
Saat tidur lelap Lily merasa ada seseorang yang masuk ke kamarnya dia perlahan membuka matanya, tidak lebar hanya sedikit agar orang yang masuk tak mengetahui kalau dia sudah bangun.
"Siapa?" tanya Lily yang sudah berada di belakang orang tersebut.
Orang itu langsung tunduk dengan satu kaki menopang tubuhnya yang duduk. "Maaf nona saya mengganggu tidur anda, saya adalah pengawal bayangan yang di kirim oleh tuan," jelasnya.
"Tuan? Tuan siapa? Perasaanku aku tak tahu siapa tuanmu," kata Lily.
"Tuan Huan nona dan nama saya Xi," jelas Xi.
"Ohhh, tapi kenapa kamu di sini?" tanya Lily.
"Saya merasa ada seseorang yang akan datang, jadi saya bersiap," jelasnya.
"Orang datang, siapa?" tanya Lily.
"Saya tidak tahu, tapi dari auranya, sepertinya dia orang kuat," jelas Xi.
"Kalau begitu ikut aku," kata Lily seraya menarik Xi untuk sembunyi dan sebelum itu dia sudah menumpuk bantal menyerupai dirinya yang sedang tidur.
Tak berapa lama orang tersebut datang, dia menggunakan pakaian serba hitam dan juga cadar. Dia duduk di tepi peraduan Lily. "Aku sangat merindukanmu," gumamnya.
Lily keluar dari persembunyiannya dan langsung menyerang orang itu, tapi orang otu hanya menghindar tanpa membalas.
Hap hap
Tangan Lily terkunci oleh cekalan kedua tang orang itu. "Lily ini aku," ucapnya. Xi yang hendak menyerang di hentikan oleh Lily. "Berhenti Xi," ucap Lily. "Lepaskan dulu tanganku dan jika kau tak membuka...," ucapan Lily terhenti saat dia tahu siapa dia dari sorot matanya. "Pangeran," ucap Lily senang dan langsung memeluk nya.
Pangeran Chen membalas pelukan Lily dengan eratnya menyalurkan kerinduannya.
"Pangeran bisa lepaskan aku sulit bernafas," kata Lily yang eratnya pelukan Pangeran Chen membuatnya sulit bernafas.
Pengeran Chen melonggarkan pelukannya tapi tak melepaskannya. Beberapa saat kemudian mereka pun duduk di ruang tamu dengan di temani teh buatan Lily. Xi kembali ke bayang-bayang Lily.
"Sudah lama kita tak bertemu," kata Pangeran Chen dan diangguki Lily.
"Apakah kau menetap di sini? Karena sedari kau pergi aku juga menyuruh seseorang untuk mengikuti kalian dan aku penasaran dengan laporan orangku itu yang mengatakan bahwa kau tak berpindah lagi dari tempat ini, jadi aku memutuskan untuk mendatangimu," jelas Pangeran Chen panjang lebar.
"Sebenarnya aku tahu itu, tapi aku membiarkan orang mu itu, karena ku pikir dia tak berniat jahat, dan aku menetap di sini karena lingkungan desa dekat sini yang begitu damai dan tentram, jadi nyaman disini," jelas Lily setelah menyeruput tehnya.
Mereka bercerita panjang lebar dan tak terasa hari yang larut makin larut.
"Hoammm, kau tak ngantuk, aku sangat ngantuk aku ingin tidur," kata Lily sambil menguap.
"Ya aku juga sangat lelah menempuh jalan yang panjang," kata Pangeran Chen.
"Istirahatlah kau bisa tidur di kamar kak Jung," kata Lily.
"Baiklah selamat istirahat," ucap Pangeran Chen.
__ADS_1
"Hemm," jawab Lily yang mulai masuk kekamarnya.
Keesokan paginya Lily bangun sebelum matahari terbit, dia sudah berlatih di pinggir sungai dekat kediamannya. Terlalu serius latihan dia tak menyadari Pangeran Chen yang sudah duduk di atas batu dekat dia latihan.
Plok plok plok
"Wahh kau makin hebat semenjak terakhir kali aku melihatmu latihan," ucap Pangeran Chen.
Lily berhenti dan melangkah duduk di dekat Pangeran Chen.
"Aku ingin lebih kuat," ucap Lily menerawang.
"Untuk apa lagi, sekarang kan kau sudah kuat meskipun belum maksimal," kata Pangeran Chen.
"Ahhh hanya ingin," kata Lily.
Untuk mengalihkan perhatian dari pertanyaan yang terus dilontarkan Pangeran Chen, Lily mengajaknya berjalan-jalan di desa untuk menikmati suasana damai yang selama ini dia rasakan semenjak tinggal di wilayah ini.
Mereka keluar dari hutan dan menuju desa, mereka hanya berjalan kaki dengan santai dan sambil mengobrol.
Sesampainya di keramaian desa Lily mengajak Pangeran Chen berkeliling sesekali dia mengajak makan di kedai yang biasa dia datangin.
"Mau mampir lagi?" tanya Lily.
"Kemana?" tanya balik Pangeran Chen.
"Terserah kemanapun kau mau aku akan ikut," kata Lily.
"Tapi jangan selalu di jalanan begini," bisik Lily.
"Kenapa lagi?" tanya Pangeran Chen.
"Coba kau lihat, banyak orang yang memandangmu kagum apalagi para gadis itu, ahh ada yang mimisan," jelas Lily sambil terkekeh.
"Kau cemburu," goda Pangeran Chen.
"Tidak, hanya saja aku kasihan sama mereka karena pria yang dikagumi mereka...," ucap Lily terhenti dan dilanjutkan oleh Pangeran Chen.
"Karena dia menyukai orang lain," lanjut Pengeran Chen.
Kedua alis Lily menyatu dan dia manggut-manggut yang membuat Pangeran Chen tak mengerti.
"Ayo kita pergi, kemana kamu mau mampir?" tanya Lily.
Mereka berjalan dan berhenti di sebuah kedai yang terlihat sepi dan tak ada apapun yang di jual.
"Kita masuk," ajak Pangeran Chen.
"Yakin, tidak ada yang dijual di sini, coba kau lihat," kata Lily sambil menunjuk kearah kedai itu.
__ADS_1
"Tidak apa, tak tahu aku tertarik masuk," kata Pangeran Chen sambil menarik tangan Lily.
"Permisi," ucap Pangeran Chen memanggil pemilik kedai.
"Tak ada orang," kata Lily.
"Selamat datang di kedai saya yang sederhana ini," ucap seseorang dari arah samping mereka sontak mereka memandang orang itu. Dia seorang pria yang terbilang masih muda sekitar 30 tahunan.
"Maaf kedai ini menjual apa ya, karena sedari saya masuk saya tak melihat barang yang di jual?" tanya Lily.
"Memang kedai ini tak menjual apapun, tapi kedai ini menawarkan jasa meramal," kata nya.
"Benarkah, kau bisa meramal jodohku atau kehidupan ku di masa depan?" tany Pangeran Chen antusias.
"Aku buka sang pencipta yang tahu nasib masa depan kalian, aku hanya akan menggambarkan keadaan yang kemungkinan akan terjadi di masa depan," jelasnya.
"Baiklah tak masalah, tolong ramal kami berdua," pinta Pangeran Chen.
"Chen," panggil Lily yang dengan berat hati menerima ajakan Pangeran Chen.
Mereka sudah duduk berhadapan di sebuah meja persegi panjang dan di tengah meja terdapat bola kristal yang seperti peramal-peramal di dunia Lily dulu. Lily tidak terlalu percaya dengan ramalan seperti ini, tapi mau bagaimana lagi, dia datang ke dunia ini saja sudah membuatnya syok dan memilih percaya.
"Siapa yang akan diramal terlebih dulu?" tanya si peramal.
"Aku, dia," kata Pangeran Chen dan Lily.
"Baiklah, letakkan kedua tanganmu di atas bola kristal ini dan pejamkan matamu," perintah peramal dan Pangeran Chen menuruti.
Tak lama setelah Pangeran Chen memejamkan matanya ada suara bisikan.
"Bukalah matamu dan lihat," ucap bisikan itu.
Pangeran membuka matanya dan terlihatlah....
*
*
*
*
*
*
*
Jangan lupa like, comments and vote ya....
__ADS_1
Happy Reading