
Untuk para calon istri para Pangeran di minta untuk tinggal di istana.
Mereka diminta untuk membiasakan diri dilingkungan iatana.
Mu Yue dan Lily sebenarnya berat meninggalkan Xiao Lan, karena mereka tahu beratnya persaingan di istana, tapi mereka juga lega karena Xiao Lan bukan wanita yang lemah.
Lily dan yang lainnya pulang ke kediaman, tapi saat ingin menaiki kereta dia dicegat oleh seseorang, dia adalah Mu Yue.
"Lily terimakasih," ucap Mu Yue dan langsung memeluk Lily.
Lily hanya mengusap punggungnya.
"Aku tau kau yang mengubah perkataan Pangeran kedua, aku juga sudah sadar akan hal itu di saat aku melihat Pangeran kedua selalu memperhatikanku tapi mengucapkan kata yang lain, dan saat ku lihat kearahmu, kamu terlihatbfokus pada Pangeran kedua, jadi kuaimpulakan kamu sudah membantuku," jelas Mu Yue yang sudah melepas pelukannya.
"Aku tahu itu, dan aku tak akan membiarkan calon kakak iparku direbut orang, kakakku sedikit tertarik denganmu terlihat saat dia bersamaku dia selalu menanyakanmu kepadaku," bisik Lily tepat di telinga Mu Yue.
Pipi Mu Yue pun merona saat Lily mengatakan itu.
"Jadi ku harap kau lebih berusaha lagi, agar kau bisa sepenuhnya jadi kakak iparku," lanjut bisik Lily.
Mu Yue tertunduk dan wajahnya memanas dan merah seperti tomat. Dia mengangguk pelan mengiyakan.
Meskipun umur Lily lebih tua dari Mu Yue tapi kan saat dia menikah dengan kakaknya otomatis umur tak mempengaruhi tetap aja jadi kakak ipar.
Mereka pun berpisah dan manaiki kereta masing-masing.
Sesampainya di kediaman Jenderal Mo, Lily langsung menarik Yen Mo setelah dia turun dari kudanya, orang-orang yang melihatnya menjadi bingung.
"Kakak kalian mau kemana?" tanya Li Mu dengan suara serak khas bangun tidur. Karena sepanjang perjalanan orang-orang yang dikereta sudah tidur kecuali Lily, dia selalu waspada.
"Kalian duluan saja istirahan, aku ada hal yang ingin dibicakan kepada kakak Mo," kata Lily.
Merekapun menuju kamar masing-masing.
"Lily ada apa?" tanya Yen Mo bingung.
"Emmm, kakak apakah kakak tidak ingin memberiku kakak ipar?" kata Lily yang membuat Yen Mo terbatuk.
"Uhuk, uhuk, kamu ini kenapa Lily? Apa maksudmu?" kata Yen Mo yang tak habis pikir.
"Aku ingin kakak menikah dengan Mu Yue," kata Lily yang membuat Yen Mo kembali terbatuk dan pipinya mulai merona.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk, uhuk, kau ini Lily ada -ada saja, mana mau dia sama kakak yang hanya seorang Jenderal sedangkan dia Putri Perdana Menteri," jelas Yen Mo.
"Ihhh, kakak ini tidak peka sama sekali, Mu Yue itu sudah menyukai kakak sedari kakak mulai menjabat menjadi Jenderal termuda," jelas Lily.
"Benarkah! Jangan ngarang kamu," kata Yen Mo.
"Beneran, coba saja kakak melamarnya, akubtau kakak juga tertarik dengannya kan" kata Lily.
"Ekhm, ekhm, kamu ini tau dari mana," kata Yen Mo yang memalingkan wajahnya menutupi rona di pipinya.
Mata Lily menyipit menandakan dia tahu dengan senyuman penuh arti.
"Sudah sudah, lebih baik kita istirahat," kata Yen Mo mengalihkan topik.
"Iya deh, tapi kakak harus menjadikannya kakak iparku ya, aku sudah berusaha mempertahankannya," kata Lily.
"Mempertahankannya? Memangnya apa yang kau lakukan?" selidik Yen Mo.
Sadar dengan keceplosannya Liy langsung berlari ke arah kamar nya menghindari pertanyaan Yen Mo. Tapi Yen Mo tak mempermasalahkannya dan memilih tak memikirkannya.
Pagi telah hadir dengan angin sejuk, suara lambaian dedaunan yang menciptakan melodi yang merdu ditambah kicauan burung kecil yang sedang bersahutan menambah kesan kedamaian.
Dibawah pohon yang rindang terlihat empat orang sedang berbaring menikmati angin sabil menatap langit cerah. Mereka adalah Lily, Lin Sin, Li Mu dan Li Min, seperti biasa mereka terus latihan dan sekarang merupakan hari terakhir mereka berlatih. Lily cukup puas dengan kegigihan mereka dalam satu bulan ini, pasalnya mereka sudah naik tingkat menjadi Lin Sing tingkat dunia akhir, Li Mu tingkat dunia awal dan Li Min tingkat tinggi tengah, ini juga berkat pill yang dikonsumsi mereka tiap bulannya yang mampu meningkatkan kekuatan mereka berkali lipat dari orang biasa.
"Sekarang aku ingin melatih kalian untuk pertarungan sesungguhnya," kata Lily menyeringai dan mereka bertiga yang melihat bergidik ngeri dengan seringaian Lily. Pasalnya sedari mereka bertemu mereka tak pernah melihat seringaian Lily, dan saat kembalinya Lily dari hutan dan membunuh para pembunuh bayaran yang di utus seseorang Lily lebih banyak berubah dari sikapnya yang selalu tersenyum meskipun di luar kediaman sekarang di dalam kediaman pun jarang, jika tersenyum hanya kepada orang-orang terdekatnya.
"Baik kak/Lily," ucap mereka serempak.
Merekapun mengikuti kemanapun Lily pergi. Tibalah mereka di hutan kabut. Lily penasaran dengan hutan kabut ini karena dia mendengar dari para warga saat dia di pasar bahwa hutan kabur ini memiliki kekayaan alam yang banyak tidak hanya pada herbal tapi juga dengan hewan spiritualnya yang melegenda, tapi satu yang membuat Lily semakin penasaran yaitu misteri orang-orang yang hilang di hutan kabut ini, kemana mereka? Apakah sudah mati? Tapi anehnya orang-orang merasa tak takut jika mereka tak dapat pulang. Seperti kejadian hilangnya orang di hutan kabut ini seperti ilusi. Jadi orang-orang merasa hutan ini tak berbahaya.
"Baiklah kita sudah sampai, kalian tahu kan dengan hutan ini?" tanya Lily.
Mereka mengangguk.
"Hutan ini kan hutan kabut, hutan ini tak berbahaya dan di sini banyak herbal dan hewan spiritual yang melegenda tapi tak berbahaya," jelas Lin Sing.
"Kurasa hutan ini tak sesederhana itu, kalian pikir saja mungkinkah seekor hewan spiritual tingkat tinggi tak berbahaya?" kata Lily.
Mereka bertiga mulai memikirkan apa yang di katakan Lily.
"Benar juga," kata Li Mu.
__ADS_1
"Aku merasa hutan ini memiliki ilusi kuat bagi yang melihatnya seperti tak berbahaya," jelas Lily.
"Benarkah, kalau begitu kita harus hati-hati," kata Li Min dengan mode waspadanya.
"Benar, kakak kesini juga ingin mencarikan hewan spiritual yang cocok untuk kakak Mo dan Lin Sing carilah untukmu juga" kata Lily dengan girangnya.
"Baik Lily," ucap Kin Sing.
Mereka sudah terbiasa dengan perubahan sikap Lily yang mendadak.
Mereka berempat menelusuri hutan semakin dalam semakin banyak rintangan yang mereka hadapi karena yang mereka hadapi adalah hewan spiritual tingkat tinggi. Lin Sing sudah mendapatkan hewan spiritualnya yaitu seekor beruang hitam tingkat tinggi.
Merasa sudah berada di tengah hutan mereka beristirahat seraya makan.
Saat makan Lily yang sedari tadi merasa mereka diikuti tak menghiraukannya, karena jika orang itu ingin berniat buruk kenapa sampai nereja beristirahat orang tersebut tak menyerang.
"Kak kita masih belum menemukan hewan spiritual yang cocok dengan kakak Mo ya?" tanya Li Min.
"Ya masih belum kemungkinan sebentar lagi," kata Lily yang mulai waspada.
"Ada apa kak?" tanya Li Mu.
"Hewan spiritual yang ini akan cocok dengan kakak Mo," kata Lily menyeringai.
Mereka semua waspada dan terlihat ranting-ranting pohon bergoyang dan suara patahan dari ranting-ranting juga terdengar.
*
*
*
*
*
Kasih like, commenta and vote yang banyak
ya...pada karyaku.
Next...
__ADS_1