
Mereka berjalan memasuki hutan untuk mencari batas terlarang hutan kabut.
"Apakah masih jauh?" tanya Lily yang merasa sudah sangat lama berjalan tapi belum sampai juga.
"Sebentar lagi, kurasa di......tunggu...emmm....di sini coba lihat," kata Minghao yang berjongkok menunjukkan batas terlarang.
Lily pun mengikuti minghao berjongkok juga.
"Ini! Pastas saja kau melewatinya, toh batasnya sekecil ini," kata Lily seraya maju sambil berjongkok.
"Lily apa yang kau lakukan," kata Minghao yang terkejut dengan tindakan Lily.
Saat Lily melewati garis pembatas tak terjadi apa pun.
"Kenapa tak terjadi seperti waktu itu ya?" bingung Minghao.
Lily mengangkat bahu acus seraya berdiri semakin memasuki batas terlarang.
"Lily tunggu aku," kata Minghao yang beranjak dari jongkoknya kemudian berlari menghampiri Lily. Tapi setelah dia yang melewati garis pembatas, kejadian saat pertama kali dia melewati juga terjadi, hewan-hewan menjerit.
"Minghao apa yang terjadi?" tanya Lily.
"Ini kejadian pertama aku tak sengaja menginjak garis pembatas terulang lagi, tapi mengapa saat kamu menginjaknya tak terjadi apapun," bingung Minghao.
"Aku juga tak tahu, tapi bagaimana sekarang, lebih baik kita masuk kedalam sekalian," ajak Lily.
"Apa kau gila, jika masuk sama saja mengantarkan nyawa," marah Minghao.
"Tidak akan, ayo cepat," kata Lily menyeret Minghao masuk semakin dalam.
Mereka berjalan dengan sangat hati-hati. Di sepanjang jalan Lily dan Minghao tak melihat seekor hewan pun ada barang serangga kecil hanya ada bunga beracun, herbal, bunga biasa dan banyak lagi tumbuhan langka.
Lama berjalan mereka disuguhkan dengan pemandangan yang menyeramkan. Terlihat sebuah istana yang gelap dan dikelilingi pohon mati, kilat menyambar Guntur bergemuruh. Tapi aneh nya tak terlihat dari luar garis pembatas.
"Siapa kalian? Bagaimana kalian bisa menembus garis pembatas terlarang? Oh jadi kalian yang menyebabkan hewan-hewan ribut," kata seseorang berbadan kekar tegap dan sangar.
"Maaf dengan itu, tapi kami kesini ingin bertemu dengan penjaga hutan kabut ini," kata Lily.
"Hahahahaha, hanya manusia dan hewan lemah seperti kalian ingin bertemu dengan tuanku, hahahaha, kalian tak pantas," kata penjaga dengan suara yang nyaring memekakkan telinga.
"Heh, kau bisa bicara dengan pelan tidak, suaramu itu bisa menuliskan telinga ku," kata Lily kesal karena telinganya berdengung.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia tidak mati dengan suaraku ini, biasanya orang akan langsung mati mendengar suara nyaringku," kata penjaga sangar.
Geram dia pun berniat untuk membunuh Lily dan Minghao, tapi terhenti.
Prok prok prok, "Hebat hebat kau tak terkena dampak dari suara penjaga gerbang ku, lihat hewanmu saja telinganya sudah mengeluarkan darah," kata Pria yang ternyata adalah Xia Leng.
Mereka bertiga pun menoleh menatap asal suara. Lily beralih melihat keadaan Minghao yang terlihat kesakitan dan ketakutan saat melihat pria bertopeng atau Xia Leng.
"Minghao kau tak apa, telan ini untuk menetralkan sakitnya, pasti sakit kan," kata Lily khawatir dengan keadaan Minghao yang telinganya tak henti mengeluarkan darah.
Minghao terharu dengan perhatian Lily, meskipun menyebalkan tapi sangat berharga baginya, karena baru sekarang dia dianggap teman dan keluarga oleh tuan kontraknya biasanya dia akan diperbudak.
"Terimakasih Lily," ucap Minghao, tapi Lily menggelengkan kepalanya menandakan jangan berterimakasih itu sudah kewajibannya menolong teman dan keluarganya. Lily pun beralih berkata pada penjaga gerbang.
"Hey kau dasar pria jelek. Merasa temanku tampan kau ingin melukainya ya. Huh memang kau itu sempurna dari segi badan tapi tidak dengan wajahmu," kata Lily mengejek.
Xia Leng terkekeh dengan perkataan Lily yang marah.
Geram pria sangar, tapi dia tak dapat melakukan apapun, karena larangan dari tuannya. Xia Leng tersentak tapi tak terlihat dari ekspresinya.
"Hey brengsek, ajarin tuh bawahanmu, jangan sembarangan menyakiti orang, belum tentukan kami akan berbuat rusak di sini," kata Lily yang tanpa mendapat lawan bicaranya.
"Hahahahaha, maaf kalau begitu, tapi itu wajar karena dia penjaga gerbang istanaku, dia mengikuti perintahku untuk tak membiarkan siapapun bisa menembus istanaku, dan juga aku punya nama bukan brengsek," jelas Xia Leng.
"Jadi apa urusanmu datang ke sini?" tanya Xia Leng.
"Aku kesini ingin menanyakan sesuatu," jelas Lily.
"Apa itu aku akan menjawabnya?" kata Xia Leng yang sudah berada dihadapan Lily. Penjaga sangar itu menunduk hormat dan bingung dengan sikap tuannya, tapi dia tak berani bertanya dan menebak.
"Aku ingin tanya padamu, bukankah kau suami dati dewi semesta jadi roh mu yang terdahulu kakek buyutku dong, jadi kita itu sedarah kan tapi kenapa kau mau menikahiku?, bukankah itu tak boleh?" tanya Lily.
"Kau benar, tapi itu dulu sekarang aku reinkarnasi dari kakek buyutmu dan darah keturunan kita sudah terputus jadi tak masalah jika kita menikah, aku hanya mengingat pesan dari istri ku terdahulu sedangkan ingatan yang lainnya aku tak mengingatnya, tapi kenapa kau bertanya begitu, apakah kau sudah mulai menyukaiku," goda Xia Leng.
"Bukan begitu, aku tidak akan menikah denganmu," kata Lily mengelak. Dia tak tahu saat bersama dengan Xia Leng ini jantungnya selalu berdetak tak karuan.
"Ahhh, ayolah, aku masih muda dan juga tampan, aku juga dapat menyempurnakan kekuatan dewimu," kata Xia Leng.
"Jangan harap, aku bukan istrimu yang dulu, aku tak ingin menjadi pengganti," kata Lily.
"Benarkah, tapi jika aku tak menganggapmu sebagai pengganti bagaimana?" kata Xia Leng.
Jantung Lily semakin memacu cepat, tapi dia berusaha bersikap tenang.
__ADS_1
"Tidak, Minghao lebih baik kita pergi dari sini, aku juga sudah mendapatkan jawabannya," kata Lily seraya mengajak Minghao pergi.
"Hey tunggu, jangan pergi, jika kau pergi aku akan selalu mengikutimu, aku sudah tak perduli dengan penolakanmu. Dari pertama aku melihatmu aku sudah tertarik dengan mu," kata Xia Leng yang membuat pengawal bayangannya dan penjaga gerbang menganga tak percaya.
"Apakah benar ini tuan, kenapa tuan seperti itu, biasanya tuan selalu bersikap dingin, sadis terhadap semua orang yang dilihatnya," batin keduanya.
"Kenapa aku harus menurutmu?" kata Lily seraya berhenti.
"Karena aku menyukaimu," kata Xia Leng.
"Hahahahaha, suka? Orang sepertimu?" kata Lily yang tertawa mengejek.
"Ya, apa salahnya, aku juga manusia wajar menyukai seseorang," kata Xia Leng.
"Aku tak butuh kata-kata," kata Lily yang berlalu pergi. Xia Leng ingin menyusul tapi terhenti karena aura pembunuh yang dirasakannya dari Lily, dia tahu Lily dalam keadaan marah, tapi dia tak tahu apa sebabnya, tak mungkinkan hanya karena kata-kata yang diucapkannya.
Sebenarnya kata-kata yang di ucapkan oleh Xia Leng tadi 'aku tidak menganggapmu sebagai pengganti', itu adalah kata-kata yang diucapkan oleh Cinta pertamanya.
Flashback
"Lily aku tak menganggapmu sebagai penggantinya, aku benar-benar menyukaimu," kata Dion (Cinta pertama Lily)
"Benarkah!" kata Lily.
*
*
*
*
*
*
*
JANGAN BOSAN-BOSAN YANG MAMPIR BACA CERITAKU.
Dan jangan lupa juga like, comments and vote yang banyak.
Thank You... ☺️
__ADS_1
Happy Reading.