Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Kedua alis Huan Tian menyatu karena bingung sekaligus penasaran. "Apa itu?"


"Sebenarnya...saat aku berada di duniaku aku...sedang mengandung dan akibat kecelakaan itu aku dan bayi di dalam perutku meninggal," kata Jia Li sambil memejamkan matanya takut Huan Tian marah. Tapi ke khawatirannya itu terlalu berlebihan, karena bukannya marah Huan Tian malah bersyukur. "Syukurlah kau bisa kembali kesini meskipun bukan dengan tubuhmu yang dulu dan untuk anak kita yang sudak tak ada itu sudah takdirnya," kata Huan Tian sambil memeluk Jia Li.


Malam kedua pesta pun berjalan lancar dan tibalah malam terakhir pesta.


"Para hadirin sekalian malam ini adalah malam terakhir pesta ini, jadi kalian nikmatilah dengan suka cita," pidato Raja Biao.


Di ujung acara beberapa kerajaan menawarkan lamaran untuk para Pangeran dan juga pada Puteri Jia Li karena mereka sudah melihat kecantikan dan kehebatan Puteri Jia Li dan rumor pun sudah musnah.


Di meja persegi panjang besar tempat berkumpulnya para Kaisar, Raja dan tokoh-tokoh hebat lainnya.


"Raja Biao kami dari kekaisaran Qin ingin mengajukan lamaran pada Para Pangeran untuk Puteri kami yaitu Puteri Mei Lin," kata Raja Qin.


"Sungguh suatu kehormatan bisa berbesanan dengan ke kaisaran Qin," jawab Raja Biao.


"Saya juga ingin mengajukan lamaran pada Puteri Jia Li untuk saya jadikan Permaisuri," kata Putra Mahkota Feng Ann dari kerajaan Feng.


Seketika ruangan itu di dominasi dengan aura tekanan yang di keluarkan oleh Huan Tian. Para Kaisar dan Raja, siapa yang tidak tahu dengan Huan Tian pemilik istana awan.


Dengan gemetar Raja Biao berkata. "Maaf tuan apakah ada kata-kata yang menyinggung anda?" tanya Raja Biao hati-hati.


Dengan tenang dan telah menarik aura nya Huan Tian berkata. "Jangan kau terima siapa pun yang melamar Puteri Jia Li, aku yang akan melamarnya, tapi tidak sekarang tunggu umurnya sudang menginjak 19 tahun," kata Huan Tian dan seketika dia menghilang.


Sepenghilangan Huan Tian keadaan ruangan menjadi hening dan canggung.


"Maaf untuk kejadian barusan, seperti yang dikatakan oleh tuan Huan saya tidak akan menerima lamaran dari siapa dan manapun untuk Puteri Jia Li," jelas Raja Biao. Dia juga takut sekaligus bingung, kenapa Huan Tian mengatakan itu, takut menyinggung, jadi Raja Biao menyimpan penasarannya di dalam diri sendiri, karena dia juga takut menyinggung tuan yang di kenal sangat kejam itu.


Semua orang pun merasa kecewa, apalagi Putra Mahkota Feng Ann, dia sangat marah.


huan Tian muncul di kamar Jia Li, dia sedang tidur dengan lelapnya. Huan Tian duduk di tepi peraduan Jia Li dan membelai pelan pipi Jia Li, merasa ada yang mengelus pipinya Jia Li membuk matanya dan terjadilah pertemuan dua manik mata dengan dua manik mata lainnya.


Seperkian menit Jia li sadar dan duduk. "Ada apa kesini?" tanya Jia Li.


Huan Tian masih menatap lekat wajah Jia Li. "Kau mau menungguku kan?" bukannya menjawab malah tanya balik.


Jia Li mengangguk. "Berapa lama?" tanya Jia Li.


"Sampai kau berumur 19 tahun," jawab Huan Tian.


"Lama sekali, nanti kalau ada yang melamarku bagaimana?" kata Jia Li cemberut.

__ADS_1


Huan Tian menangkup pipi Jia Li dengan kedua tangannya.


"Tenang aku sudah mengatakannya di depan semua orang dan ayahmu agar kau tidak boleh di lamar oleh siapa pun, kau mau orang-orang mengatakan kalau aku ini orang tak tahu diri karena menikahi gadis yang masih muda sedangkan usiaku sudah wahhh tak usah di sebut," jelas Huan Tian geram.


"Apa bedanya sekarang dan nanti, tapi baiklah, lagi pula aku juga ingin mengambil hak ku juga dulu," kata Jia Li.


"Mengambil alih kerajaan Feng?" tanya Huan Tian.


"Tepat sekali," jawab Jia Li.


"Akan ku bantu, tapi kau harus menghindari Putra Mahkota Feng Ann," kata Huan Tian.


"Kenapa?" tanya Jia Li bingung.


"Di pertemuan tadi dia yang melamarmu," kata Huan Tian kesal.


"Kau cemburu?" goda Jia Li.


Cup


"Ya aku cemburu," jawab Huan Tian setelah mengecup sekilas bibir Jia Li.


"Ahhh dasar mesum, aku masih kecil tau," kesal Jia Li dengan wajah yang cemberut.


"Kau tak ingin aku pergi?" goda Huan Tian mendekatkan wajahnya.


"P pergilah," kata Jia Li dengan wajah yang memerah dan langsung menutupi dirinya dengan selimut.


Huan Tian pun menghilang dan tak lama Jia Li membuka selimutnya.


"Huhh beneran pergi, sudahlah aku tidur saja, ah aku lupa bertanya cara menemuinya, besok saja lah ku cari di hutan nya," kata Jia Li lalu dia pun memilih tidur.


Pagi hari Nuan berusaha membangunkan Jia Li.


"Puteri bangun, Puteri," panggil Nuan.


"Ada apa Nuan ini masih sangat pagi," kata Jia Li dengan suara seraknya.


"Ini sudah siang Putri Yang Mulia Raja meminta anda datang ke gerbang untuk mengantarkan kepergian para tamu," kata Nuan.


"Benarkah?" kata Jia Li bergegas bangun dan berlari ke pemandian.

__ADS_1


1 jam dia telah selesai dengan segala keperluannya dan berlari ke gerbang ketika hendak sampai dia pun berjalan anghun dengan sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Puteri kau sudah datang," sapa Raja Biao.


"Salam ayah salam pada selir Lin, salam Putra Mahkota Meng dan salam pada Pangeran Zhe," salam Jia Li. "Kering tenggorokanku," batin Jia Li.


Mereka yang di beri salam hanya mengaggukkan kepala.


Kepergian par tamu pun hampir selesai hanya tersisa dari kerajaan Feng.


"Selamat jalan Putra Mahkota Feng, semoga perjalanan anda berjalan lancar dan sampai pada tujuan," kata Raja Biao.


"Terimakasih, kalau begitu saya pamit," kata Putra Mahkota Feng sambil melirik Jia Li, tapi yang dilirik pandangannya malah kelain karena mencari seseorang.


Raja Menyenggol lengan Jia Li dan dia pun tersadar dan menatap balik Putra Mahkota Feng.


"Selamat jalan Putra Mahkota Feng," ucap Jia Li dengan senyum palsu terpaksanya. "Lihatlah kalian yang sudah menghancurkan keluargaku," batin Jia Li dengan geram.


Putra Mahkota Feng tersenyum kepada Jia Li yang juga menyenyuminya. Di lihat dari raut wajah nya dia masih tak merelakan Ji Li, karena dari pertama melihat Puteri Jia Li dia sudah merasa tertarik.


Pengantaran para tamu pun telah usai dan Raja dan lara anggota kerajaan lainnya pun kembli ke halaman masing-masing, tapi tidak dengan Jia Li masih berdiri di pintu gerbang, karena melihat adik nya baru-baru akrab dengannya dirinya itu Pangeran Zhe berkata.


"Jia Li kau sedang apa, pengantaran telah selesai," kata Pangeran Zhe.


"Ah oh benarkah," kata Jia Li murung berlalu pergi meninggalkan Pangeran Zhe yang keheranan.


Sesampainya di halamannya Jia Li masih cemberut. "Huh pergi tak berpamitan," gumam Jia Li. "Awas aja jika bertemu lagi," lanjut Jia Li.


Hari itu berakhir dengan gerutuan Jia Li kepada Huan Tian yang pergi tak berpamitan dan tak tahu kapan mereka akan bertemu lagi.







Jangan lupa like, comments and vote.

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2