
Huan Tian menarik dirinya. "Ohhh, kenapa tadi kamu menangis?" tanya Huan Tian.
Lily malu sendiri dan merutuki dirinya yang tak melihat sekitar.
"Bukan urusanmu," jawab Lily acuh lalu berbalik dan ingin pergi tapi berhenti saat Huan Tian berkata.
"Hatiku sesak saat melihatmu menangis," ucap Huan Tian. "Apakah kau memikirkan cara untuk bisa menyempurnakan kekuatanmu?" tanya Huan Tian.
Lily langsung berbalik. "Apakah kau tahu caranya?" tanya Lily dengan ekspresi berbinar.
"Sebenarnya tahu, tapi...," jeda Huan Tian.
"Tapi apa?" tanya Lily tak sabar.
"Beritahu tidak ya," kata Huan Tian.
"Beritahu ya," pinta Lily memelas dengan mengedil-ngedipkan matanya.
Huan Tian terkekeh dan duduk di di atas batu Lily mengikutinya untuk duduk.
"Ada sebuah batu suci berbentuk kristal yang bisa membantumu, tapi sayangnya batu itu hilang entah kemana, aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak bisa menemukannya dan ada satu cara lagi kau harus menemukan seorang pasangan, tapi aku tak menyarankan cara kedua, aku tak ingin kau bersama pria lain," jelasnya.
"Eee, apa hubungan kita ya, jadi kau melarangku mendekati pria lain," kata Lily bingung sambil mengerutkan dahinya.
Huan Tian langsung menarik Lily dan memeluk pinggangnya erat. "Kau itu milikku," bisiknya tepat di telinga Lily.
Blush
Wajah Lily merona merah, semerah tomat yang kelewatan matang hehe.
"A a ah, aku bukan milik siapa-siapa dan lagi pula aku sudah tak ingin mencoba cara kedua," kata Lily. "Bisa lepaskan?" lanjut Lily sambil mendorong dada Huan Tian.
Huan Tian lega dan melepaskan Lily. "Bagus," ucapnya.
"Lagi pula aku juga sudah bertemu dengan orang itu, tapi...," jeda Lily, "Aku tak suka di dekatnya meskipun aku merasa nyaman tapi tidak tahu hati kecilku menolaknya," jelas Lily. "Aku akan mencari batu itu," lanjut Lily bertekat. "Dimana aku bisa mulai mencarinya?" tanya Lily.
"Nanti saja kuberitahu, kau harus pulang dulu hari sudah hampir gelap," kata Huan Tian yang membuat Lily sadar dan segera berlari menuju kediamannya.
Huan Tian yang di tinggal tersenyum lebar dan tak berapa lama setelah Lily pergi datang lah seseorang berpakaian hitam yang ternyata pengawal bayangan Huan Tian.
"Tuan," panggil pengawal bayangan itu.
"Xi, kau jaga dia," perintah Huan Tian.
"Baik tuan," jawab Xi dan langsung melesat pergi.
Saat Lily sudah di depan kediamannya Bird Dragon dan Minghao keluar secara tiba-tiba.
"Astaga," mengelus dadanya, " kalian ini kenapa muncul tiba-tiba," lanjut Lily dengan kesal. "Dan kenapa dari tadi tak keluar?" tanya Lily.
__ADS_1
"Kami takut Lily, aura pria itu sangat mengerikan," jelas Bird sambil bergidik.
"Masa sih, perasaanku dia baik dan aku tak merasakan aura mengerikan pada dirinya," kata Lily sambil berjalan.
"Kami tidak tahu masalah itu, tapi kami sebagai hewan spiritual mitologi kami merasa tak asing dengan auranya," kata Bird.
"Benar, sudah 1000 tahun yang lalu aku merasakannya," lanjut Dragon.
"Emmm begitukah, ahhh terserah kalian lah, aku mau mandi, makan dan istirahat. Apakah kalian mau makan?" tanya Lily.
"Kami tidak memerlukan makan terlalu sering, jadi kami akan bermeditasi saja," jelas Dragon dan di angguki oleh 2 orang lainnya.
"Baiklah, kalau begitu pergilah," kata Lily sambil mengibaskan sebelah tangannya.
Bird, Dragon dan Minghao hilang seketika dan suasana pun menjadi sepi lagi.
"Ahhh sendiri lagi, kalau begini...teringat saat aku di duniaku dulu, melakukan sesuatu pasti sendiri," gumamnya sambil menghela nafas.
Malam itu karena Lily sendiri di kediamannya dia pergi kedesa untuk sekedar mencari hiburan.
Di desa sedang ada festival tahunan yang biasa di sambut meriah oleh para penduduk. Festival panen itulah namanya, karena tahun ini usahan kebun maupun pertanian mereka berhasil jadi tahun ini festival diadakan lebih meriah. Makanan gratis, atraksi dan sebagainya.
"Paman boleh satu," kata Lily yang mampir di sebuah kedai mie.
"Tunggu ya," jawab penjual.
"Paman satu," ucap pengunjung lainnya.
Lily tak sadar pengunjung itu adalah Huan Tian yang menyamarkan wajahnya dengan tudung. Lily hanya asik dengan makanannya tanpa menghiraukan orang lain.
"Enak," ucap Huan Tian yang duduk di samping Lily.
"Kau benar ini enak sekali apalagi di tambah ini, coba aja," ucap Lily sambil menyerahkan mangkuk cabe tanpa melihat kearah yang di ajak bicara.
Setelah makanan Lily habis dia beranjak pergi dan berjalan santai memperhatikan aktifitas penduduk.
Dia beberapa kali mampir di kedai makan sekedar mencicipi makanan, mumpung gratis.
Setelah serasa kekenyangan dan hari pun sudah larut dia pun pulang ke kediamannya. Dia masih tak sadar kalau Huan Tian selalu mengikutinya. Dia pulang dengan senyum mengembang dan berlari-lari kecil lalu melompat.
"Ekhem," deheman seseorang yang membuat Lily terkejut dan waspada.
"Siapa?" tanya Lily yang melihat seseorang yang menggunakan tudung.
Huan Tuan tersenyum jail hendak mengerjai Lily. "Aku manusia," ucap Huan Tian.
"Aku tidak tahu kau manusia karena datang tanpa suara seperti roh gentayangan yang tak nampak," ucap Lily.
Bukan Huan Tian yang berhasil mengerjai Lily, tapi Lily yang membuat Huan Tian kesal. "Kau tidak tahu manusia juga punya kekuatan tembus pandang yang di gunakan untuk mengikuti orang," ucapnya kesal.
__ADS_1
"Hehehe, berhentilah main-main," ucap Lily yang sudah tahu jika orang yang di depannya ini adalah Huan Tian, jika bukan kenapa sedari tadi hanya berbicara tanpa menyerang? Kenapa Lily yakin? Karena dia tahu jika di hutan ini yang berani dengannya baru-baru ini hanya Huan Tian.
Huan Tian menghela nafas. "Sejak kapan kau tahu jika itu aku," kata Huan Tian sambil melepas tudung nya.
"Baru saja," kata Lily seraya berjalan pergi.
Huan Tian mengejar dan mensejajarkan dirinya dengan Lily. "Wahh memang pesona ku ini tak ada gadis yang tak merasakanya," ucap Huan Tian bangga.
Lily mengangkat sebelah alisnya. "Terlalu percaya diri kau, aku tahu dari keseharianku dan orang yang ku temui, bukan pesonamu yang membuatku tahu," ucap Lily.
"Huft tetap saja menurutku begitu," ucap Huan Tian kekeh dengan pendiriannya.
"Terserah," ucap Lily. "Oh kebetulan kau di sini, kau akan memberitahukan ku tempat nya kan," ucap Lily yang berhenti dan langsung menghadap Huan Tian.
"Iya, tapi tidak sekarang," jawab Huan Tian.
"Kenapa?" tanya Lily lesu.
"Kekuatan mentalmu masih kurang dan ketahanan fisikmu juga," jawab Huan Tian.
Lily menunduk dan. "Baiklah aku akan berlatih dengan giat," ucap Lily tiba-tiba.
Huan Tian mengelus dadanya yang terkejut. "Bisakah jangan membuat orang terkejut," kata Huan Tian.
"Hehehe maaf," ucap Lily.
Mereka pun berpisah kembali ke kediaman masing-masing.
Saat tidur lelap Lily merasa ada seseorang yang masuk ke kamarnya dia perlahan membuka matanya, tidak lebar hanya sedikit agar orang yang masuk tak mengetahui kalau dia sudah bangun.
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa like, comments and vote.
Thank You...
happy Reading.
__ADS_1