
Sesampainya di depan istana kerajaan langit Jia Li langsung masuk menyerahkan kudanya kepada penjaga gerbang dan langsung menemui sang kaka Putra Mahkota Meng dan Pangeran Zhe.
"Kakak-kakakku yang tamvannn," teriak Jia Li saat masuk ke ruang kerja Putra Mahkota Meng, di sana Pangeran Zhen juga ada.
"Hei adikku yang manjaa," sahut Pangeran Zhe, sedangbPutra Mahkota Meng hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua adiknya itu.
Jia Li mendengus di sebut manja, padahal dia tidak manja, tapi kekanakan jika berada dekat dengan kakak-kakaknya.
"Ada apa?" tanya Putra Mahkota Meng yang memecah suasana tegang antara Jia Li dan Pangeran Zhe.
"Hehehe, tidak ada hanya ingin mengunjungi kakak," ucap Jia Li memutus tatapan kesalnya pada Pangeran Zhe dan duduk menghadap Putra Mahkota Meng.
"Pasti ada maunya," kata Pangeran Zhe menyindir dan tepat Jia Li cengengesan karena tebakan Pangeran Zhe benar.
"Ingin apa?" tanya Putra Mahkota Meng.
"Ahh, belum waktunya aku minta, sekarang hanya ingin meminta janjinya," ucap Jia Li.
"Untuk?" ucap Putra Mahkota Meng.
"Itu...agar saat aku minta suatu keinginan kalian berdua mengabulkannya," ucap Jia Li ragu.
"Baiklah, kami berjanji, asalkan jangan permintaan yang aneh-aneh yang membuatmu dalam bahaya," ucap Putra Mahkota Meng.
"Ya, jika tidak kami menolaknya," sambung Pangeran Zhe.
"Yeaayyy, makasih, cup cup," ucap Jia Li lalu mencium pipi kedua kakak secara bergantian.
Jia Li pun langsung berlari keluar dengan gembira seperti anak kecil yang di janjikan suatu mainan yang paling di dambakannya.
....
Hari-hari berlalu tak terasa 2 hari lagi akan terlaksananya acara pernikahan Jia Li bersama Huan Tian.
Para pelayan mondar-mandir menpersiapkan acara dan melayani para tamu yang telah hadir karena tamu yang datang dari jauh jadi datangnya sebelum hari acaranya.
"Puteri Puteri bangun," Nuan mencoba membangunkan Jia Li yang masih tidur dengan nyenyaknya, tanpa menghiraukan kegaduhan para pelayan di luar.
"Hmmm," lenguhan Jia Li yang kemudian sunyi kembali karena Jia Li tertidur lagi.
"Puteri bangun, ini sudah siang," ucap Nuan lagi. Di belakang Nuan sudah ada para pelayan yang siap melayani Jia Li dengan membawa beberapa peralatan mandi dan peratatan dandan dari pakaian sampai hiasan kepala. Karena Jia Li pada hari itu harus menyambut mempelai prianya. "Puteri harus menyambut calon Puteri,"
"Hmmm, biarkan dia datang tanpa samnutanku," ucap Jia Li yang lebih mirip gumaman.
__ADS_1
"Ayolah Puteri jangan begini, bagaimanapun juga anda harus menyambutnya," ucap Nuan sambil mengguncang tubuh Jia Li.
"Akhhh, baiklah aku bangun," frustasi Jia Li yang langsung duduk. Tak ada anggun-anggunya yang melambangkan seorang Puteri kerajaan.
Beberapa waktu berlalu Jia Li telah selesai dengan rutinitas mandinya dan sekarang berpakaian dan meriah wajahnya.
"Nuan...kenapa pakaian ini sangat berat?" tanya Jia Li yang lelah menahan tangannya yang merentang ke samping.
"Memang seperti ini Puteri,"
"Lalu itu apa? Apakah aku harus memakai semua hiasan kepala itu?"
Nuan mengangguk mengiyakan.
"Tidak," teriak Jia Li yang membuat semua pelayan terkejut dan menunduk ketakutan.
"Eh maaf membuat kalian terkejut hehe, Nuan aku tak mau memakai semua itu, pakaian ini sudah berat apalagi di tambah itu yang ada aku tak mampu berjalan," keluh Jia Li.
"Tapi Puteri ini sudah seharusnya,"
"Tidak, aku tak mau, pilih saj, aku menggunakan itu, tapi pakaiannya ganti yang ringan atau aku tetap pakai pakaian ini tapi hiasan kepalanya satu atau dua saja,"
"Tap...,"
"Tidak ada tapi-tapian pilih,"
Jia Li terlihat berpikir. "Emmm, Baiklah,"
...
Jia Li sudah berada di pintu gerbang menunggu calon suaminya, hah calon kenyataannya sudah suami hehe.
20 menit berdiri kaki Jia Li sangat pegal di tambah pakaian berat. "Tunggu saja nanti jika sudah sampai," dengus Jia Li kesal.
Rombongan kereta Huan Tian telah terlihat, prajurit pelayan yang jumlahnya tak sedikit ikut mengiringi kereta Huan Tian. Saat kereta telah sampai di depan gerbang Huan Tian keluar kereta dan mendapat tatapan tajam dari Jia Li. "Ahhh salah apa lagi aku," batin Huan Tian yang berkeringat dingin.
"Selamat datang menantuku," ucap Raja Biao. "Jia Li sambut calon suamimu," lanjutnya.
"Baik ayah," ucap Jia Li dengan anggun. "Mari Yang Mulia," ucap Jia Li penuh penekanan.
...
Mereka telah berada di dalam ruangan yang mana di dalam terdapat Raja Biao, Putra Mahkota Meng, Pangeran Zhe, Huan Tian, Jia Li dan para petinggi setia yang ikut dengan Huan Tian. Mereka berbincang-bincang ringan mengakrabkan diri.
__ADS_1
"Jia Li antarkan calon suamimu ke kamarnya, sepertinya dia kelelahan karena perjalanan jauh, kalian juga istirahatlah, pelayan antarkan para tamu," ucap Raja Biao.
Orang-orang pun berangsur pergi dari ruangan itu dan seperti yang di perintahkan ayahnya Jia Li mengantar Huan Tian ke kamarnya. Sedari awal bertemu Jia Li tidak melirik maupun melihat kearah Huan Tian dia sadar jika sedari tadi dia selalu di tatap olehnya, tapi karena rasa kesalnya yang masih ada dia tak mengindahkan tatapan itu.
Mereka sampai di depan pintu kamar Huan Tian. Jia Li hendak melangkah pergi meninggalkan Huan Tian tapi karena tangannya di cekal oleh Huan Tian tubuh Jia Li membalik menghadap Huan Tian mata mereka kedua manik mata hitam Jia Li bertemu dengan manik mata hitam Huan Tian, hanya keterdiaman yang ada tanpa ada salah seorang dari mereka berniat memecah keheningan itu.
"Huhh," hembusan nafas frustasi Huan Tian. "Sekarang kenapa lagi? Kita sudah hampir 2 minggu tak bertemu aku sangat merindukanmu, Apakah kau tak merindukanku? Dan kenapa kau nampak kesal?"
Jia Li hanya diam tanpa ada niat menanggapi pertanyaan-pertanyaan Huan Tian.
"Tidak ada apa-apa, cuman kesal aja," jawab seadanya dari Jia Li sambil cemberut.
Huan Tian menarik Jia Li masuk ke kamarnya kemudian menutup pintu dan menarik Jia Li kepelukannya.
"Maaf jika aku membutamu kesal," lirih Huan Tian.
Tak ada tanggapan dari Jia Li. "Apa yang harus ku lakukan untuk membut istriku ini tidak ngambek lagi?" ucap Huan Tian.
Jia Li mendingakkan kepalanya dan menatap manik mata Huan Tian, dan tak lama Jia Li tersenyum penuh maksud.
Huan Tian melihat senyuman itu merasa akan ada hal yang akan membuatnya kewalahan lagi.
"Aku mau...," sambil berfikir Jia Li melepaskan pelukan Huan Tian dan berjalan-jalan pelan. "Aku mau setelah pernikahan telah usai aku mau berpetualang,"
"Tidak," jawab Huan Tian langsung.
Jia Li kembali cemberut. "huft...apakah bisa yang lain?" frustasi Huan Tian.
"Emmm, aku mau itu, tapi....tidak jadi deh," ucap Jia Li sedih. "Aku akan berdiam diri saja di istana awan nanti," lanjutnya.
Huan Tian terlihat lelah dengan Jia Li, bukan lelah karena bosan dengan Jia Li, tapi lelah karena sikap Jia Li yang selalu berubah-ubah dan dia tak dapat memprediksi itu.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like, comments and vote ya...
__ADS_1
Maaf jarang up, karena sedang sibuk-sibuknya ini.
Happy Reading.