
Pangeran Chen berlari tak tentu arah mencari keberadaan Jia Li yang tak di dapatinya. "Kau dimana? banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padamu," gumam Pangeran Chen gregetan ingin rasanya dia menggigit orang yang di carinya ini jika ketemu.
Setelah lama mencari di dapatinya sesosok gadis cantik yang sedang duduk bersender di bawah pohon rindang dengan santainya. Tak mau membuang waktu lagi Pangeran Chen langsung mendatanginnya dan duduk di sampingnya.
"Astaga," kejut Jia Li sambil mengelus dadanya. "Kau ini bisa tidak jangan mengagetkan orang," gerutu Jia Li.
Wajah Pangeran Chen tak ada ekspresi yang di tampilkannya hanya wajah datar dan serius yang terlihat. Tanpa basa-basi Pangeran Chen langsung bertanya. "Kau kenal dengan Lily? atau...Apakah kau pernah bertemu dengannya dan berbincang dengannya?" tanya Pangeran Chen dengan tidak sabar untuk di jawab.
"Aku tak pernah berbincang dengannya, tapi aku tahu dia (Lily)," jawab Jia Li.
Pangeran Chen nampak bingung dengan penuturan Jia Li. "Maksudmu?"
"Ya aku tidak pernah berbicara dengannya, tapi aku tahu dimana dia sekarang," jawab Jia Li dengan santai.
"Dimana dia?" tanya Pangeran Chen dengan sambil memegang kedua pundak Jia Li dan mengguncangnya.
"Aaa, sabar jangan mengguncangku seperti imi," dengus Jia Li sambil menjauhkan tubuhnya dari tangan Pangeran Chen. "Ini orangnya," tunjuk Jia Li pada dirinya sendiri.
Pangeran Chen kebingungan dan terus memandang Jia Li. "Kau jangan bercanda dimana orangnya," ucap Pangeran Chen dengan serius.
"Aku tidak bercanda aku lah Lily," jawab Jia Li kekeh.
merasa di permainkan Pangeran Chen berdiri dan hendak pergi, tetapi terhenti setelah perkataan dari Jia Li. "Kau masih tak percaya padaku, aku benar-benar Lily sahabatmu yang terbaik. Aku tahu kau pasti ragu, tapi aku sungguhan Lily, meski tubuh dan wajahku bukan lah Lily yang dulu. Jika kau masih tak percaya, kau bisa bertanya pada Kakak Mo," kata Jia Li yang berlalu pergi dengan kecewa.
Pangeran Chen masih mencerna kalimat-kalimat yang di ucapkan Jia Li tanpa berpaling menghadap Jia Li. Merasa ada pencerahan dia berpaling dan tak mendapati Jia Li, daripada semakin penasaran dia mencari keberadaan Jenderal Mo kakak angkat Lily.
...
Jia Li kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya yang cukup lelah, karena sebelum dia kembali kekamar dia mengunjungi Xiao Lan permaisuri kekaisaran Qin istri Putra Mahkota Zho sahabatnya. Dia juga menjelaskan Jika dirinya adalah Lily dengan penuh perjuangan Jia Li akhirnya berhasil meyakinkan ny bahwa dirinya adalah Lily sahabatnya dulu.
...
Keesokan harinya Jia Li mengunjungi kediaman Jenderal Mo bersama Putra Mahkota Meng dan Huan Tian, tanpa di sangka di sana juga ada Pangeran Chen.
"Jia Li kau datang, kenapa tak bilang, oh ada Putra Mahkota Meng dan tuan Huan selamat datang di kediaman saya yang sederhana ini," ucap Jenderal Mo sambil membungkuk hormat diikuti Mu Yue dan Pangeran Chen.
"Tak perlu seformal itu, kita sama-sama kakaknya Jia Li," ucap Putra Mahkota Meng.
"Benar, lagipula kau adalah kakak iparku," lanjut Huan Tian.
__ADS_1
Plakkk
Pukulan mendarat di lengan Huan Tian, siapa lagi kalau bukan Jia Li pelakunya. "Apaan sih," dengus Jia Li dengan pipi yang merona.
Semua orang tertawa bahagia kecuali Pangeran Chen yang hanya tertawa hampa karena untuk yang kedua kalinya dia juga terlambat memiliki Jia Li, tapi tak apa mereka kan masih bisa bersahabat, itu juga sudah cukul baginya.
...
Tak terasa sudah satu minggu Jia Li berada di kekaisaran Qin dan sekarang waktunya mereka kembali ke kerajaan langit.
Ada Putra Mahkota Zho, permaisuri Xiao Lan, Puteri Qin Mei Li dengan suaminya, Jenderal Mo, Mu Yue dengan Lian dan terakhir Pangeran Chen, Mereka semua mengantar keberangkatan Jia Li, Putra Mahkota Meng dan Huan Tian.
"Terimakasih telah menjamu kami dengan baik," ucap Putra Mahkota Meng.
"Tak perlu sungkan, ini sudah seharusnya," jawab Putra Mahkota Zho.
"Xiao Lan, kak Mo dan kakak ipar kalian jaga kesehatan ya, terutama Lian keponakan bibi yang paling tampan ini," kata Jia Li sambil mencubit gemas pipi Lian.
"Ihhh bibi, pipiku nanti merah nanti hilang tampannya," kata Lian sok tertindas.
Mereka semua tetawa melihat tingkah sok imut Lian ini.
...
Di perjalanan Jia Li berdua di dalam kereta bersama Nuan, sedangkan di Kereta satunya Huan Tian bersama Putra Mahkota Meng.
Perjalanan panjang mereka tempuh dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat dan mengisi perut. Tak terasa sekarang mereka sudah memasuki kawasan kerajaan langit dan tak lama lagi sampai di istana.
Di depan gerbang istana sudah ada sebuh kereta yang menunggu, entah kereta siapa?
Saat mereka keluar dari kereta mereka seorang pengawal yang menjaga kereta yang terparkir di depan gerbang menunduk hormat pada Huan Tian.
"Hormat pada Yang Mulia," ucapnya sambil menunduk hormat.
"Tegaklah, ada apakau kemari?" tanya Huan Tian.
"Maaf Yang Mulia, saya di perintahkan oleh perdana menteri untuk menjemput anda, saya sudah menunggu anda di sini selama 3 hari," ucap pengawal itu.
Wajah Huan Tian seketika menggelap dan tangannya terlihat mengepal dengan kuat berusaha menahan amarah.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Jia Li sambil memegang tangan Huan Tian untuk meredakan amarahnya.
Huan Tian menatap mata Jia Li. "Kau bisa ikut aku ke istana awan?" bukannya menjawab malah Huan Tian balik nanya.
Tanpa ragu Jia Li menganggukkan kepalanya. "Kakak beritahu pada ayah jika aku ke istana awan ya," melihat rawut wajah Putra Mahkota Meng sepertj ragu dan khawatir Jia Li berucap lagi. "Tenang kak ayaj pasti mengerti dan aku tak bisa menjelaskannya sekarang, jika kau ingin tahu carilah ayah untuk menjelaskannya," lanjut Jia Li.
"Baiklah, kau hati-hatilah, tolong jaga adik saya tuan," ucap Putra Mahkota Meng.
"Pasti," jawab singkat Huan Tian.
Mereka berdua pun menaiki kereta yang sudah menunggu selama 3 hari itu.
Di perjalanan menuju istana awan Huan Tian hanya berdiam diri dengan pemikirannya sedangkan Jia Li masih menerka-nerka apa sebenarnya yang serjadi, karena terlalu penasaran dia menanyakannya.
"Memangnya ada masalah apa?" tanya Jia Li.
Pertanyaa Jia Li membuat lamunan Huan Tian buyar dan dia menatap lekat manik mata Jia Li. "Mereka berulah lagi dan memintaku untuk mengambil selir lagi, jika aku tidak cepat menjadikanmu sebagai ratu di istana awan maka mereka tak akan pernah berhenti menekanku," jelas Huan Tian.
"Ohhh itu," kata Jia Li santai.
"Kok oh aja, ini darurat sayang," kata Huan Tian greget.
"Ya benar juga sih, bagaimana kalau kita umumkan saja tanggal pernilahan kita keseluruh kerajaan maupun kekaisaran, tapi dalam waktu satu bulan ini, jadi kan aku masih memiliki kesempatan untuk mengambil alih kerajaan Feng, meskipun dalam bentuk perang," jelas Jia Li.
"Benarkah?" tanya Huan Tian masih tak percaya dengan apa yanh di dengarnya.
"Ya, tapi tunggu satu minggu ini ya, aku masih perlu negosiasi dengan Putra Mahkota Feng dan Xiao Chen," kata Jia Li masih menawar.
"Baiklah aku akan menunggu sampai hari itu tiba dan berusaha mencari alasan yang bagus untuk menolak meinginan mereka," ucap Hian Tian senang.
•
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa like, comments and vote ya...
Happy Reading.