
"Tidak perlu... kau masih terlalu lemah untuk mengobati kakek dan juga waktu kakek tidak lama lagi kakek sudah senang jika kau kembali, ingat ini kau harus mengambil kembali kerajaan kita dari tangan para penjahat itu, dan kau harus menemukan kakakmu yaitu putra mahkota yang dulu, karena kakek dengan dia masih hidup dan di kurung di penjara bawah tanah kerajaan Feng," setelah mengatakan itu Kakek Lu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kakek," teriak Lily sambil menangis sejadi-jadinya.
Off
Selera makan Jia Li menghilang dan dia meletakkan koin untuk membayar dan pergi.
Di jalan yang ramai Jia Li melamun memikirkan perkataan orang-orang dan pesan kakeknya, dia bingung rencana apa yang harus di lakukannya untuk mengambil alih kerajaan keluarganya. Karena terlalu asik melamun dia tak sengaja menabrak seseorang dia terjatuh dan langsung bangun dan meminta maaf tanpa menatap siapa yang di tabraknya dan melanjutkan perjalanannya dan masih saja melamunkan itu.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap seseorang yanh di tabrak Jia Li tadi.
Seperti biasa Jia Li masuk melalui jendela tanpa sepengetahuan penjaga.
Saat baru tiba di kamarnya dan selesai mengganti pakaiannya Nuan mengetuk pintu Jia Li.
"Puteri apakah anda sudah bangun?" tanya Nuan, karena malam tadi setelah dari ruang kerja ayahnya Jia Li berpesan dia akan telat bangun.
"Iya Nuan aku sudah bangun, ada apa?" tanya Jia Li berjalan membuka pintu.
"Apakah Puteri sudah bersiap?" tanya Nuan.
"Belum memangnya kenapa? Bukankah pestanya malam," tanya Jia Li.
"Aduh Puteri, meskipun pestanya pada malam hari tapi anda harus siap dari sekarang," kata Nuan.
"Ahhh nanti saja, aku mau makan dulu kau siapkan lah," kata Jia Li yang langsung menutup pintu.
"Baik Puteri," jawab Nuan dari luar.
Sepertinya Nuan Jia Li mandi dan berbaring di peraduannya sambil berpikir.
"Kenapa ya saat aku mencoba mencari goa menuju istana Bintang aku tak dapat menemukannya, apakah karena kekuatan Dewi semesta tidak ada padaku," gumam Jia Li. "Mungkin begitu, ahh daripada pusing aku nanti cari hewan spiritual baru saja deh," lanjutnya.
Tok tok tok suara ketukan pintu yang ternyata Nuan.
"puteri makanan anda sudah siap," ucap Nuan.
"Masuklah dan taruh di meja," perintah Jia Li.
Masuklah Nuan dan beberapa pelayan lainnya.
Setelah selesai menyusun makanan di atas meja para pelayan kecuali Nuan ingin beranjak pergi tapi di tahan oleh Jia Li.
"Tunggu, kemari kalian," kata Jia Li.
"Ada apa Puteri? Apakah ada yang lain yang anda inginkan?" kata salah satu pelayan.
Jia Li hanya mengamati para pelayan dan mulai mengendus pakaian mereka. Setelah mendapat apa yang di cari Jia Li menyuruh mereka pergi kecuali satu orang. Saat yang lainnya sudah pergi dan hanya tersisa Jia Li, Nuan dan satu pelayan yang di tahan pergi di kamar itu Jia Li duduk di kursi di depan pelayan itu dan membuka suara.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jia Li.
Nuan bingung dan pekayan itu nampak gugup.
"Siapa?" dengn nada yang masih tenang tapi meninggi.
"Siapa?" bentak Jia Li. Nuan saja terkejut. "Jika kau masih tak menjawab maka jangan salahkan aku berbuat kasar, Nuan ambilkan aku cambuk," perintah Nuan.
Nuan yang bingun ya menurut saja dia mengambilkan cambuk. Tak berapa lama Nuan datang membawa cambuk.
Ctarr ctarr
Cambukan mengenai lantai hanya untuk menakuti sang pelayan, ya sebenarnya Jia Li juga tak tega mencambuk orang hehe kan dia perempuan juga.
"Masih tak ingin menjawab jangan salah kan aku mencambukmu," kata Jia Li yang mulai mengangkat cambuk tapi belum sempat mengenai tubuh pelayan, pelayan itu langsung bersujud dan meminta maaf.
"Maaf kan hamba Puteri hamba hanya di suruh," kata si pelayan.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Jia Li. "Jangan ragu," lanjut Jia Li.
"Maafkan hamba Puteri tapi jika saya memberitahu anda maka keluarga saya yang di luar akan dalam bahaya," kata si pelayan.
"Tenanglah, aku sudah mengurus itu kau bisa tenang keluargamu aman," kata Jia Li.
"Terimaksih Puteri terimakasih, yang menyuruh saya adalah Selir Mingmei, dia mengancam hamba jika tak mengikuti keinginannya dia akan membunuh seluruh keluarga hamba," kata Pelayan.
"Baik Puteri, saya akan membantu Puteri," jawab Pelayan.
"Bagus, kau hanya perlu...," kata Jia Li.
Malam tiba dan para tamu satu-persatu sudah datang. Jia Li masih di kamarnya berpakaian di bantu oleh Nuan.
"Ahh Puteri kan sudah saya bilang pasti akan lama berdandan," gerutu Nuan.
"Hehehe maaf, aku malas berdandan terlalu cepat nanti aku kelamaan pakai pakaian berat ini, aku tak suka," kata Jia Li.
Setelah lama selesailah semua keperluan Jia Li dia langsung bergegas ke aula pesta karena dia sudah terlambat.
Di depan pintu penjaga langsung mengumumkan kedatangan Jia Li.
"Puteri Jia Li memasuki ruangan," teriak penjaga.
Jia Li pun masuk dengan anggunnya, parasnya yang cantik membuat para pemuda bangsawan dan tuan muda kagum dan para Puteri dan nona muda lainnya merasa iri dengan kecantikannya.
Setengah perjalanan Jia Li terhenti tepat di tengah aula karena kedatangan tamu yang muncul tiba-tiba dari ketiadaan.
Raja Biao langsung turun setelah melihat tamu itu.
"Selamat datang tuan, senang rasanya anda menerima undangan dari kerajaan kami," ucap Raja Biao.
__ADS_1
"Wahhh beruntung sekali Raja Biao di datangin oleh tuan Huan, tak banyak undangan yang beliau terima, memang sungguh beruntung," kata pria paruh baya.
"Kau benar, ku dengar beliau jarang keluar dari istananya," timpal pria paruh baya lainnya.
"Wah tampannya," kata gadis.
"Ya benar dia sangat tampan dan juga sangat misterius aku hanya tahu dia tinggal di istana awan tapi tak pernah melihat istananya,"
"Yang kudengar tidak sembarang orang bisa melihat istananya,"
"Benarkah?"
Banyak bisikan memujinya, tapi tidak dengan para pemuda mereka sangat iri.
"Aku lebih tampan darinya," kata pemuda.
"Dalam mimpi," sahut temannya yang di samping.
...
"Silahkan duduk tuan," kata Raja Biao mempersilahkan Huan Tian duduk di tempat khusus.
Kesal karena di acuhkan Jia Li langsung berjalan melewati ayahnya dan Huan Tian tanpa memberi salam dan langsung duduk.
Orang-orang yang melihat itu menahan nafasnya, karena Huan Tian meruapakan seseorang yang tak bisa di singgung, apalagi Raja Biao sudah berkeringat dingin sekarang dan menatap tajam Jia Li tapi di acuhkan olehnya.
"M maafkan kelakuan Puteri saya tuan dia masih kecil," kata Raja Biao tergagap.
Dengan tampang dingin dan datarnya itu Huan Tian berkata. "Tidak apa," jawab nya singkat lalu duduk di tempatnya.
Raja Biao pun permisi dan mulai membuka pesta.
"Para hadirin sekalian pesta ini akan diadakan selama 3 hari jadi kita nikmati pesta hari pertama ini," kata Raja Biao tegas.
Pesta pun dimulai dengan acara minum dan makan makanan yang sudah di hidangkan di setiap meja tamu.
°
°
°
°
°
Jangan lupa like, comments and vote.
Happy Reading
__ADS_1