Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 71


__ADS_3

Pangeran membuka matanya dan terlihatlah padang bunga matahari yang sangat Indah disana terdapat satu perempuan dan satu pria, mereka terlihat bahagia dan sedang berjalan-jalan di tengah padang bunga matahari itu. Tapi sayangnya Pangeran Chen tak dapat melihat wajah mereka. Angin berhembus kencang dan membuat mata Pangeran Chen kelilipan dan setelah dia mengusap matanya untuk menghilangkan kelilipannya dia membuka matanya lagi dan seketika dia tak berada di padang bunga matahari lagi akan tetapi berada di sebuah hutan dan di hadapannya terdapat goa.


"Selamat tinggal, suatu hari nanti mungkin kita akan bertemu lagi," ucap sang gadis sambil tersenyum paksa seraya melambaikan tangannya dan seketika dia menghilang seperti di telan oleh goa.


Seorang pria sedang melambaikan tangannya juga dengan senyum paksa dan saat gadis itu menghilang sang pria terduduk lesu, dia menundukkan kepalanya kemungkinan sedang menangis, karena sama seperti di padang bunga matahari sekarang juga Pangeran Chen tidak dapat melihat wajah mereka.


Terlihat juga dua orang pria lainnya yang berada tak jauh dari sana yang satu di atas pohon sambil mengamati dan yang satunya berada di balik pohon untuk menyembunyikan dirinya.


"Apa ini, kenapa aku tak bisa melihat dengan jelas wajah mereka," gumam Pangeran Chen. "Dan mengapa hatiku sesak saat melihat gadis itu menghilang di telan goa," gumamnya lagi. Tak terasa air mata Pangeran Chen jatuh tanpa diinginkan olehnya.


"Sadarlah Chen, bangun," suara yang sangat familiar di telinga Pangeran Chen.


"Dimana?" gumam Pangeran Chen sambil mencari sumber suara.


Di dunia nyata


"Chen," panggil Lily sambil mengguncang tubuh Pangeran Chen. Karena tak ada respon dark radi Lily memanggil Pangeran Chen dengan berteriak di telinganya.


Seketika Pangeran Chen sadar. Dia seperti orang lingling sebelum Lily menyadarkannya.


"Chen, Pangeran Chen," bisik Lily tepat di telinganya.


"A ahhh apa aku sudah kembali, ini kenapa juga mataku berair," kata Pangeran Chen menghapus sisa air mata di pipinya.


"Harusnya aku yang bertanya," kata Lily.


"Ahh tidak apa aku juga tidak tahu aku menangis tiba-tiba saat di alam bawah sadarku," jelas Pangeran Chen. "Sekarang giliranmu," lanjut nya.


"Baiklah," kata Lily menghadap peramal.


"Letakkan lah tanganmu seperti yang dia lakukan tadi," ucap peramal.


Lily mulai melakukan seperti yang di lakukan oleh Pangeran Chen tadi.


Sama seperti Pangeran Chen, Lily pun mendengar bisikan yang memintanya membuka matanya.


Saat Lily membuka matanya yang terlihat adalah dirinya sendiri yang mencari sesuatu di sebuah ruangan besar. Ruangan ini terasa asing baginya.


Tap tap tap.


"Ada orang datang," gumam Lily dia langsung bersembunyi mengikuti Lily yang kedua.

__ADS_1


Lily asli mengawasi sekitar ruangan menantikan orang yang datang.


Saat pintu terbuka. "Huan Tian," gumam Lily.


"Lily keluarlah aku tahu kau di sini," ucap Huan Tian.


Lily asli dan Lily kedua terkejut dan memilih keluar.


Tapi yang Lily kira dirinya yang asli dapat terlihat, tapi dia hanya khawatir berlebih, ternyata dirinya yang asli tak dapat terlihat.


"Kembalikanlah," ucap Huan Tian sambil mengulurkan tangan meminta.


"Tidak akan, kau sudah membohongiku," ucap Lily kedua marah.


"Aku...aku tak membohongimu hanya saja aku tak ingin kau pergi," kata Huan Tian.


"Lily," panggil seseorang. Lily asli langsung mencari sumber suara yang familiar baginya, dia mencari kesana kemari tapi tak ada orang yang di cari.


Splaashhhh. Air membasahi wajah Lily, dia membersihkan air di wajahnya dan seketika itu juga dia berada di dunianya yaitu dunia modern.


"Ini... Apakah aku di duniaku?" gumam Lily. "Ah itu rumah ibu di kampung," gumamnya.


Dia melangkah masuk kedalam, tapi dia tak mendapatkan siapa pun di dalam, kemudia dia berlalari ke halaman belakang. Pemandangan mengerikan terlihat di sana yaitu ayah, ibu, adik dan kakaknya tergeletak bersimbah darah tak bernyawa. Lily menghampiri tubuh itu dan mencoba menggapainya tapi tak dapat dia menangis meraung-raung. Tiba-tiba datang seseorang yang tak di kenal Lily, dia seorang pria berbadan tegap dan cukup tampan.


"Lily bangun," panggilan suara yang tadi.


Di dunia nyata.


Karena tak mendapat respon dari Lily yang sudah berkeringat dingin dan mengeluarkan air matanya sangat deras Pangeran Chen memencikkan sedikit air ke wajah Lily dan langsung lah Lily terbangun.


"Lily kau tak apa?" tanya Pangeran Chen.


Lily yang masih sesegukkan menatap mata Pangeran Chen dengan sendu. "A aku hiks tak apa. Ken hiks kenapa aku hiks tak bisa berhenti hiks menangis," kata Lily sambil sesegukkan.


"Aku tidak tahu itu, tapi kenapa kau sampai berkeringat dingin dan menangis, apa yang kau lihat?" tanya Pangeran Chen.


"Aku hanya melihat kisah sedih," kata Lily.


Peramal memperhatikan dengan tersenyum yang tak dapat di artikan.


Pengeran Chen iya iya aja. "Peramal apakah semua yang kami lihat adalah kejadian masa depan kami?" tanya Pangeran Chen.

__ADS_1


"Itu hanya gambaran yang kemungkinan akan terjadi pada kedihupan kalian, tapi itu tidak menjamin akan terjadi sesuai gambaran, bisa saja itu hanya pengingat untuk kalian, dan jika pun benar kalian masih bisa mengubahnya," jelas peramal.


Pangeran Chen dan Lily masih memikirkan kejadian-kejadian yang mereka lihat dibawah alam sadar mereka.


"Ekhem kalian tak perlu terlalu mengkhawatirkannya, kalian hanya perlu berhati-hati," jelas Peramal yang membuyarkan lamunan mereka berdua.


"Terimaksih untuk ramalannya dan terimalah sedikit dari kami," ucap Pangeran Chen sambil menyerahkan sekantung koin.


"Tidak perlu, aku hanya menjalankan tugasku," ucap Peramal menolak pemberian Pangeran Chen.


"Baiklah, tapi apa maksudmu tugas?" tanya Pangeran Chen.


"Tidak ada," jawabnya.


Seketika saat nereka berkedip, mereka sudah berada di tengah keramaian desa. "Ini dimana? Bukankah kita berada di kedai peramal?" bingung Lily.


"Kau benar, ah itu kedainya," kata Pangeran Chen menunjuk sebuah kedai.


Mereka mendekati kedai itu, tapi yang mereka lihat adalah sebuah kedai mie yang ramai dengan pengunjung.


"Apakah aku salah?" tanya Pangeran Chen bingung.


"Tidak, kau benar di sini kedai itu, tapi kenapa kedai mie?... Sudahlah tak perlu di pikirkan," kata Lily seraya berjalan meninggalkan Pangeran Chen yang masih berdiri di depan kedai. Meskipun kata-kata Lily seperti itu tapi tidak dengan hatinya.


"Tunggu," teriak Pangeran Chen berlari menghampiri Lily.


Perjalanan mereka sekarang di jalani dengan keheningan karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


Xi pengawal bayangan yang di perintahkan Huan Tian untuk menjaga Lily melihat keberadaan Lily yang selama ini di carinya, dia mengikuti dan memilih untuk pergi melapor pada tuannya yaitu Huan Tian.


*


*


*


*


*


Jangan lupa like, comments dan vote

__ADS_1


Happy Reading


Next...


__ADS_2