
"Ah tidak ada, hanya saja ada pera...ah sudahlah," kata Xiao Chen ragu melanjutkan kalimatnya.
"Pera.... Apa?" tanya Jia Li bersikeras dan mengayun-ayunkan tangannya minta dilanjutkan.
"Tidak ada kau pergilah aku ingin istirahat, dan kau harus sopan padaku, aku lebih tua darimu mana sopan santun seorang puteri kerajaan," kata Xiao Chen.
"Baiklah aku pergi, tapi aku bukan seorang puteri kerajaan yang sopan loh, jadi jangan harap aku bisa sopan hehe," kata Jia Li. "Dah aku pergi," lanjut Jia Li seraya pergi.
Xiao Chen tersenyum melihat tingkah Jia Li yang tidak sesuai dengan statusnya yaitu puteri kerajaan, puteri lain berlomba-lomba bersooan santun pada setiap orang yang menguntungkan bagi mereka, tapi tidak dengan Jia Li dia acuh seperti tak mengharapkan apapun.
"Dia berbeda dan sangat menarik," gumam Xiao Chen.
Sesampainya Jia Li di kamarnya dia langsung tidur.
Matahari belum terbit dan Jia Li sudah berada di halamannya untuk sekedar pemanasan karena sudah lama dia berdiam diri tanpa melakukan latihan.
Burung berkicau udara yang masih berembun memberikan kesejukan bagi Jia Li yang letih. Dia berbaring di atas rerumputan sekedar merasakan angin sejuk menerpa wajahnya.
Seperti hari-hari sebelumnya hari ini pun Jia Li di panggil untuk makan bersama.
Di ruang makan Jia Li berbair baik dengan mereka sekedar mengalihkan kecurigaan mereka karena dia akan beraksi malam ini.
Siang hari Jia Li duduk santai di kamarnya dan kenyamanan itu hilang setelah datang Putra Mahkota Feng Ann.
"Permisi Putri Putra Mahkota ingin bertemu," kata Pelayan menghampiri Jia Li.
"Benarkah, biarkan dia masuk," kata Jia Li pura-pura senang.
Pelayan itu pun keluar untuk memberitahukan Putra Mahkota Feng.
Jia Li berusaha terlihat polos dan senang saat Putra Mahkota Feng masuk.
"Salam pada Putra Mahkota, ada apa gerangan anda datang ke kamar saya," kata Jia Li sesopan mungkin.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin melihatmu dan ingin meminta bantuanmu," kata Putra Mahkota Feng Ann.
"Bantuan apa? Saya akan berusaha membantu sebisa saya," kata Jia Li.
__ADS_1
"Bagus kalau begini terus rencanaku untuk mendekatinya akan berhasil dan lagipula dia kan belum resmi jadi milik tuan Huan itu, jadi aku masih ada kesempatan untuk merebut hatinya kan," batin Putra Mahkota Feng Ann. "Begini aku mendapat tugas dari nenek untuk membereskan laporan-laporan di ruang kerjanya, karena itu penting jadi dia tidak membiarkan pelayan membersihkannya, jadi dia menyuruhku dan aku tak bisa melakukannya sendiri, jadi bisakah kau membantuku dengan hal itu," kata Putra Mahkota Feng Ann.
"Keberuntungan ada dipihakku," batin Jia Li. "Dengan senang hati membantu Putra Mahkota Feng Ann," sahut Jia Li.
Merekapun pergi menuju ruang kerja Ratu yaitu nenek Putra Mahkota Feng Ann. Sekarang dia tidak ada di kerajaan Feng, dia harus pergi ke kerajaan tertanggal untuk menjalin kerjasama, karena tak terlalu jauh, jadi dia sendiri yang pergi.
Sesampainya di ruang kerja Ratu.
"Aku harus melakukan apa dulu?" tanya Jia Li sambil melihat kesegala arah.
"Kamu rapikan buku laporan di rak itu," kata Putra Mahkota Feng Ann sambil menunjuk rak buku yang lumayan berdebu dan berantakan, karena mereka bukan membersihkan ruang kerja Ratu yang sebenarnya tapi lebih tepatnya gudang yang letaknya di dalam ruangan itu.
"Baiklah," jawab Jia Li seraya berjalan kearah rak buku itu.
Jia Li mengambil satu buku dan menepuk-nepuk nya dan debu pun berterbangan membuatnya bersin.
"Hachiii, ah hidungku gatal jadinya," gumam Jia Li sambil mengusap hidungnya.
Putra Mahkota Feng Ann selalu memperhatikan Jia Li dari tempatnya yang sekarang sedang merapikan rak buku yang lain, sesekali dia tersenyum melihat Jia Li yang selalu bersin saat menepuk buku.
Saat dia berusaha mengambil buku yang berada di rak paling atas, tiba-tiba buku yang tumpukannya lumayan banyak itu akan jatuh karena Jia Li mengambil buku yang di tumpukan paking bawah. Tak sempat menghindar Jia Li pasrah saja dan melindungi kepalanya yang nenunduk dengan kedua tangan.
"Eh kenapa tidak jatuh, tapu suara buku jatuh ada kok," gumam Jia Li yang kemudian melihat keatas.
Tatapan Putra Mahkota Feng Ann dan Jia Li bertemu jantung mereka berdua berdegup kencang karena wajah mereka sangat dekat.
Jantung Putra Mahkota Feng Ann berdegup kencang karena gugup dan wajahnya juga memerah, berbeda hak nya dengan Jia Li jantung berdegup kencang karena menahan marah, karena bisa di lihatnya dengan jelas wajah orang yang menghancurkan keluarganya. Meskipun dia tak tahu apa-apa saat itu, tapi sekarang kan sudah besar dan sudah mampu membedakan yang baik dan tidak.
"Ekhem ekhem," deheman Jia Li menyadarkan tatapan dari Putra Mahkota Feng Ann.
"Apakah kau tak apa?" tanya Putra Mahkota Feng Ann.
"Tidak apa-apa Yang Mulia, terimakasih sudah menolongku dan apakah kau terluka, tumpukan bukunya banyak loh," kata Jia Li pura-pura perhatian dengan memeriksa tangan Putra Mahkota Feng Ann.
Wajah Putra Mahkota Feng Ann yang merah semakin merah. Sadar dengan perbuatannya yang menyentuh tangan Putra Mahkota Feng Ann Jia Li langsung melepaskannya. "Maaf kan atas kelancangan saya," kata Jia Li. "Cih aku juga tak sudi menyentuhmu," batin Jia Li.
"Tidak apa, aku juga tidak terluka," kata Putra Mahkota Feng Ann.
__ADS_1
Setelah semua pekerjaan selesai mereka pun beristirahat di ruang kerja Ratu. Tapi bukannya istirahat Jia Li malah mondar-mandir dan itu membuat Putra Mahkota Feng Ann bertanya.
"Puteri apakah kau tidak lelah?" tanya Putra Mahkota Feng Ann.
Sadar di perhatikan Jia Li merubah raut wajahnya yang serius menjadi tersenyum.
"Tidak Yang Mulia saat aku melihat ornamen dari ruangan ini lelah ku hilang, ini sangat Indah," kata Jia Li berbohong.
"Kau benar ruangan ini sangat Bagus karena ini adalah ruangan kakekku dulu," kata Putra Mahkota Feng Ann tanpa sadar.
"Kakek," beo Jia Li pura-pura bingung. "Yang Mulia punya Kakek, dimana dia sekarang aku tak pernah melihatnya," kata Jia Li pura-pura penasaran.
"Aku juga tidak tahu, di saat aku kembali dari akdemiku untuk berkunjung untuk melihat kelahiran adik sepupuku, keadaan kerajaan ini sangat kacau dan mengkhawatirkan, saat itu Kakek beserta adik sepupuku menghilang sedangkan paman Raja dan bibi Permaisuri di temukan tewas di kamar mereka," cerita Putra Mahkota Feng Ann dengan raut wajah sedihnya.
"Apa ini apakah dia tak tahu tentang kejadian pemberontakan itu, apakah aku salah menganggapnya jahat, apakah tidak semua orang yang ada di sini terlibat, jiak aku sembarangan bertindak maka aku akan menyesalinya kemudian hari," batin Jia Li.
"Ah maaf aku jadi cerita yang sedih kepadamu, aku tak tahu aku merasa nyaman bercerita denganmu, kata-kata itu terlontar dengan mudahnya dari mulutku ini," kata Putra Mahkota Feng Ann.
"Tidak masalah Yang Mulia, aku siap mendengar kan semua ceritamu," kata Jia Li. "Aku harus mengusut lebih dalam tentang pemberontakan itu," batin Jia Li.
"Terimakasih," ucap Putra Mahkota Feng Ann.
Waktu pun berlalu dengan cepat di ruang kerja itu Putra Mahkota Feng Ann bercerita dan Jia Li dengan tekun mendengarkan.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like, comments and vote ya
Happy Reading.
__ADS_1