Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Jia Li mengangguk dan air matanya sudah tak terbendung lagi dan dia langsung menubruk tubuh Yen Mo melepas rindu.


"Maaf hiks hiks," lirih Jia Li.


Yen Mo juga tak bisa menahan air matanya lagi. Huan Tian, Bird dan White Dragon memilih pergi membiarkan kakak beradik itu melepas rindu.


Setelah cukup lama berpelukan Jia Li pun menceritakan segala yang terjadi kecuali hal yang privasi baginya.


"Aku mengerti, aku juga pernah bertemu orang seperti mu yang berpindah roh, itu juga roh yang berasal dari dunia modern, dia seorang pria," kata Yen Mo.


"Benarkah? Lalu sekarang di mana orangnya?" tanya Jia Li.


"Aku tidak tahu, aku bertemunya hanya sekali saat berkunjung keperbatasan dan dia membuat benda-benda yang hanya ada di dunia modern jadi ku pastikan dia juga sama dengan mu karena katanya dia berpindah roh dan setelah aku pergi dari perbatasan kami berpisah karena dia ingin pergi kemana gitu, aku lupa," jelas Yen Mo.


Jia Li mengangguk, dia tak menyangka ada orang lain selain dirinya yang melintasi waktu.


"Sekarang kau seorang puteri ya, wahh syukurlah kau sudah tak memakai pakaian pria lagi," kata Yen Mo sambil terkekeh.


"Iiih kakak," kata Jia Li sambil memukul pelan lengan Yen Mo.


Melihat keakraban adiknya bersama temannya Putra Mahkota Meng menghampiri mereka.


"Ekhemm," deheman Putra Mahkota Meng menghentikan pukulan Jia Li.


Jia Li langsung gelabakan, "A ah kakak ada apa?" tanya Jia Li gugup. Dia takut jika ketahuan bahwa dirinya bukan adiknya yang sesungguhnya.


"Tidak ada, tapi ku lihat kalian sangat akrab, seingatku kau tak pernah jauh dari istana bagaimana kau bisa mengenal Jenderal Mo?" selidik Putra Mahkota Meng.


"Dia adikku," kata Yen Mo.


"Adik," beo Putra Mahkota Meng. "Dia adikku kenapa jadi adikmu?" tanya Putra Mahkota Meng.


"Karena dia Li, emmm," kalimat Yen Mo terhenti saat Jia Li membekap mulut Yen Mo.


"Tidak ada apa-apa kak," kata Jia Li dengan tangan masih membekap mulut Yen Mo. Putra Mahkota Meng menatap tajam Jia Li meminta penjelasan, dia merasa adiknya ini memang berubah sedari tragedi perculikan itu.


Di tatap tajam nyali Jia Li menciut. Bukan takut tapi kemungkinan reaksi tubuh gadis ini.


"Huhhhh baiklah aku akan mengatakan yang sebenarnya, kak Mo ceritakanlah, tenggorokan ku sudah kering," kata Jia Li pasrah. Dia pun duduk di pojok membiarkan kakak-kakaknya ini menceritakan mengenai dirinya.


Jia Li melihat Huan Tian bersama Bird dan Whiye berjalan kearah nya disana ada juga Minghao yang baru datang.

__ADS_1


Jia Li melambaikan tangan memanggil mereka berempat.


"Kenapa ada Putra Mahkota Meng?" tanya Huan Tian.


"shuuut, biarkan mereka bercerita dulu, kita tunggu saja di sini," kata Jia Li.


Setelah 30 menit berlalu, Yen Mo telah selesai mencerigakan sekaligus menjelaskan tentang Jia Li dengan Lily.


Sekarang mereka bertujuh duduk berhadap-hadapan.


"Jadi selama ini kau bohong padaku," kata Putra Mahkota Meng.


"Maaf," lirih Jia Li tertunduk.


"Jadi dimana roh adikku yang sesungguhnya?" tanya Putra Mahkota Meng.


"Dia sudah meninggal, karena saat kakek Hu menemukanku, tubuh gadis ini sudah sangat mengenaskan, dengan tulang-tulang nya yang patah badanya yang memar sampai wajahnya saja tak di kenali. Jadi bisa ku pastikan saat roh adik mu keluar roh ku pun menempati tubuh adikmu," jelas Jia Li.


"Huhhhh, aku sudah gagal menjadi seorang kakak," kata Putra Mahkota Meng tersenyum kecut, meratapi ketidak peduliannya pada adiknya dulu.


"Kau tak perlu sedih karena dia sudah tenang, karena orang yang membunuhnya sudah mendaptkan hukuman yang setimpal," kata Jia Li.


"Tidak, sekarang aku adalah Puteri dari kerajaan langit dan akan tetap seperti itu," kata Jia Li.


"Keputusan yang tepat, kau tak perlu menghawatirkan kami di sini, kami di sini sudah mendengarmu kembali pun sudah merasa senang, dan kami tak ingin merenggut kebahagiaan keluarga gadis yang kau tempati tubuhnya ini," kata Yen Mo bangga pada pemikiran adiknya ini.


Mereka pun bercakap-cakap di pondok itu sambil menunggu Yen Mo selesai melatih prajurit.


Tak terasa hari sudah sore dan waktunya Yen Mo pulang, Jia Li ingin ikut, tapi di larang oleh Yen Mo karena dia ingin memberi kejutan pada Mu Yue dan Lian, karena Minghao sudah mengatakan jika Mu Yie belum tahu dengan Jia Li.


White Dragon Bird dan Minghao kembali ke dimensi Jia Li dan Jia Li sendiri memilih berendam. Hatinya sekarang sudah lega, karena hal yang dia takutkan tidak terjadi, sekarang tinggal menemui yang lainnya lagi.


...


Malam telah cukup larut, tapi Jia Li tak dapat tidur dia memilih keluar untuk sekedar menghirup udara segar.


"Huhhh, segarnya, meskipun dingin," gumam Jia Li sambil memeluk tubuhnya sendiri.


"Ekhem," deheman seseorang mengagetkan Jia Li, dia langsung berbalik.


Saat Jia Li tahu siapa orang itu, tanpa sadar dia berucap.

__ADS_1


"Kenapa sih kau selalu mengahetkanku," kata Jia Li kembali membalikkan badannya.


Dia adalah Pangeran Chen, dia mengerutkan kedua alisnya, nampaknya kaliamat itu tak asing baginya, hanya saja orang yang menhatakannya berbeda.


tak tik tok detik berdetik, sadar dengan ucapannya Jia Li menutup mulutnya dengan tangannya. "Astaga kenapa mulut ini, aku kan belum siap memberitahunya," batin Jia Li.


"A ah maaf, aku salah orang," kata Jia Li gugup.


Pangeran Chen merasa akrab dengan aura gadis ini dia mulai melangkah maju dan mendekati Jia Li yang melangkah mundur pula.


"Siapa kau?" tanya Pangeran Chen yang sudah sangat dekat dengan Jia Li, jarak mereka hanya sejengkal sekarang.


"A aku Puteri Jia Li dari kerajaan Langit," jawab Jia Li.


"Benarkah, tapi kenapa aku merasa akrab denganmu ya," kata Pangeran Chen sambil menatapk Jia Li dari atas sampai ke bawah.


"Nanti kau juga akan tahu," gumam Jia Li yang samar-samar di dengar oleh Pangeran Chen.


Pangeran Chen tersenyum. "Baiklah, kau akan memberitahukan ku kan nanti," kata Pangeran Chen.


"Kau mendengarku?" tanya Jia Li.


"Ya begitulah, aku akan menanti penjelasan darimu, kenapa aku merasa akrab denganmu," kata Pangeran Chen. "Kembali lah kekamar mu, angin malam tak baik bagi kesehatan," lanjutnya.


"Baiklah, sampai bertemu lagi," kata Jia Li sambil tersenyum riang dan pergi meninggalkan Pangeran Chen.


"Sifat dan tingkahmu mirip dengan seseorang yang ku rindukan, ku harap dia kembali dan dapat berkumpul lagi seperti dulu," gumam Pangeran Chen melihat kepergian Jia Li yang perlahan meghilang dari pandangannya.







Jangan lupa like, comments and vote ya...


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2