
Selir Mingmei pun dibawa kepenjara bawah tanah dan acara pesta pun di akhiri dengan para tamu di biarkan istirahat di kamar yang sudah di sediakan karena acara pesta ini di adakan selama 3 hari jadi masih ada 2 hari lagi untuk merayakannya.
Karena tak bisa tidur Jia Li berjalan-jalan di istana sampai tak terasa dia sudah berjalan cukup jauh dan memasuki halaman yang entah siapa yang mendiaminya, dia juga tak terlalu tahu dengan tempat-tempat di istana ini, dari ingatan gadis yang ditempatinya ini dia jarang keluar dari halamannya karena sifatnya yang penakut, jadi dia lebih suka mengurung diri di kamarnya.
"Wahh aku sudah terlalu jauh berjalan," gumam Jia Li. "Tapi aku masih belum mengantuk," lanjutnya lagi. Dia pun duduk di dekat kolam ikan yang di hiasi bunga teratai yang masih kuncup.
"Ekhem," deheman seseorang mengejutkan Jia Li. Jia Li langsung berpaling menghadap orang itu.
"Eh kakak Zhe, ngapain di sini?" tanya Jia Li.
Deg, baru pertama kali di sebut kakak oleh Puteri Jia Li yang pendiam dan jarang keluar ini.
"Ekhem ekhem h harusnya aku yang nanya ngapain kamu di sini, ini halaman para tamu," kata Pangeran Zhe.
"Aku hanya jalan-jalan tidak bisa tidur, kakak juga kenapa bisa di sini?" jawab Jia Li.
"Ya sama seperti mu tidak bisa tidur, karena masih kepikiran kejadian di pesta tadi," kata Pangeran Zhe. "Oh ya bagaimana kamu tahu kalau Selir Mingmei yang mencelakaimu dan meracuni ibu Permaisuri? Jika aku tahu dari dulu sudah ku cabik-cabik dia," lanjut Pangeran Zhe dengan marah.
"Sudah berakhir, kakak tak perlu menyesalinya dan jadikan pembelajaran, jangan menilai seseorang itu dari luarnya kenali juga di dalam dirinya," nasehat Jia Li.
Pangeran Zhe tertegun mendengar nasehat dari adiknya ini. Dia tak menyangka adiknya bisa sedewasa ini.
"Kau benar akan ku ingat nasehatmu, sebaiknya kau kembali malam semakin larut angin malam tak baik untuk kesehatan," kata Pangeran Zhe.
"Baik kakak, kau juga istirahatlah," jawab Jia Li lalu berjalan pergi.
Keesokan paginya seperti biasa Jia Li melatih fisiknya, dia tidak menyadari jika dia sedang di awasi oleh seseorang. Seseorang itu tersenyum kemudian menghilang.
"nuan, temani aku jalan-jalan keluar ya," kata Jia Li.
"Tapi Putri apakah Putri sudah minta ijin pada Raja?" tanta Nuan.
"Ahhh, harus ijin ya, kalau begitu temani aku mengelilingi istana saja," kata Jia Li.
"Baik Putri," jawab Nuan.
__ADS_1
Jia Li pun jalan-jalan di temani Nuan dan beberapa pelayan lainnya.
Saat jalan-jalan Jia Li melihat para pelayan perempuan bergerombol sedang memperhatikan sesuatu, karena penasaran Jia Li juga ingin melihat, saat Jia Menghampiri mereka mereka semua yang awalnya ribut-ribut membicarakan sesuatu seketika diam.
"Apa yang kalian lihat, seperti seru," kata Jia Li.
"I itu Putri," kata salah satu pelayan sambil menunjuk arah kumpulan pangeran dari kerajaan lain sedang berkumpul. Disana ada juga Pangeran Zhr yang menemani para Pangeran itu.
"Ohhh itu kirain apa," kata Jia Li acuh lalu pergi dan tak sengaja saat dia hendak pergi dia melihat Huan Tian sedang duduk sendiri di gazebo. Entah mengapa sendiri mungkin orang-orang takut padanya bisa dilihat dari auranya yang sangat mendominasi itu.
Jia Li perlahan mendekati dan melarang para pelayan termasuk Nuan mendekat karena mereka tak akan mampu menahan tekanan dari Huan Tian itu.
"Ekhem ekhem," deheman Jia Li yang berusaha menarik perhatian Huan Tian, tapi Huan Tian tak memperdulikannya.
Sekali lagi Jia Li berdehem, tapi tetap tak di gubris. Kesal, geram itu yang di rasakan Jia Li, "Apakah dia tak mengenaliku? Bukankah dia hebat?" gumam Jia Li dalam hati dengan masih berusaha menarik perhatian Huan Tian.
Karena terlalu kesal tak di hiraukan Jia Li berbalik ingin pergi sambil menghentakkan kakinya, tapi jalannya terhenti saat tiba-tiba Huan Tian muncul di hadapannya. Para pelayan merasa cemas dengan Jia Li. "Ahhh Puteri salah orang jika ingin berteman," batin Nuan.
"Tamatlah riwayat Putri Jia Li," kata pelayan lainnya di dalam hati.
Para pelayan terpana dan segera memalingkan badan dan wajah mereka.
"Heh apaan sih dasar mesum," kata Jia Li marah.
Kemudian Huan Tian berbisik. "Masa mesum sama istri sendiri," bisik Huan Tian.
Jia Li tertegun, karena ternyata Huan Tian bisa mengenalinya meskipun wajah dan tubuhnya berbeda.
"S siapa i istrimu," elak Jia Li dengan jua mahal.
"Oh benarkah, ternyata aku salah orang," kata Huan Tian pura-pura sedih dan ingin pergi, tapi ujung lengan pakaiannya nya di tarik oleh Jia Li yang sekarang telah menunduk dan berkata.
"Kau mengenalku?" tanya Jia Li.
"Siapa kamu, bukankah aku salah mengenali orang," kata Huan Tian.
__ADS_1
Mendengar perkataan Huan Tian Jia Li langsung mendongakan kepalanya dan langsung di sambut sebuah ciuman yang mendarat di pipi kanannya.
Jia Li langsung memeluk Huan Tian sambil menangis. "Maaf waktu itu aku marah padamu, membentakmu dan tak mendengarkan penjelasanmu," lirih Jia Li.
"Tidak apa, aku juga salah tak berkata jujur padamu," kata Huan Tian.
Mereka pun saling berpelukan melepas kan rindu. "Sudah dong nangisnya ingusmu nempel di bajuku," goda Huan Tian sambil terkekeh. Bukannya berhenti tangisan Jia Li semakin menjadi.
Setelah puas menangis dan melepas rindu mereka pun duduk berdua di gazebo sambil bercerita.
"Bagaimna kau kembali? dan Bagaimana kau bisa menjadi Puteri di kerajaan langit ini?" tanya Huan Tian.
"Satu-satu dong pertanyaannya, pertama teman Kakek Hua, kau tahu dia kan?" tanya Jia Li dan diangguki Huan Tian, "yaitu kakek Hu menjemputku ke duniaku, tapi belum sampai kembali kesini aku mengalami kecelakaan dan di temukan oleh Kakek Hu di tubub gadis ini, yaitu seorang Puteri dari kerajaan langit," jelas Jia Li. "Kau juga tahu kan keadaan keluarga ku di dunia ku itu jadi kau menyembunyikan batu suci," lanjut Jia Li. "Oh ya bagaimana kamu mengenaliku?" tanya Jia Li.
"Tentu aku mengenali istriku, suami yang selalu setia menunggu istrinya kembali, aku tahu kau akan kembali, di saat aku merasakan auramu bukan aura Dewi ya, aku berusaha mencarimu di mana-mana dan baru sekarang aku menemukanmu," jawab Huan Tian.
"Jadi ini sebabnya Tuan terhormat pemilik istana awan menerima undangan Raja Biao," kata Jia Li sambil terkekeh.
"Bisa di katakan begitu," ucap Huan Tian.
Tiba-tiba ekspresi Jia Li menjadi serius dan takut-takut. "Oh ya a..da sesuatu yang ingin ku katakan, tapi...kau jangan marah ya, aku juga sedih dengan itu, tapi ini sudah jadi takdir," kata Jia Li hati-hati.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like, comments and vote.
Happy Reading
__ADS_1