
Lily sudah mengetahui identitas dari Huan Tian. Huan Tian adalah manusia abadi yang sudah berumur ratusan tahun tapi masih terlihat muda dan dia tinggal di sebuah bukit yang mana istananya berada di udara bebas atau lebih tepatnya mengapung di atas bukit, jadi jika ingin berkunjung ke istana ny harus memiliki kekuatan terbang.
Mereka pun mulai melakukan perjalanan. Lily memilih menggunakan kuda untuk perjalanan mereka.
Dalam perjalanan mereka selalu singgah di setiap desa yang di lewati mereka untuk sekedar makan ataupun bermalam untuk istirahat.
Sudah 4 hari mereka melakukan perjalanan, sekarang mereka sudah di pintu gerbang kekaisaran Qin, sebelum mereka masuk para penjaga gerbang melakukan pemeriksaan.
Taka lama mereka pun dinijinkan masuk.
"Sudah lama aku tak ke sini," gumam Lily lalu dia pun melajukan kudanya.
Sampailah dia di pintu gerbang kediaman Jenderal Mo.
Lily menyerahkan kudanya kepada penjaga yang sudah mengenal Lily. Dia langsung berlari kedalam mencari keberadaan mereka.
Saat Lily masuk ke halaman Yen Mo terlihat disana ada Yen Mo, Mu Yue dan seorang anak di pangkuan Mu Yue. Dia melangkah maju dan
"Kakak Mo kakak ipar," panggil Lily.
Mereka yang di panggil membalikkan badannya dan melihat seseorang yang selalu mereka rindukan.
"Lily," panggil Yen Mo yang langsung berlari memeluk Lily dan di ikuti oleh Mu Yue yang sedang menggendong anaknya. "Kami sangat merindukanmu," ucap Mu Yue. Pelukan mereka pun lepas dan Yen Mo mengajak Lily duduk dia masih mereka masih tak sadar dengan seseorang yang ada di belakang Lily. Huan Tian hanya mengikuti tanpa berbicara dia tak ingin mengganggu kerinduan dari kakak Lily.
Mereka bercerita sambil bercanda gurau dan baru kali ini Huan Tian melihat senyum yang begitu asli dari wajah Lily.
"Dimana Lin Sing dan Jung," tanya Mu Yue.
"Ahh mereka sudah menikah dan Lin Sing sedang mengandung jadi aku melarang mereka ikut," jelas Lily.
"Wahhh mereka tak terduga," ucap Yen Mo. "Dan ahh aku baru sadar jika ada seseorang di sini, siapa ini, apakah adik iparku?" tanya Yen Mo.
Wajah Lily memerah. "Maaf oeekenalkan saya Huan Tian teman Lily, tapi sekarang saya datang untuk meminta ijin kepada kakaknya untuk melamarnya," kata Huan Tian tegas.
Wajah Lily semakin merah dan kepalanya semakin menunduk.
"Hahahahaha, adikku ini memang hebat selalu saja jadi rebutan para pemuda tampan," kata Yen Mo sambil tertawa. "Aku tidak bisa memutuskan, aku menyerahkan kepada Lily saja," lanjut Yen Mo. "Bagaimana Lily apakah kau menerimanya?" tanya Yen Mo.
Lama Lily berpikir dan dia pun mengangguk.
Dan akhirnya undangan pertunangan Lily menyebar Pangeran Chen Xia Leng gang menerima undangan merasa patah hati tapi apalah daya mereka. Mereka juga tak bisa memaksa dan lebih baik melihat wanita yang di cintai mereka bahagia daripada sedih.
Satu minggu kemudian acara pernikahan Lily dan Huan Tian di gelar di kediaman Jenderal Mo, banyak para undangan datang dan kagum dengan ketampanan dan kecantikan Lily yang sekarang menampakkan wajahnya yang cantik.
__ADS_1
Lily
Huan Tian
Acara pernikahan Lily dengan Huan Tian berjalan lancar tanpa gangguan dan sekang mereka sudah berada di gerbang di kediaman Jenderal Mo untuk menuju ke istana Huan Tian.
"Tidakkah kalian ingin bermalam lagi?" tanya Mu Yue.
"Maaf tapi kami harus pergi, kapan-kapan kami akan berkunjung kembali," jelas Huan Tian.
"Baiklah jagalah adikku dengan baik," kata Yen Mo.
"Baik aku akan menjaganya dengan sangat baik," kata Huan Tian.
Lily yang masih menggendong Lian keponakannya serasa tak ingin berpisah begitu juga dengan Lian yang selalu menempel pada Lily.
Lian yang sudah berumur satu tahun sangat menggemaskan dan cerdas.
"Lian ayo kemari ibu gendong, bibi mu akan pergi," kata Mu Yue.
"Ijak mau" kata Lian semakin erat memeluk leher Lily.
Lian menganggukan kepalanya dan mau melepas Lily dengan berat hati, dua menangis dan itu membuat Lily semakin tak tega. Lily mengeluarkan sebuah mainan dari balik tangannya.
"Nah Lian ambil ini, jika Lian rindu bibi Lian bisa meniup seruling ini dan bibi akan muncul," kata Lily.
"Aiklah, api bibi anji ya," ucap Lian yang masih belum mahir berbicara, meskipun pada umurnya sekarang seharusnya belum bisa bicara karena Lian spesial jadi dia berbeda.
"Janji," kata Lily sambil mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Lian.
Mereka pun berangkat pergi menuju istana Huan Tian selama perjalanan menggunakan kereta Lily hanya tertidur dan saat memasuki hutan menunu bukit kereta yang mereka tumpangi terbang.
Tak butuh waktu lama sampailah mereka di istana Huan Tian. Karena tak ingin mengganggu tidur Lily Huan Tian menggendong Lily menuju kamar mereka.
Dia meletakkan Lily perlahan agar tak membangunkannya.
"Aku sangat bahagia," gumam Huan Tian lalu mengecup kening Lily kemudian di keluar kamar menuju sebuah ruangan.
Di dalam ruangan. "Aku harus menyembunyikan ini," kata Huan Tian yang memegang sebuah batu kristal berwarna merah. Dia mengingat saat dia menemukan batu itu.
Flashback
Huan Tian berlari kesana kemari dan tak sengaja melihat seorang kakek yang sedang di hadang oleh para kawanan perampok. Tanpa pikir panjang dia melawan para perampok dan dalam sekejab dia sudah berhasil mengalahkan kawanan perampok itu.
__ADS_1
Kakek yang duduk di bawah pohon berkata."Terimakasih nak, apakah kau sedang mencari batu suci?" tanya kakek itu sontak pertanyaan itu membuat Huan Tian langsung memegang kedua pundak kakek itu.
"Bagaimana kakek tahu?" tanya Huan Tian.
"Kau tak perlu tahu itu, yang penting aku tahu letaknya," kata kakek itu.
"Dimana kek?" tanya Huan Tian.
"Kau carilah sebuah goa di hutan ini, tapi kau harus hati-hati karena di sana sangat berbahaya," ucap Kakek itu.
"Benarkah, kalau begitu aku akan pergi," kata Huan Tian langsung berbalim pergi tapi dia berhenti. "Teri..," ucapan Huan Tian terhenti saat keberadaan kakek itu sudah tidak ada di tempat. Off
"Aku penasaran siapa kakek itu," gumam Huan Tian.
Kehidupan rumah tangga mereka damai dan tenang. Harmonis itulah pandangan para pelayan.
"Sayang kenapa di luar, angin malam tak baik lho," kata Huan Tian yang datang dan memeluk pinggang Lily.
"Aku hanya bosan di dalam," jawab Lily.
Huan Tian membalikkan tubuh Lily. "Aku ingin anak," kata Huan Tian yang langsung membuat Lily tersedak dan memerah malu.
Malam itu adalah malam pertama bagi pasangan yang sudah satu bulan menikah.
Pagi hari yang menjelang siang, sepasang suami istri masih setia berada di kamar mereka tak ada yang berani membangunkan mereka.
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa like, comments and vote
Thank You
Happy Reading.
__ADS_1