Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

"Nona kenapa baru datang sekarang sudah lama nona tak berkunjung," kata Yimin cemberut.


"Maaf kemaren aku lupa memberitahu kalian bahwa aku akan pergi ke kerajaan Feng dan sekarang aku baru kembali," jelas Jia Li. "Perkenalkan ini Xiao Chen, teman yang aku dapat di kerjaan Feng," kata Jia Li sambil mengedipkan mata pada Xiao Chen.


"Oh ya salam kenal, namamu Yongsheng dan ini adikku Yimin," kata Yongsheng sambil mengulurkan tangan. Xiao Chen menyambut uluran tangan itu pula.


"Oh ya maksud kedatangan ku ini adalah untuk meminta ijin pada kalian bahwa Xiao Chen akan tinggal dengan kalian. Apakah kalian tak keberatan?" tanya Jia Li.


"Tentu tidak nona, ini akan lebih menyenangkan ada teman bari dan lebih banyak orang di rumah, karena di rumah terlalu sepi jika hanya kami berdua," kata Yimin.


"Baiklah kalau begitu terimakasih dan aku akan pergi ya," kata Jia Li.


"Kenapa tak menetap dan minum teh sebentar?" tanya Yimin.


"Lain kali saja, ada urusan yang masih harus di selesaikan," jelas Jia Li.


"Baiklah," kata Yimin.


"Dah Xiao Chen yang baik dengan mereka ya, cepat akrab," kata Jia Li berlalu pergi.


Jia Li langsung pergi ke istana menemui ayahnya.


"Ayah," panggil Jia Li di ruang kerja ayahnya.


"Ahh Puteri ku sudah kembali ternyata," kata Raja Biao seraya berjalan ke arah Jia Li dan memeluknya. "Bagaimana perjalanan mu ke kerajaan langit. Apakah menyenangkan?" tanya Raja Biao.


"Lumayan menyenangkan dan banyak pengalaman baru yanh kudapatkan," kata Jia Li.


Jia Li pun menceritakan pengalamannya selama tinggal di kerajaan Feng, kecuali hal-hal yang menurut nya masih belum bisa di beritahukan pada ayahnya.


"Apakah ada berita terbaru saat aku tidak ada di sini?" tanya Jia Li.


"Ada, oh ya ada surat dari tunanganmu," kata Raja Biao seraya mengambil sesuatu dari mejanya.


Jia Menerima surat itu dan pamit untuk pergi ke halamannya.


Sesampainya di halamannya, Jia Li langsung membuka surat itu dan isi suratnya meminta Jia Li untuk datang ke istana awan.


"Baiklah aku akan kesana, tapi tidak hari ini, sekarang aku masih sangat lelah, hoammm," gumam Jia Li sambil menguap.


Dia pun mandi dan makan setelah itu dia langsung tidur.


Keesokan harinya, dia meminta ijin pada ayahnya untuk pergi ke istana awan.


Dia pergi dengan menaiki kuda sendiri tampa pengawalan, karena semua orang tahu bahwa wilayah dari istana awan itu tidak sembarang orang bisa memasukinya.

__ADS_1


Saat Jia Li sudah sampai di depan hutan dia menyalurkan energinya di sebuah pohon, itu ada cara agar Huan Tian mengetahui kedatangan Jia Li, khusus untuk Jia Li.


Tak lama Jia Li menunggu Huan Tian pun tiba.


"Lama sekali kamu pergi, aku rindu," kata Huan Tian dengan manja hendak memeluk Jia Li, tapi Jia Li malah menghindar. "Kenapa? Kau tak merindukanku?" tanya Huan Tian yang mendapat tatapan tajam dari Jia Li.


"Sudah berapa gadis yang bergelayut di lenganmu itu?" tanya Jia Li sambil menuntut jawaban.


"Eh i itu t tidak banyak hanya 2 orang," kata Huan Tian gugup.


"Lalu kenapa kau ingin bertemu denganku dam mengajakku ke istana awan?" tanya Jia Li datar dingin.


Huan Tian pun gugup melihat perubahan sikap Jia Li karena dia tahu akan terjadi apa jika dia sudah berubah.


"I itu karena aku perlu bantuanmu untuk menyingkirkan mereka lagi," kata Huan Tian.


"Bukankah alasan kemaren sudah meyakinkan, berarti gadis sekarang memang sudah mampu dan hebat melebihi aku kenapa kau tak menerimanya?" kata Jia Li.


Raut wajah Huan Tian berubah merah padam.


"Kau mau aku mengambil selir?" tanya Huan Tian datar.


"Itu terserahmu, kan kita sekarang hanya tunangan, jadi terserah padamu jika kau ingin membatalkan pertunangan ini dan menikahi gadis itu," kata Jia Li.


Hua Tian tiba-tiba menarik tangan Jia Li dan membawanya pergi ke istana awan secara sepihak.


Huan Tian terus menarik Jia Li menuju sebuah aula kecil dan setelah sampai Huan Tian langsung melepaskan cekalannya pada tangan Jia Li.


"Kenapa kau membawaku kesini, ini tempat apa, aki tak pernah melihatnya," kata Jia Li sambil melihat keselurih ruangan.


"Selamat datang Yang Mulia," salam seorang pria tua yang memiliki janggut putih yang panjang dan memakai pakaian berwarna putih pula.


"Nikahkan kami," ucap Huan Tian.


"Hah, apa maksudmu," kata Jia Li yang sangat terkejut mendengar perkataan Huan Tian.


"Cepat lakukan," bentak Huan Tian kepada pria tua yang merupakan orang yang akan menikahkan mereka berdua.


Jia Li ingin keluar dari ruangan itu tapi sesaat dia tak dapat bergerak karena kekuatan Huan Tian yang membuatnya tak bisa beranjak dari tempat itu, untuk sekedar bicara pun tak bisa, tubuhnya itu seperti dinkendalikan oleh Huan Tian mengikuti semua prosesi pernikahan.


Setelah prosesi selesai tubuh Jia Li pun sudah bisa bergerak, dia langsung pergi berlari keluar ruangan.


"Apa yang ku lakukan karena ego ku, aku memaksanya menikah sekarang. Apakah dia akan marah pada ku?" gumam Huan Tian frustasi dan menyusul Jia Li.


Dia mencari kesana kemari keberadaan Jia Li. Dia tahu jika Jia Li tidak akan bisa jauh dari istana awan ini, dia pun mengelilinginya dan menemukan Jia Li sedang duduk di pinggir kolam teratai.

__ADS_1


"Maaf," ucap Hua Tian tapi tidak di hirukan oleh Jia Li. "Kau boleh menghukumku tapi jangan diamkan aku seperti ini," lanjut bujuk Huan Tian.


Karena tak ada respon samasekali Huan Tian langsung memalingkan wajah serta tubub Jia Li menghadap padanya.


"Tolong jangan begini," kata Huan Tian memohon.


Huan Tian menyentuh dagu Jia Li dan mengarahkan wajah Jia Li menatap matanya.


Mereka saling menatap, dengan wajah datar Jia Li berkata.


"Kenapa? Kenapa kau lakukan ini, aku mau menikah denganmu tapi tidak begini dan tidak sekarang," kata Jia Li.


"Maafkan aku, aku terbawa emosi dan tak memikirkan perasaan mu, tapi aku tak menyesal karena kau tak akan bisa lati dariku lagi," kata Huan Tian.


Mata Jia Li menatap tajam Huan Tian, dia mendengus kesal, sebenarnya dia juga tak terlalu marah, tapi memikirkan tentang rencana nya yang akan terhambay membuatnya hilang kontrol.


"Maaf, aku juga egois," kata Jia Li melembut.


Huan Tian langsung memeluk Jia Li.


"Jadi sekarang kita resmi jadi suami istri kan," kata Huan Tian senang.


Jia Li langsung melepas pelukannya.


"Benar, tapi kau harus memberitahukan pada ayahku dulu, dan kau jangan melarangku menjalankan rencanaku," kata Jia Li.


"Baiklah aku setuju," kata Huan Tian.


"Antar aku pulang dan temui ayahku, dan ingat jangan sampai orang luar tahu dulu sebelum rencanaku berhasil," kata Jia Li memperingati.


"Baik.. baik istriku tercinta," goda Huan Tian. "Tapi untuk di sini (istana awan/kerajaan awan) bagaimana?" tanya Huan Tian.


"Itu terserah padamu asal jangan tersebar keluar," kata Jia Li yang membuat Huan Tian semakin senang dan langsung menggendong Jia Li terbang dan turun ke hutan.


Mereka pergi ke istana kerajaan langit dan menunggu Raja Biao yang sedang ada pertemuan dengan para pejabat.






__ADS_1


Jangan lupa like, comments and vote ya...


Happy Reading.


__ADS_2