
Hari yang di nanti-nanti telah tiba, para tamu undangan telah hadir tinggal menunggu beberapa orang lagi, para penduduk biasa pun di persilahkan hadir menyaksikan penyatuan dua insan.
Di dalam kamar, Jia Li sedang di dandani. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan pakaian dan hiasan kepala yang amat sangat berat. Lehernya terasa sangat penat dan lagi pakaiannya yang juga berat membuat Jia Li kesulitan berdiri tegap, dia terlalu lelah karena semalaman dia kurang tidur, saat menjelang pagi dia baru bisa tidur, saat sudah enak tidur malah di bangunin katanya harus berendam dandan apalah itu, membiuat Jia Li pasrah dengan badannya yang di but seperti apa oleh para pelayannya.
...
Di aula pesta sudah berkumpul semua tamu undangan termasuk ada Putra Mahkota Feng bersama Xiao Chen.
Bagaimana akhir dari kesepakatan mereka? Yaitu mereka berhasil menegakkan keadilan bagi keluarga Jia Li dulu beserta kakek mereka. Bagaimana kabar nenek mereka yang merupakan biang dari semua itu? Dia sekarang telah berpulang ke sisinya untuk menebus kesalahannya. Jangan di tanya bagaimana ceritanya, karena jika di ceritakan akan panjang, jadi cukup sampai di sini.
...
Jia Li telah berada tepat di depan pintu aula pesta dan tinggal menunggu kasim untuk mengumumkan kedatangannya dan di persilahkan masuk.
"Puteri Jia Li memasuki aula pesta dan altar pernikahan," ucap kasim lantang.
Tak dapat di pungkiri, saat ini Jia Li benar-benar gugup, meskipun ini bukan yang pertama kali baginya menikah dengan Huan Tian, tapi ya...tetap aja gugup.
Jia Li dengan anggun memasuki aula persa dengan di dampingi Nuan dan Selir yang sudah di anggap ibu oleh Jia Li.
Di altar sudah berdiri dengan gagahnya Huan Tian dengan pakaian kebesaran khas sebagai raja kerajaan awan. Dia tersenyum melihat kedatangan istrinya yang wajahnya tak terlihat karena di tutup oleh penutup kepala untuk pengantin.
Para tamu dengan khidmat mengikuti semua prosesi pernikahan. Rata-rata tamu yang hadir merupakan kerabat Jia Li saat menjadi Lily.
....
Semua prosesi pernikahan telah selesai dan mereka para gadis dan pemuda lajang telah berada di taman halaman istana. Sedangkan para pasangan sudah menikah duduk di bagian samping sambil menikmati jamuan yang ada.
Sekarang Huan Tian dan Jia Li berada di atas panggung yang telah di sediakan Jia Li sendiri sebelum hari H.
Di tangan Jia Li sudah ada seingat bunga pengantin. "Sekarang adalah sesi di mana para jomblo untuk mendapatkan pasanganya," ucap Jia Li lantang. Sorak-sorak yang mendengar pun terdengar heboh. Karena kebanyakan dari mereka orang terdekat Jia Li, jadi mereka paham akan sesi yang di maksud Jia Li.
"Ok sekarang bersiaplah," teriak Jia Li yang kemudia berbalik bersama Huan Tian membelakangi para orang yang berada di bawah panggung. "1...2...3" teriak Jia Li yang di ikuti semua orang dan kemudian Jia Li dan Huan Tian melambungkan bunga itu ke arah para jomblo.
__ADS_1
Semua orang berebut dan akhirnya bunga itu jatuh pada kedua pasang tangan yang tak lain adalah Putra Mahkota Feng dengan salah satu teman Jia Li yaitu Puteri Xia Fei dari kerajaan Barat.
Mereka jadi salah tingkah dan segera Putra Mahkota melepaskan bunga itu dan memberikannya pada Puteri Xia Fei.
"Cieee cieeee," ucap Jia Li di atas panggung.
Pipi kedua orang berlainan gender itu merah merona seperti kepiting rebus. Semua orang bersorak untuk mereka berdua. Dan terlihat juga raut wajah Putra Mahkota Feng yang menahan malu tapi masih terlihat berwibawa. Dan pada akhirnya, Putra Mahkota Feng benar-benar melamar Puteri Xia Fei di depan semu orang. Semua orang bertepul tangan dan mendukung keduanya.
....
Pesta berakhir hampir tengah malam, semua orang kembali ke kamar masing-masing.
Karena terlalu lelah Jia Li langsung tertidur di peraduannya tanpa ada niat menunggu suaminya itu datang.
Huan Tian masuk perlahan, dia tahu akan hal yang pasti Jia Li lakukan, karena dia juga lelah dia membaringkan tubuhnya di samping Jia Li dan menarik pelan tubuh Jia Li kepelukannya.
....
"Ayah kami pergi," ucap Jia Li sambil memelul ayahnya. "Kakak kakakku yang tamvann jaga ayah ya, dan jangan terus bekerja, carilah pasangan," ucap Jia Li memeluk kedua kakaknya.
"Ya kau juga berbahagialah," balas Raja Biao dan kakak-kakaknya.
Mereka pergi menggunakan kereta. Sebelum pergi Jia Li juga telah pamit dengan kakak-kakaknya, teman-temannya dan para keponakannya di kekaisaran Qin.
Di sepanjang perjalanan Jia Li tertidur sangat pulas, karena mereka sekarang sedang terbang menuju ke istana awan jadi tak ada goncangan pada kereta.
Mereka sampai dan terlihat para pelayan dan prajurit telah menunggu kehadiran mereka.
Tak ingin membangunkan Jia Li, Huan Tian perlahan menggendong Jia Li. "Sel....," ucapan para pelayan dan prajurit terhenti saat mendapat tanda supaya jangan berisik dari Huan Tian.
Huan Tian membawa Jia Li kekamar mereka dulu. Dengan pelan dan penuh kelembutan Huan Tian meletakkan Jia Li keperaduan mereka. Sebelum keluar Huan Tian menyempatkan mencium kening Jia Li.
...
__ADS_1
"Eghhhh," erangan Jia Li menggeliat meregangkan otot-ototnya seraya duduk dan membuka matanya. Seketika senyum terukir di bibir mungilnya. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Jia Li telah selesai dengan kegiatannya.
"Kruyuk kruyuk," suara perut Jia Li yang minta di isi. Jia Li bergegas berpakaian dan tanpa berdandan dia keluar menuju dapur yang biasanya dulu dia selalu memasak.
Para pelayan dan prajurit yang mondar-mandir maupun berjaga ternganga kagum dengan sosok Ratu mereka yang sangat cantik, karena tanpa perias wajah kecantikan Jia Li itu bak dewi keimutan karena tubuhnya yang mungil itu terihat seperti anak kecil dan lagi dengan cara jalannya yang hampir berlari seperti anak kecil yang sedang menuju tempat kesukaannya.
Di perjalanan Jia Li bertemu dengan seorang gadis yang terlihat sangat cantik dan anggun. "Salam pada Ratu," ucap gadis itu.
Jia Li berhenti dan menatap gadia itu. "Salammu ku terima, Ada apa?" tanya Jia Li bingung kenapa gadis ini tiba-tiba menghentikannya secara tiba-tiba, sudah tahu jika dirinya Ratu tapi masih bersikap berani.
"Tidak ada Ratu, saya hanya menyapa anda," ucap gadis itu.
"Oh, kalau begitu sudah kan aku pergi," ucap Jia Li kemudian melangkah pergi. Saat Jia Li melewati gadis itu dapat Jia Li dengan dengusan kesal dan marah gadis itu.
"Huh, gadis jelek pendek seperti itu menjadi Ratu kerajaan awan, tidak pantas. Pastasan aku, aku lebih pintar cantik. Huh pasti dia merayu Yang Mulian agar menjadikan dirinya ratu pasalnya tak ada yang dapat di banggakan dari penampilannya itu, lihat saja setelah aku berhasil menjadi selir aku akan menggulingkanmu," umpatan sang gadis.
Jia Li terkekeh mendengar itu, karena Jia Li memiliki kemampuan mendengar jarak jauh, jadi dia dapat mendengar perkataan gadis itu, karena setelah belokan Jia Li tak melanjutkan perjalanan dia memilih mendengarkan umpatan sang gadis. "Hihihi mimpi," ucap Jia Li di sela kekehannya.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like, comments and vote ya...
Happy Reading.
__ADS_1