Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Pagi hari yang cerah Jia Li berencana pergi mengunjungi 2 bersaudara. Tapi sebelum itu dia di panggil ke ruang kerja ayahnya pas sekali untuk meminta ijin. Saat sudah di ruang kerja Raja Biao tanpa basa-basi langsung bertanya pada Jia Li.


"Puteri dari mana kau bisa mengumpulkan orang-orang hebat yang membantumu saat di hari pertama pesta?" tanya Raja Biao.


"Ah itu, mereka orang-orang yang ikut berlatih saat aku tinggal di hutan bersama seorang kakek dan kakek tersebut adalah guruku," kata Jia Li setengah berbohong, karena dia tak mau jika ayahnya tahu jika dirinya lah yang melatih mereka semua. Bukan tak percaya pada ayahnya, tapi ini belum waktunya memberitahukan, karena masih perlu di kembangkan lagi.


"Baiklah kalau begitu, itu bagus ada yang menjagamu, karena ayah tak bisa selalu menjagamu," kata Raja Biao.


"Ayah tenang saja, aku akan selalu baik-baik saja dannn bolehkah hari ini aku keluar," pinta Jia Li.


"Boleh, tapi...," kata Raja Biao.


Dia sudah mendapat ijin dari ayahnya, tetapi dengan syarat.


"Bawa pengawal," perihtah Raja Biao.


Dan berakhirlah Jia Li di kawal dengan 4 orang yang sedang berjalan di belakanya sekarang.


"Huhhh kenapa aku hidup sebagai Puteri yang di sayangi, jadinya kan tak bisa bebas," gumam Jia Li.


Lama melamun tak terasa dia sampai di depan rumah 2 bersaudara dan langsung masuk.


"Nona anda datang, maaf nona saya tak menyiapkan apa-apa, kalau nona memberitahu akan datang saya akan menyiapkan sesuatu," panggil Yongsheng.


"Tak perlu, aku datang cuman untuk melihat keadaan kalian, dimana Yimin?" tanya Jia Li.


"Di belakang lagi menyirami kebun, siapa mereka nona?" tanya Yongsheng tak mengenal orang-orang di belakang Jia Li.


"Biasa selalu khawatir siapa lagi yang bisa memerintahkan mereka," kata Jia Li sambil berbisik. "Terimakasih atas bantuan kalian tempo lalu," ucap Jia Li.


Yongsheng mengangguk menanggapi bisikan Jia Li "Tidak perlu berterimakasih nona itu sudah jadi tugas kami selalu membantu nona," kata Yongsheng. "Oh ya nona orang-orang yang nona suruh saya jemput itu orang dari mana? Dan nona kenal mereka darimana dan kapan?" tanya Yongsheng penasaran.


Sebelum Jia Li menjawab, dia menyuruh pengawal yang mengikutinya itu berjaga di luar saja dan mereka pun mematuhi Jia Li.


"Mereka sama dengan kalian, anak yang terlantar tak punya orang tua pengemis budak dan sebagainya tergabung di dalam situ," kata Jia Li menarik nafas sebelum melanjutkan. "Mereka ku kumpulkan saat aku masih tinggal di hutan dan aku melatih mereka di sana dan mereka juga tinggal di sana, ya seperti yang kau tahu saat kau menjemput mereka, aku dulu juga tinggal di dekat sana," kata Jia Li.

__ADS_1


"Nona pernah tinggal di hutan," kata Yimin yang datang tiba-tiba.


Yongsheng menegur adiknya itu karena tidak sopan.


"Yimin jaga kelakuanmu," tegur Yongsheng, tapi langsung di jawab Jia Li.


"Tak apa, berapa kali ku bilang jangan terlalu formal padaku, anggaplah aku orang biasa," kata Jia Li kesal karena mereka berdua selalu melupakan kata-kata Jia Li mengenai kesopanan.


"B baiklah nona," jawab Yongsheng.


Mereka pun makan bersama di rumah sederhana itu. Sehabis dari rumah 2 bersaudara Jia Li ingin mendatangi hutan tempat yang menjadi pintu masuk ke istana awan, tapi dengan 4 pengawal ini rencana itu hancur berantakan, dia pun memilih kembali dan merencanakan kembali untuk kepergiannya pada malam hari.


Malam pun tiba Jia Li menyelinap dari banyak nya penjagaan di istana itu dan dia pun tahu jika ayahnya juga mengirim pengawal bayangan untuk mengawasinya, tapi itu tak masalah bagi Jia Li dengan lihainya dia berhasil menyelinap tanpa pengetahuan oleh siapa pun.


Setibanya di hutan seperti pertama kali dia mencoba sekarang pun dia masih tak bisa memasukinya. Tak putus asa Jia Li pun terus berusaha menerobos meskipun hasilnya selalu nihil.


Lama-kelamaan Jia Li pun merasa lelah dan dia beristirahat di atas pohon.


"Hey Huan Tian," teriak Jia Li kesal. "Jika kau mendengarku, maka cepatlah temui aku," lanjut Jia Li.


Di lain tempat, yaitu istana awan lebih tepatnya di sebuah gazebo terlihat seorang pria tampan yang tersenyum-senyum sendiri saat melihat cermin, ya dia adalah Huan Tian yang sedang melihat Jia Li dan cermin. "Kau tak sabaran," gumamnya. Dan seketika dia menghilang dari tempatnya berasal dan muncul di bawah pohon tepat di bawah Jia Li yang sedang mengumpatinya.


"Pria apa lagi," kata Huan Tian yang dengan santainya duduk di bawah pohon.


Jia Li langsung menengok ke bawah dan karena tak seimbang dia jatuh dan untung Hua Tian menyambutnya dna berakhir dengan saling tatap.


Cukup lama mereka bertatapan. "Ekhem khem pria anehhh," kata Jia Li sembarang dan langsung berdiri dari pangkuan Huan Tian dengan masih berdebar, dan dia berusaha menetralkannya dengan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Huan Tian berdiri dan mencondongkan badannya ke depan mengarah pada Jia Li dan mensejajarkan wajah nya pada Jia Li.


Deg deg deg.


Semakin maraton jantung Jia Li dan dia tak bisa berkata-kata apapun lagi.


"Baru sehari kita tak bertemu, apakah kau serindu itu padaku," goda Huan Tian.

__ADS_1


"T t tidak, a aku a ada yang ingin ku t tanyakan saja," kata Jia Li gugup.


"Benarkah," kata Huan Tian semakin memajukan tubuhnya.


Jia Li langsung mendorong Huan Tian dengan kedua tangannya, tapi malah tangan Jia Li di genggam oleh Huan Tian.


"Ahhh aku kecewa, aku saja ya yang sangat merindukanmu," kata Huan Tian.


"A aku...," perkataan Jia Li terhenti saat bibir Huan Tian bersatu dengan bibirnya. Jia Li terbelalak terkejut, dia pun memundurkan badanya, tapi di tarik Huan Tian lagi kedekapannya.


"Kenapa kau kesini?" tanya Huan Tian masih dalam pose memeluk Jia Li.


"Lepaskan dulu," ucap Jia Li memberontak.


"Tidak mau," sahut Huan Tian.


Jia Li pasrah melawan pun tak ada gunanya, dia mendongakkan kepalanya menatap manik mata tajam Huan Tian. "Kan sudah ku katakan tadi, ada yang ingin ku tanyakan," jelas Jia Li.


"Apa itu?" tanya Huan Tian.


"Kenapa setiap aku mencoba masuk kehutan ini selalu tak bisa?" tanya Jia Li.


Huan Tian melepas pelukan nya dan menjawab. "Emmm mungkin kau tidak cukup kuat untuk menembusnya," kata Huan Tian asal.


Tapi Jia Li malah percaya, memang dirinya kan belum sekuat dirinya yang dulu.






__ADS_1


Jangan lupa like, comments and vote ya... 😊


Happy Reading


__ADS_2