
"Ular? Untuk apa ini?" tanya Yen Mo bingung.
"Ini bukan ular biasa kak ini ular spiritual tingkat tinggi dan akan meningkat lagi kekuatannya jika kekuatan sang tuan meningkat," jelas Lily.
"Benarkah, tapi dari mana kalian mendapatkan ini?" selidik Yen Mo.
"Sudah kak nanti saja kami jelaskan, kau kontrak dulu dengan hewan ini namanya Qi Rong," jelas Lily.
Yen Mo dan Qi Rong pun menjalin kontrak.
"Wahh tubuhku terasa lebih kuat setelah menjalin kontrak," kata Qi Rong dengan bentuk ular normalnya.
"Tentu saja, kakak ku kan tingkat alam semesta pemula," kata Lily bangga.
Prok prok prok, "Wah ada apa ini? Wah bukankah itu Raja ular," kata orang yang datang.
Ternyata yang datang merupakan Pangeran ketiga.
"Salam Pangeran ketiga, ada apa gerangan berkunjung ke kediaman kami ini?" salam Yen Mo dan yang lain kecuali Lily.
"Tidak perlu terlalu formal, kita kan sudah berteman dari sejak kecil," kata Pangeran ketiga.
"Baiklah Wu Chen, ular ini pemberian adikku" kata Yen Mo.
"Wah adikmu luar biasa bisa menaklukan Raja ular yang terkenal dengan semburan apinya, hebat hebat dan aku datang kemari hanya untuk berkunjung, kau sudah memiliki kediaman sendiri Mo. Saat aku pergi kau masih tinggal dengan kedua orang tuamu sekarang saat aku kembali kau sudah tinggal sendiri dan memiliki adik-adik yang cantik dan tampan, apakah aku ketinggalan sesuatu?" kata Wu Chen.
"Hahahaha, kau bisa saja, mereka baru saja menginjak satu tahun bersamaku, kau yang terlalu lama perginya," kata Yen Mo.
"Hahahaha, kau benar," kata Wu Chen.
"Kak kami pergi dulu ke kamar kami," kata Lily berbalik.
"Eh...bukankah kau wanita yang tersesat di hutan pada waktu itu?" kata Wu Chen yang sebenarnya sudah tau tapi berpura-pura baru tau.
Lily pun tak jadi beranjak pergi dan membalikkan badannya kembali menghadap Yen Mo dan Wu Chen.
"Maaf Pangeran, memang benar kau yang telah menolongku waktu itu, aku sangat berterima kasih, tapi jangan sok akrab denganku," kata Lily berlalu pergi.
Yen Mo bingung mendengar percakapan keduanya dan diapun bertanya.
"Ada apa Wu Chen apakah kau mengenal adikku?" tanya Yen Mo.
"Hahaha, saat dia tersesat di hutan belakang istana, aku menolongnya dari kawanan serigala dan dia merawatku saat aku tak sadarkan diri akibat luka dalam yang ku derita," jelas Wu Chen.
__ADS_1
"Benarkah, kalau begitu terimakasih telah menolong adikku, tapi kenapa Lily tak pernah mengatakannya?" kata Yen Mo.
"Ohh itu karena aku yang memintanya tak memberitahukan kepada siapapun, karena kondisiku saat itu masih terluka parah," jelas Wu Chen.
Yen Mo mengangguk paham. Merekapun menghabiskan waktu bersama seperti dulu saat mereka berenam berkumpul bersama, mereka adalah Putra Mahkota, pangeran kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Mereka merupakan teman yang tak terpisahkan, tapi semenjak kepergian pangeran ketiga 10 tahun yang lalu, mereka jarang berkumpul lagi, dan juga karena urusan pribadi masing-masing.
Hari-hari berlalu, minggu pun juga berlalu, Lily pun masih memikirkan perkataan dari si pria bertopeng, ya dia adalah Xia Leng suami dari Dewi semesta.
"Bukankah dia suami dari dewi semesta, berarti kan aku cucu buyutnya dong. Masa mau menikah dengan ku?" gumam Lily merasa aneh dengaucaoan Xia Leng.
"Kalau begini terus aku akan frustasi memikirkannya, lebih baik aku akan bertanya kepadanya," gumam Lily yang mulai beranjak dari peraduannya.
"Ahh bagaimana caranya aku bisa menemuinya? Ahhh bodo amat lebih baik aku kehutan kabut, kalau kalau aku bertemu dengannya," gumam Lily.
Lily pun mengganti pakaian tidurnya ke pakaian hitam tak lupa dengan cadarnya.
Dia pergi melewati jendela kamarnya agar tak diketahui orang lain.
Lily memanggil Minghao.
"Minghao bisakah kau keluar," panggil Lily melalui pikirannya.
Minghao pun keluar dari dimensi Lily.
"Aku ingin pergi ke hutan kabut temani aku kesana," kata Lily.
"Hutan kabut mau apa kau kesana Lily disana sangat berbahaya, meskipun kata orang hutan itu hutan yang amat tapi tidak kenyataannya," jelas Minghao.
"Aku tahu itu, beberapa minggu yang lalu aku dan juga yang lainnya kesana untuk mencari hewan spirit untuk kakak ku dan berlatih, tetapi saat kami ingin pulang dari sana kami bertemu dengan orang bertopeng emas dan pengawalnya sedang mengikuti kami, nah aku ingin menemuinya untuk mengonfirmasi sesuatu," jelas Lily.
"Apa... kau sudah bertemu dengannya?" kata Minghao terkejut.
"Memangnya kenapa?" tanya Lily bingung.
"Dia adalah penjaga hutan kabut itu, didalam hutan kabut itu menyimpan banyak rahasia yang tak dapat diketahui orang sembarangan, jadi jika ada yang mengetahui sedikit saja rahasia dari hutan itu, akan berakhir tak dapat keluar," jelas Minghao.
"Benarkah, apakah kau pernah bertemu dengannya?" tanya Lily.
"Aku sebenarnya tinggal di hutan kabut sebelum di hutan angker. Saat itu aku sedang berburu tapi tak sengaja aku memasuki garis terlarang, dan seketika itu juga hewan-hewan di hutan kabut menjerit mengisyaratkan bencana, karena takut aku lari ke hutan angker, saat aku lari aku tak sengaja melihat seseorang yang menggunakan jubah putih dan menggunakan topeng emas, disana terlihat banyak hewan spiritual menunduk kepadanya, bukan hanya hewan spiritual dari hutan tersebut tapi juga hewan spiritual dari luar, aku tak berani mendekat dan memilih untuk berlari dan terus berlari dan sampailah aku kehutan angker," jelas Minghao.
"Ohhhh begitu, berarti kamu penakut dong hahahaha," kata Lily sambil tertawa.
"Ck, kau belum tahu dia itu seperti apa, dia itu sangat menakutkan," jelas Minghao dengan bergidik ngeri mengingat saat dia melakukan kesalahan itu.
__ADS_1
"Baiklah, maafkan aku, kalau begitu temani aku kesana, kau kan tahu tentang seluk beluk hutan kabut," ajak Lily.
"Baiklah, tapi bisakah kita menyembunyikan aura keberadaan kita, agar tak ada yang mengetahui akan kedatangan kita, tapi aku tak menjamin jika penjaga hutan kabut itu tidak mengetahui kita," kata Minghao.
"Itulah tujuanku," gumam Lily.
"Apa?" tanya Minghao yang tak mendengar gumaman Lily.
"Hehehe, tak ada, ayo kita pergi, aku naik kepunghungmu ya," kata Lily dengan memelas.
"Huft, baiklah, naiklah ke punggungku," kata Minghao.
Lily pun menaiki punggung Minghao yang sudah berubah menjadi singa.
Tak membutuhkan waktu lama mereka sampai di hutan kabut.
"Minghao turunkan aku disini, lebih baik kita berjalan kaki, apakah kau ingat letak garia pembatas yang kau injak itu?" tanya Lily.
"Tentu ingat, aku tak akan pernah melupakannya, tapi kenapa kau ingin kesana?" tanya Minghao
"Tidak ada, aku hanya ingin melihatnya dan..." kata Lily.
"Dan apa, kau jangan macam-macam," kata Minghao.
"Tidak akan aku hanya ada yang perlu dipastikan," kata Lily.
"Baiklah, ayo," kata Minghao mengiyakan.
*
*
*
*
*
Jangan lupa juga like, comments and vote yang banyak.
Happy Reading
Next...
__ADS_1