung berdiri dan terkejut melihat seorang pria yang sangat lama tak di jumpainya, dia langsung memeluk Xiao Chen.


"Xiao Chen kemana saja kamu, aku sangat merindukanmu," ucap Putra Mahkota Feng setelah melepas pelukannya.


"Ya lama tak bertemu," jawab Xiao Chen.


"Ahhh kalian saling kenal ya, aku tak menyangka," kata Putra Mahkota Feng.


"Feng ada yang ingin aku ceritakan mengenai pemberontakan yang terjadi waktu kau tak ada di kerajaan," ucap Xiao Chen serius dan Putra Mahkota Feng pun menjadi serius. Tak ingin mengganggu Jia Li keluar dati ruangan itu dan menuju ruangan sebelah memberi waktu mereka berdua untuk berbicara.


...


"Ahhh lama amat mereka berbicara," dengus Jia Li sambil memakan makanan ringan yang di sediakan di dalam ruangan itu.


tuk tuk tuk, jari jemari Jia Li mengetuk meja karena terlalu bosan. "Huhh lebih baik aku jalan-jalan aja dulu menunggu mereka selesai berbicara bisa mati bosan aku," gerutu Jia Li yang kemudian keluar dari rumah makan itu melalui jendela. Kenapa tidak lewat pintu utama? karena dia tak ingin ada yang tahu jika dia keluar dan sebisa mungkin dia akan kembali sebelum Xiao chen dan Putra Mahkota Feng selesai bicara.


Jia Li berjalan kesana kemari seperti anak kecil yang baru bebas sesekali dia berhenti di kedai makanan yang menarik baginya.


"Bi aku mau gula-gula ini," kata Jia Li yang membeli gula-gula di kedai nya.


"Baik nona di tunggu ya," ucap Bibi penjual. "Ini gula-gulanya nona, silahkan di nikmati," lanjutnya setelah memberikan gula-gula itu.


"Terimakasih bi, ini bayarannya," ucap Jia Li kemudian berlalu pergi melanjutkan berkelilingnya.


Tak terasa cukup lama Jia Li berjalan-jalan dan kemungkinan sekarang dia sedang di cari karena pergi tak bilang-bilang. Dia bergegas kembali ke rumah makan semula dan sesampainya di depan dia kembali masuk melalui jendela. Di dalam telah menunggu Xiao Chen dan Putra Mahkota Feng dengan tatapan mematikan yang di arahkan padanya Jia Li hanya mampu tersenyum kecut karena di tatap seperti itu.


"H hay, a apakah sudah selesai negosiasinya?" tanya Jia Li terbata-bata.

__ADS_1


"Sudah," jawab singkat Xiao Chen dengan nada dinginnya.


"Darimana saja kau?" tanya Putra Mahkota Feng dengan nada dinginnya.


"Ahhh aku tadi habis jalan-jalan karena bosan menunggu kalian jadi aku pergi tak memberitahu hehe," ucap Jia Li cengengesan.


Xiao Chen dan Putra Mahkota Feng masih menatap tajam pada Jia Li.


"Ah kalian ini berhentilah menatapku seperti itu, aku jadi risih," ucap Jia Li. "Ah bagaimana hasilnya?" tanya Jia Li memecah ketegangannya.


"Yahhh begitulah," respon yang di berikan Xiao Chen pada Jia Li dan itu membuat Jia Li mendengus.


"Ayolahhh...beritahu aku apa keputusan kalian, tapi....kalau ku lihat kalian akur deh," ucap Jia Li sambil memperhatikan mereka berdua.


"Bisa di bilang begitu," ucap Putra Mahkota Feng.


"Lalu? Lalu?, apa keputusannya? Apa kesepakatannya?" tanya Jia Li sangat penasaran.


Xiao Chen dan Putra Mahkota Feng hanya mengedikkan bahu mereka acuh dan itu membuat Jia Li semakin cemberut. Mereka tetawa terbahak-bahak karena berhasil membuat Jia Li kesal, karena Jia Li telah membuat mereka menunggu lam jadi mereka berencana untuk mengerjainya dan hasilnya berhasil.


"Huhh, kalian ini," dengus Jia Li. "Aku maafkan. Bagaimana hasil dari negosiasi kalian?" tanya Jia Li antusias.


"Kami sepakat untuk mencari keadilan untuk Xiao Chen beserta keluarga paman dan bibi yang telah meninggal, apalagi kan katamu kakark telah tiada, itu membuatku tambah bersalah karena menduduki posisi yang bukan hakku," jelas Putra Mahkota Feng.


"Sudahlah Feng aku tidak menginginkannya lagi, aku hanya ingin mencari keadilan bagi keluargaku saja," sahut Xiao Chen yang tak enak hati.


"Lalu sekarang rencana kalian apa?" tanya Jia Li.


"Aku akan membahas masalah ini pelan-pelan dengan nenek dan jika nenek tak mengakuinya dan menghindar dari kesalahan beliau, terpaksa aku akan bertindak," jawab Putra Mahkota Feng.


"Ohhh baiklah, jika itu rencana kalian, aku tidak akan ikut campur lagi karena ini masalah keluarga kalian, tapi jika kalian membutuhkan bantuan carilah aku," kata Jia Li. "Aku tak menyangka kau bisa berfikir begitu bijaksana Putra Mahkota, ku kira kau itu sangat arogan dan sombong karena saat aku pertama kali melihatmu kau begitu sombong dan arogan,"


"Itu wajar jika orang maupun kau melihatku seperti itu, karena ini permintaan nenekku agar kerajaan Feng di segani orang," jelas Putra Mahkota Feng.


"Mana ada di segani, itu malah jadi cibiran orang," dengus Jia Li.

__ADS_1


"Kau benar, tapi apalah dayaku yang harus menuruti keinginan dari nenek maupun keluargaku, tapi sekarang aku sudah tahu begini, maka aku akan menunjukkan sikap asliku saja, aku tak ingin bersembunyi di balik topeng lagi," jelas Putra Mahkota Feng.


"Bagus jika pemikiranmu seperti itu," kata Jia Li sambil tersenyum lega, karena seperti dugaannta jika Putra Mahkota Feng atau sepupunya itu baik tidak seperti yang di tampilkannya.


"Untuk kata-katamu tadi, apakah benar kau akan menikah dengan Tuan Huan?" tanya Putra Mahkota Feng.


"Huh kau akan menikah, beneran? aku ada dengar sih dari para warga jika Puteri Raja Biao akan menikah, ternyata kamu," kata Xiao Chen terkekeh. "Emang ada ya yang mau sama gadis bar bar sepertimu?"


"Ya tentu ada lah, emang kamu yang masih melajang sampai umur segini," ucap Jia Li kesal. "Dan juga memang kau tak tahu jika hanya aku Puteri dari kerajaan langit?" tanya Jia Li dan di angguki Xiao Chen. "Benar aku akan menikah dan lagi sebenarnya aku sudah menikah dengannya di istana awan, tetapi masih kami sembunyikan dan untuk yang akan datang ini cuman formalitas saja," jawab Jia Li kepada Putra Mahkota Feng.


"Huhh ternyata aku memang sudah terlambat," keluh Putra Mahkota Feng.


"Ahh kau ini masih banyak gadis baik di luar sana menunggumu, jangan tunggu aku ya...hihi," kata Jia Li cekikikan.


"Terlalu percaya diri itu juga tak baik," tegur Xiao Chen lalu tertawa. "Dan kau juga kenapa bisa suka sama gadis macam ini, memang Puteri sih, tapi kelakuannya ya...tak bisa di ucapkan," kata Xiao Chen sambil memandang Jia Li dari atas sampai bawah lalu menggeleng dengan wajah tak dapat di artikan.


"Hiiihhh kau ini," kesal Jia Li ingin melempar cangkir yang di pegangnya kepada Xiao Chen tapi tak jadi. "Sudahlah, aku pergi saja, dan ingat jika membutuhkan bantuan carilah aku," kata Jia Li sambil melempar giok identitas. "cari aku dengan itu. Aku perhi ya.. dahhhh," kata Jia Li lalu pergi melalui jendela.


"Huhh dasar gadis itu, kebiasaan keluar masuk dari jendela," dengus Xiao Chen lalu tersenyum.


Putra Makota Feng pun kembali ke istana kerajaan Feng. Xiao Chen mencari penginapan dekat istana dan sedangkan Jia Li kembali ke kerajaan langit dengan menunggangi kudanya.







Jangan lupa like, comments and vote ya...


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2