
Orang yang mengejar berlari terus di rasa sudah aman Jia Li melepaskan totokannya dan Pemuda itu langsung menyerang Jia Li tetapi dengan mudah Jia Li menghindar.
"Siapa kau?" tanya Pemuda itu yang sudah bersiap untuk menyerang lagi, tapi Jia Li masih tetap tenang.
"Tak perlu waspada ke aku, aku kan menolongmu masa aku akan melukaimu dan kenapa kamu sampai dikejar?" kata Jia Li santai lalu bertanya.
"Aku mencuri herbal," lirihnya yang masih bisa terdengar.
"Untuk apa?" tanya Jia Li.
"Adikku sakit keras," jawabnya.
"Aku bisa membantu," kata Jia Li.
"Kau seorang tabib?" tanya pemuda itu.
"Katakanlah begitu," jawab Jia Li karena tak ingin di tanyai lebih.
"Lalu, apa tujuanmu menolongku?" tanya Pemuda itu.
"Hanya satu tujuanku yaitu menjadikanmu orangku dan jika kau mau kau tak perlu lagi mencuri seperti ini dan dapat merawat adikmu dengan baik," jawab Jia Li.
"Aku mau," jawab Pemuda itu langsung.
Mereka langsung pergi ke rumah si pemuda. Sesampainya bukannya seperti rumah tapi seperti kandang tempat tinggal pemuda itu dan adiknya.
"Silahkan masuk, maaf keadaannya memang begini," ucap pemuda itu.
"Tidak apa," Jia Li masuk dan langsung duduk di lantai tak ada tampak jijik di wajahnya.
"Sebantar aku akan membawa adikku keluar," katanya dan diangguki oleh Jia Li.
Beberapa saat kemudian keluarlah dia dengan seseorang di gendongannya, dia adalah seorang adik perempuan yang cantik meskipun wajahnya pucat.
"Dia adikku," kata pemuda itu.
Jia Li tanpa membuang waktu langsung memeriksa keadaan adiknya.
"Adikmu mengalami gangguan pencernaan, memangnya apa yang kalian makan dalam beberapa hari ini?" tanya Jia Li.
"Tidak ada yang pasti kami makan apa, karena jika ada yang memberi kami makan dan jika tidak ada kami tidak makan," jelas pemuda itu.
Hati Jia Li terasa tersayat melihat kemalangan mereka.
"Aku bisa menyembuhkannya, dan belilah obat ini dan makanan untuk kalian," kata Jia Li sambil menyerahkan kantong berisi koin.
Pemuda itu diam dengan masih memangku adiknya.
"Kenapa tak pergi, aku akan menjaga adikmu, biarkan dia berbaring," kata Jia Li sambil menepuk pahanya.
__ADS_1
"T tapi...," ragu pemuda itu.
"Tidak apa," kata Jia Li meyakinkan.
Dengan ragu-ragu pemuda itu merebahkan adikknya di pangkuan Jia Li dan dia pun segera pergi.
Sesaat setelah pemuda itu pergi Jia Li langsung menyalurkan kekuatan penyembuhnya ke adik pemuda itu, memerlukan banyak energi untuk menyembuhkannya, karena gangguan pencernaannya sudah cukup lama.
Setelah serasa cukup dan keadaan adik itu membaik Jia Li menyudahi penyebuhan, dia langsung memulihkan tenagananya lagi. Setelah 10 menit dia selesai dan datanglah pemuda tadi.
"Nona ini tumbuhan obatnya dan makanannya," kata pemuda itu.
"Kau siapkan makanan itu dan aku akan membuat kan obatnya, letakkan adikmu di kamarnya," kata Jia Li yang mulai meracik obatnya.
Beberapa saat kemudia Jia Li selesai membuat obat berbentuk cair dan masuk kekamar mereka.
"Minumkan obat ini," perintah Jia Li yang menyerahkan mangkuk obat.
Pemuda itu dengan perlahan memasukkan obat itu kemulut adiknya yang masih belum sadar. Obat di mangkuk habis dan perlahan adiknya mulai sadar.
"Ka kak," lirihnya.
"Yimin kau sudah sadar, apakah kau baik?" tanya Pemuda itu senang.
Yimin mengangguk pelan.
"Terimakasih nona," kata Pemuda itu sambil bersujud.
Pemuda itu langsung berdiri.
"Aku belum tahu namamu," kata Jia Li.
"Nama saya Yongsheng dan adik saya Yimin," ucap Yongsheng.
Jia Li mengangguk. "Perkenalkan juga namaku adalah Jia Li Puteri dari kerajaan langit," kata Jia Li.
Mereka berdua saling menatap dan diam.
"Jika kalian tahu tentang rumor mengenai dirimu yang sampah dan memiliki wajah yang jelek, tapi masih di sayang oleh orang-orang istana, itulah aku," kata Jia Li yang mengerti tatapan mereka itu.
"Rumor memang hanya rumor," kata Yongsheng. "Kalau begitu maaf atas ketidak sopanan kami Puteri," ucap Yongsheng yang membungkukkan badannya yang di ikuti oleh Yimin yang masih lemah.
"Apa yang kau lakukan jangan seperti ini, kau masih sakit, dan tidak perlu terlalu formal padaku bersikaplah seperti tadi, anggap aku bukan seorang Putri," ucap Jia Li seraya membantu Yimin berbaring kembali.
"Saya dan adik saya akan selalu setia pada anda Puteri," ucap Yongsheng tegas.
Jia Li tersenyum simpul, "Tak salah aku mencari orang," batinnya.
"Baiklah, kalau begitu kalian berkemaslah, karena kalian akan pindah ke rumah yang aku sewa, dan panggil aku Jia Li atau nona saja, jangan Puteri aku muak dengan itu," kata Jia Li.
__ADS_1
"Baik nona," ucap mereka serempak.
"Ku rasa kita seumuran, kita bisa jadi teman," kata Jia Li.
"A ah saya rasa saya tak pantas," kata Yimin.
"Tak ada yang tak pantas semua orang itu pantas berteman dengan siapa saja," kata Jia Li. "Dan Yongshen aku akan memanggilmu kakak Yong," lanjut Jia Li.
Mereka berdua terharu dengan sikap Jia Li yang sangat baik terhadap mereka yang rakyat jelata ini. "Kami berjanji akan selalu Setia pada nona," batin mereka.
"Ah kurasa aku tak bisa menemani kalian untuk melihat rumah baru itu, kalian datanglah ke alamat ini dan aku akan berkunjung besok untuk membicarakan sesuatu padamu," kata Jia Li kepada Yongsheng. "Aku harus pergi sekarang dah....sampai berjumpa lagi," ucap Jia Li yang langsung melesat pergi.
Sesampainya di pagar di belakang kamarnya dia langsung melompat dan masuk melalui jendela, dia langsung mengganti pakaiannya dan membuka pintu.
"Nuan apakah ada yang mencariku?" tanya Jia Li.
"Ada nona, sepeti biasa Selir Mingmei datang untuk memberikan teh," jelas Nuan.
"Tunggu permainannya," gumam Jia Li. "Kau istirahatlah pasti kau lelah," kata Jia Li.
"Tidak nona," kata Nuan.
"Istirahatlah, aku memaksa," kata Jia Li menatap tajam Nuan.
"Baiklah Puteri saya permisi," kata Nuan yang bergidik. "Putri berubah tapi aku senang melihat beliau begini," batin Nuan yang sudah berjalan pergi.
Jia Li sudah sendiri di kamarnya dia beristirahat.
Keesokan harinya
Seperti yang sudah di rencanakan Jia Li dia akan pergi ke rumah 2 bersaudar, sekarang masih pagi untuk berkunjung jadi dia memilih jalan-jalan terlebih dulu.
Sambil duduk menikmati aktifitas penduduk seraya memikirkan rencana selanjutnya di kemudian hari, setelah melakukan rencana yang akan di katakannya kepada 2 bersaudara itu.
"Aku akan mencari beberapa orang lagi deh, tapi aku minta sama kak Yong saja," guman Jia Li.
Matahari perlahan muncul dan Jia Li pun beranjak pergi ke rumah 2 bersaudara itu.
°
°
°
°
°
Jangan lupa like, comments and vote
__ADS_1
Happy Reading