Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 7


__ADS_3

Mendengar itu Lily dan Yen Mo saling pandang, pasalnya Yen Mo sendiri tidak tahu bakat apa yang di punyai Lily. Yen Mo memberi kode kepada Lily dengan isyarat wajah, seperti tahu maksud Yen Mo, Lily pun menggelengkan kepalanya kecil yang artinya jikalau bisa jangan, aku tak bisa apa-apa, kecuali bernyanyi. Dan seketika raut wajah Lily berubah senang karena dia mengingat lagu yang pas dengan keadaan nya sekarang. Dia meminta izin kepada kaisar.


"Izinkan hamba menunjukkan bakat bernyanyi hamba yang buruk ini," izin Lily seraya membungkuk badannya sedikit tanda menghormati.


"Hmm, ya silahkan," kata Kaisar dengan anggukan kecil.


Lily pun menghampiri para pemain musik dan meminta dimainkan musik yang halus dengan arah dari Lily. Kemudian Lily kembali ketengah aula dan mulai memberi kode kepada para pemain musik dan kemudian dia bernyanyi.


*********


*Tusuk halt gnay natagni gnajrenem


Tudusret uk ini gnaur tagnah malad


Tural halt gnay lah kaugnem


Tersesak beriring kabut


Menguak hal yang t'lah larut


Dalam hangat ruang ini kutersudut


Menerjang ingatan yang tlah kusut*


Orang-orang yang awalnya berkata mencemooh dan sinis seketika terdiam mendengar Lily bernyanyi.


*Hanyut di dalam duniaku


Binasa seram kelam redup


Perlahan menjerit atas yang kuterima


Dari orang-orang yang tak paham*


Ada yang memejamkan hanya untul menghayati lagu yang memiliki penuh arti kehidupan ini.


*Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna


Kembalikanlah senyumku yang pergi


Secepat seperti di lahirkan lagi*


Semua orang terhanyut dalam lagu yang di nyanyikan Lily termasuk Yen Mo yang masih terkejut pasalnya dia tidak tahu bahwa Lily bisa bernyanyi dengan suara yang Indah.


*Tiada yang meminta seperti ini


Tapi menurutku Tuhan itu baik


Merangkai ceritaku sehebat ini


Tetap menunggu dengan hati yang lapang


Bertahan dalam macamnya alur hidup


Sampai bisa tiba bertemu cahaya

__ADS_1


Tapi menurutku Tuhan itu baik


Tapi menurutku Tuhan itu baik*


Tidak dengan orang lain Putra Mahkota pun yang jarang tersenyum terlintas senyum tipis disudut bibirnya dan begitu juga dengan orang yang diatas pohon rimbun.


Catatan: Mengapa ada pohon rimbun di dalam ruangan?. Maksud dari ruangan ini, yaitu ruangan yang terbuka yang memiliki empat pilar pilar besar di masing-masing sudut dan beberapa pilar di tengah ruangan jadi terlihat dari luar.


Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna


Kembalikanlah senyumku


Secepat seperti dilahirkan lagi


Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna


Kembalikanlah senyumku yang pergi


Secepat seperti dilahirkan lagi


Hari-hari kujalani harap ada yang bermakna


Kembalikanlah senyumku yang pergi


Secepat seperti di lahirkan lagi*


***Usik_Feby Putri***


Tersadar lagu yang dinyanyikan Lily selesai orang-orang berepuk tangan. Selesai bernyanyi Lily memberi hormat kepada Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran Qin.


"Ini nyanyian yang sangat bagus, sampai-sampai aku tidak tahu hadiah yang pantas kuberikan padamu, apa yang kamu inginkan sebagai hadiahnya, oh ya namamu Lily bukan?" kata Kaisar yang diangguki permaisuri dan semua orang.


"Untuk saat ini hamba belum menginginkan sesuatu Yang Mulia, nanti jika saya menginginkannya, saya akan memintanya, apakah boleh Yang Mulia dan benar Yang Mulia nama hamba Lily," kata Lily.


"Baiklah, aku setuju," kata Kaisar.


Acarapun berakhir dengan lancar dan orang-orang kembali ke kediaman masing-masing, dan ada yang menginap karena kerajaannya jauh, jadi sudah dipersiapkan tempat beristirahat. Sebelum acara selesai Kaisar Qin memberitahukan kepada semua orang tentang acara berburu yang akan diadakan 2 bulan lagi.


Lain halnya dengan dua orang yang sudah berada di dalam kereta yaitu Yen Mo dan Lily dan beberapa pengawal di bagian luarnya, mereka sudah diperjalanan kembali pulang ke kediaman mereka. Lily yang sudah mengantuk sedari acara dimulai sudah tertidur lelap di dalam kereta sedangkan Yen Mo di sepanjang perjalanan hanya memandanginya yang tertidur pulas. 1 jam berlalu mereka sampai di depan pintu gerbang kediaman Yen Mo. Yen Mo mencoba membangunkan Lily tetapi tidak ada respon.


"Lily kita sudah sampai, ayo cepat bangun," kata Yen Mo.


Lily tidak merespon dan Yen Mo kembali mencoba membangunkannya dengan menggerakkan tubuh Lily.


"Lily cepat bangun, kalau tidak mau ku gendong," kata Yen Mo menggerakkan tubuh Lily dengan sedikit bercanda, tapi masih dengan muka datarnya.


Melihat kelakukan tuan nya, para pelayan yang sudah menunggu, tidak percaya akan apa yang mereka lihat, "apakah ini benar tuan, tuan kan kalau tersentuh maupun menyentuh perempuan pasti terlihat jijik dengan perempuan itu," kata para pelayan dalam hati.


"Hmmm, iya gendong aja," kata Lily masih dengan mata terpejam.


Mendengar itu Yen Mo mematung, pasalnya dia tidak pernah menggendong perempuan meskipun dia sudah lama tinggal dengan Lily tapi dia jika tersentuh Lily itu hanya ketidaksengajaan.


"Hey Yen Mo, katanya tadi mau menggendongku, cepat," kata Lily membuka matanya seraya menjulurkan tangannya minta gendong.


Awalnya Yen Mo hanya asal-asalan mengatakan ingin menggendong Lily, tapi dia mencoba pasrah dan melakukannya.

__ADS_1


Yen Mo mulai ingin mengangkat tubuh Lily tapi tiba-tiba.


"Ahhh, bukan gitu gendongnya, coba kamu berbalik," kata Lily seraya menyuruh Yen Mo berbalik memunggunginya.


Kemudian Lily naik ke punggung Yen Mo. Merasakan badannya bersentuhan dengan perempuan Yen Mo berdiri seperti patung.


"Ayo cepat jalan, let's go," kata Lily sambil memajukan tangannya.


Mendengar perkataan Lily Yen Mo tersadar dan cepat berjalan dan disudut bibirnya tercetak senyum.


Para pelayan mengikuti mereka dan hanya menggelengkan kepala mereka tidak percaya dengan apa yang dilihat mereka.


*Keesokan paginya*


Karena kelelahan, pasalnya Lily dan Yen Mo baru kembali dari zaman nya Lily dan dari pesta malam tadi, mereka belum ada yang bangun dari tempat tidur masing-masing. Matahari sudah tinggi dan masuk melalui celah kamar Lily dan mengenai mata Lily, karena merasa kesialauan Lily terduduk dan mengerjapkan matanya.


"Ahhh,...sudah siang ya," gumam Lily.


Lily keluar dari kamarnya dan melihat hari sudah terik dan penasaran sudah jam berapa ini kemudia dia bertanya kepada pekerja yang kebetulan lewat.


"Permisi ini jam berapa ya?" kata Lily.


Bingung dengan perkataan Lily pelayan itu terdiam seraya mencerna perkataanya.


"Maksud nona pukul," paham pelayan.


"iya iya pukul berapa sekarang," kata Lily.


"Sekarang sudah siang yang berarti sekitar pukul 12," kata pelayan.


"Apa, pukul 12," kata Lily terkejut dengan teriakannya.


Pelayan itu hanya mengangguk heran.


"Baiklah, dimana aku bisa mandi," kata Lily.


"Ahhh, nona mau membersihkan badan, tunggu nona saya akan menyiapkannya," kata Pelayan.


Lily mengangguk menyetujuinya. Beberapa menit kemudian pelayan itu kembali.


"Nona airnya sudah siap dan pakaian anda akan saya taruh di peraduan anda, apakah ingin saya bantu," kata Pelayan.


"Tidak perlu aku akan melakukannya sendiri, oh ya, nanti aku ingin memasak kau bawa aku ke dapur ya," kata Lily.


"Baiklah nona, hamba undur diri," kata pelayan.


"Hmm," dehem Lily dengan anggukan.


JANGAN BOSAN-BOSAN MEMBACA CERITAKU YANG YAA MUNGKIN MEMBOSANKAN.


TERIMAKASIH KEPADA PEMBACA YANG SETIA MENGIKUTI CERITAKU.


Jangan lupa beri saran, like, comments and like.


Happy Reading... 😉

__ADS_1


__ADS_2