Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Pria itu dalam keadaan tak sadarkan diri saat di bawa oleh dua orang berpakaian hitam itu.


"Bangunkan dia," perintah Jia Li kepada dua orang itu.


Mereka pun melaksanakan perintah Jia Li dengan membangunkan sang pria dengan menyiramkan air ke wajahnya.


"Ah ah ah, apa ini beraninya, siapa itu?" racau sang Pria. Saat sudah mengelap wajahnya yang basah kena air, matanya langsung menatap sesosok gadis pujaannya. "Meishu," ucapnya lirih dalam keadaan yang masih linglung dan dia tak menyadari keadaanya yang berantakan dan adanya orang lainnya di dalam ruangan itu.


"Siapa kamu? aku tak mengenalmu," ucap Meishu.


"Meishu, jangan mengada-ngada kamu, aku Changyi, masa kamu tidak ingat malam itu kita...," ucapan Changyi terputus saat mulutnya di bekap oleh Meishu.


"Kau jangan bicara omong-kosong di sini ada Yang Mulia dan banyak orang lainnya, jangan menyebarkan rumor yang tidak-tidak dan membuatku dalam masalah," kata Meishu gelabakan dengan menekankan setiap katanya agar Changyi mengerti maksudnya.


Mungkin karena masih linglung atau apa Changyi tak mendapatkan sinyal iti dari Meishu "Apaan sih Mei aku serius, aku ingin menikahimu," Ucap Changyi menggenggam tangan Meishu.


"Berhenti bicara, aku hamil anak Yang Mulia bagaimana mungkin aku menikah denganmu," sanggah Meishu.


"Hormat pada Yang Mulia Raja, semoga selalu diberkati," hormat Changyi yang telah melepas genggamannya dari Meishu. "Maaf atas kelancangan saya Yang Mulia, tapi benarkah apa yang diucapkan oleh Meishu bahwa dia hamil anak Yang Mulia?" tanya Changyi.


"Tidak," jawab singkat Huan Tian.


"Yang Mulia anda tidak bisa begini, ini anak Yang Mulia," tangis Meishu.


Tak menghiraulan Changyi meminta ijin pada Huan Tian. "Benarkah, kalau begitu ijinkan saya membawa Meishu untuk menikahinya, karena aku yakin jika anak yang di kandungan Meishu adalah anak saya," ucap Changyi.


"Aku mengijinkan, tapi semua keputusan ada pada Permaisuriku," ucap Hian Tian.


Changyi berjalan kearah Jia Li yang duduk santai. "Hormat pada Permaisuri semoga diberkati," hormat Changyi sambil membungkukkan badannya. "Apakah Permaisuri mengijinkan saya membawa Meishu?"


"Dia telah berani berbohong dan lebih mengesalkan lagi dia tidak mengakui kebohongannya, jadi ku putuskan bawa dia dan aku akan mencabut pangkat ayahnya serta selurih keluarganya dan juga mereka tidak boleh melangkahkan kaki mereka barnag selangkah memasuki istana dan karena kau seorang pria yang berpegang teguh dan bertanggung jawab maka hanya kau yang boleh memasuki istana jika mengurus sesuatu. Ingat hanya kau tidak keluarhanya dan keluargamu. Aku tahu keluargamu tidak bekerja di kerjaan ini jadi itu tak masalahkan," jelas Jia Li panjang lebat dengan santainya.


"Baik Yang Mulia Permaisuri, terimakasih atas kebijakan anda dan Yang Mulia Raja," ucap Changyi kembali membungkukkan badan ke arah Huan Tian dan Jia Li.


Meishu hanya bisa menangis meratapi nasibnya dan keluarganya. Wajahnya merah padam menaham marah serta malu.

__ADS_1


"Aku tak terima, lihat saja aku akan membalas semua perbuatan kalian padaku," teriak mrah Meishu.


"Sudah Mei Yang Mulia Raja dan Permaisuri sudah memberikan keringanan untukmu dan keluargamu, mau apa lagi," ucap Changyi menenangkan Meishu.


"Ini semua karenamu, jika kau tak menodaiku waktu itu, aku akan menjadi selir Raja," marah Meishu menunjuk Changyi.


Jia Li dengan santai menonton drama secara live di hadapannya.


Lama-kelamaan Jia Li bosan menonton drama dihadapnnya.


Prok prok prok


"Lumayan, tapi masih membosankan," ucap Jia Li setelah bertepuk tangan.


"Kau wanita yang tak tahu terimakasih ya, tuan Changyi apakah wanita seperti ini yang kau cintai, wanita yang tak menghargai perasaanmu, wanita yang tak tahu balas budi?" ucap Jia Li memanasi Changyi.


Changyi hanya terdiam, hatinya sakit melihat gadis pujaannya yang selalu bersikap manis, manja pandanya, tapi sekarang...ahhh habis manis sepah dibuang.


"Terserah padamu, kau mau ikut dengan ku atau tidak," ucap Changyi melangkah keluar ruangan, tapi sebelum itu dia membungkuk hormat pada Raja dan Permaisuri.


Huan Tian tak menghiraukan Meishu yang bersujud sambil membenturkan dahinya ke lantai.


"Kasihani anakmu yang ada di rahimmu, dia tak bersalah orang tuanya yang berasalah," ucap Jia Li santai.


Meishu bangkit dan "Ini semua karena kau, kau wanita muraham yang menggoda Yang Mulia," teriak Meishu menunjuk-menunjuk wajah Jia Li.


"Gak ngaca diri sendiri yang penggoda," batin Jia Li "Huhh sudah di beri kesempatan masih saja ngelunjak," gumam Jia Li.


"Lalu sekarang kau mau apa?" masih dengan sikap santainya Jia Li bertanya.


"Aku ingin membunuhmu," teriak Meishu sambil mengeluarkan kekuatan apinya. Ya Meishu memang termasuk pendekar hebat yang di miliki kerajaan awan dan karena kekuatan yang dimilikinya itu juga membuatnya sombong begitu juga ayahnya yang terlalu membaggakannya dan menawarkan dia sebagai selir Raja.


Huan Tian dengan segera memblokir serangan itu dan serangan itu mengarah ke peraduan Jia Li yang langsung terbakar.


"Beraninya kau berulah di istanaku dan ingin mencelakai Permaisuri, mau mati?" marah Huan Tian.

__ADS_1


Seketika tubuh Meishu bergetar ketakutan melihat kemarahan yang tak pernah dilihatnya pada Huan Tian.


"Sudah, aku tak ingin membunuh makhluk yang tak berdosa pada rahimnya," ucap Jia Li menenangkan Huan Tian. "Begini saja, antarkan dia ke kerajaan mana saja, yang penting jauh dari kerajaan awan dan untuk keluarganya terserah padamu," ucap Jia Lu karena sudah lelah dengan drama di depannya ini, dia memadamkan api dengan kekuatan airnya dan kemudia pergi ke dimensinya.


Di dalam dimensi dia hanya beristirahat saja, Bird, Dragin dan Minghao tak ingin mengganggunya karena mereka tahu dengan kejadia barusan.


Masalah yang berurusan dengannya selesai. "Uhh lelahnya," gumam Jia Li yang membaringkan tubuhnya di peraduan. Tak lama dia tertidur dengan pulas.


"Ah hari sudah malam rupanya," gumam Jia Li kemudia bangkit dan melangkah keluar kamarnya. Saat keluar dia langsung di sambut oleh 3 temannya.


"Sudah baikan?" tanya Bird.


Jia Li mengangguk mengiyakan. "Aku keluar dulu ya," ucap Jia Li kemudia keluar daru ruang dimensinya.


Bertepatan saat Jia Li keluar dari ruang dimensinya saat itulah pintu kamar terbuka


Kreattt


Suara pintu terbuka menampilkan sesosok pria tampan berpakaian putih. Melihat siapa yang masuk Jia Li acuh dan meninggalkannya ke kamar mandi.


beberapa saat kemudian Jia Li telah selesai dengan mandinya. Saat dia keluar dia mendapati Huan Tian masih berada di kamarnya dan duduk di peraduannya yang telah di ganti.


Jia Li tak peduli, bukan dia marah tapi males aja meladeninya, dia duduk di meja hias mengeringkan ujung rambutnya yang basah, kemudia setelah lumayan kering dia menyisirnya.







Jangan lupa like, comments and vote ya...

__ADS_1


Happy Reading.


__ADS_2