
Hari di mana pesta pernihakan Puteri Qin Mei Lin berlangsung.
Para tamu yang sudah datang dan menginap di istana Qin, masing-masing dari mereka sudah bangun sedari pagi karena mempersiapkan segala sesuatu. Dan untuk para Puteri mempercantik diri mereka untuk memikat para pangeran.
Berbeda dengan Jia Li yang sangat sulit untuk di bangunkan.
"Puteri...Puteri bangun ini sudah pagi, apa puteri tidak bersiap-siap," bangunkan Nuan sambil mengguncang tubuh Jia Li.
"Emmm 10 menit lagi ya...," kata Jia Li yang semakin merapatkan selimutnya.
"Tidak bisa Puteri cepat ba...," perkataan Nuan terhenti saat deheman seseorang terdengar dari belakangnya, dia langsung memberi hormat setelah melihat siapa yang berdehem. "Salam pada Yang Mulia Putra Mahkota," salam Nuan.
Putra Mahkota hanya berdehem membalas salam Nuan. "Kenapa dia? Tidak mau bangun lagi?" tanya Putra Mahkota Meng dan di balas anggukan dari Nuan. "Kau keluarlah siapkan keperluannya biar aku yang membangunkannya," kata Putra Mahkota Meng.
Nuan pun keluar dari kamar dan menyiapkan segala keperluan Jia Li nanti.
Putra Mahkota Meng duduk di tepi peraduan Jia Li dan menarik selimut yang menutupi seluruh tubub sampai kepala Jia Li.
"Emmmm, Nuan nanti dulu, aku masih ngantuk," kata Jia Li tanpa membuka matanya dan menarik kembali selimutnya, tapi selimutnya tak bisa di tarik, kesal Jia Li pun. "Nuan....," kata Jia Li kesal sambil duduk dan menatap tajam siapa yang menahan selimutnya dan saat sudah tahu siapa yang menahan selimutnya dia langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Eh kakak hehe, ngapain di sini, mana Nuan?" tanya Jia Li cengengesan.
Putra Mahkota Meng masih diam dan masih menatap lekat wajah Jia Li dan tak lama dia menggelengkan kepalanya seperti tak percaya.
Jia Li bingung. "Kenapa? Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Jia Li sambil mengusap wajahnya, takut jika wajahnya banjir.
"Aku masih tak percaya, jika di tubuh adikku ini gadis dewasa," kata Putra Mahkota Meng.
Jia Li memegang kedua tangan Putra Mahkota Meng dan meletakkan nya ke pipinya. "Aku tetap adikmu, meskipun hanya tubuhnya, bukan jiwanya, tapi aku sedari dulu sudah menganggapmu dan Pangeran Zhe adalah kakakku, seperti kak Mo," kata Jia Li sambil tersenyum manis sambil menurinkan tangan Putra Mahkota Meng.
"Benar kau adikku, jadi cepatlah bangun, seorang Puteri kerajaan tidak sepemalas dan bar bar sepertimu," kata Putra Mahkota Meng.
Jia Li cemberut sedangkan Putra Mahkota Meng hanya terkekeh. "Kakak kan tahu sifatku bagaimana dulunya, aku tidak bisa mengikuti gadia bangsawan, sedikit sih bisa, seperti menggunakan pakaian perempuan," kata Jia Li sambil berpikir.
"Ya ya ya, cepatlah bersiap nanti kita terlambat," kata Putra Mahkota Meng.
__ADS_1
"Baik boss, aku mandi dulu," kata Jia Li sambil bergaya ala tentara dan berlari ke kamar mandi.
Putra Mahkota Meng hanya menggelengkan kepala. "Maaf adikku yang asli, kakakmu ini tidak menjadi kakak yang baik untukmu, tapi meskipun kau bukan adik asliku tapi hanya tubuhnya saja, aku akan berusaha menebis kesalahanku dan selalu menjagamu," gumam Putra Mahkota Meng.
...
Jia Li telah selesai dengan mandi, dandan dan lainnya, tinggal menunggu di jemput oleh Kakaknya yaitu Putra Mahkota Meng.
Tak lama ada suara ketukan dari pintu, langsung saja Jia Li bergegas membukakan pintu.
"Ka...," panggilan Jia Li terhenti disaat orang yang mengetuk pintu bukanlah orang yang di tunggu. "Kamu...ngapain kesini?" tanya Jia Li.
"Apakah tak boleh aku datang menemui istriku," goda Huan Tian. "Aku rindu padamu, gara-gara Kaisar Qin itu aku jadi tak bisa menemuimu," kata Huan Tian manja sembari mendorong Jia Li masuk kembali ke kamarnya.
"Iiihhh apaan sih, kenapa masuk lagi? Kita bisa terlambat datang nanti," kesal Jia Li sambil mendorong Huan Tian yang semakin memojokkan Jia Li.
"M mau apa kau?" kata Jia Li yang sudah terpojok di dinding dengan di apit kedua tangan Huan Tian.
"Jia Li kau sudah siap?" tanya orang yang mengetuk.
Jia Li langsung mendorong Huan Tian dengan tenaga kuat sehingga dia berhasil lolos. "Pergilah lewat jendela, aku tak ingin Kakak ku melihatmu," kata Jia Li.
Huan Tian hanya bisa menurut pasrah ucapan Jia Li dengan cemberut dan pergi.
"Jia Li," panggil Putra Mahkota Meng lagi.
"Ya ya kak aku datang," kata Jia Li sembari membuka pintu.
"Lama sekali," kata Putra Mahkota Meng kesal.
"Maaf," kata Jia Li memelas. "Ayo kita keaula pernikahan, jangan ngambek, nanti tamvannya ilang loh," ajak Jia Li yang melihat kakaknya cemberut, dia hanya terkekeh melihat kelakuan Putra Mahkota Meng.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju aula pernikahan. Setibanya di sana mereka di sambut dengan ramah oleh kaisar beserta Putra Mahkota Zho.
__ADS_1
Tak jauh dari mereka berdiri ada sepasang mata menatap kearah Jia Li intens. Menyadari tatapan itu Jia Li mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan dan terhenti saat pelaku yang menatapnya masih setia menatapnya. Jia Li menyunggingkan senyuman dan di balas dengan senyuman pula oleh orang tersebut.
Acara pernikahan di mulai dengan khidmat para tamu bersuka cita dengan berasatunya dua insan yang sudah berjodoh.
"Wahh mereka sangat serasi," gumam Jia Li melihat Puteri Qin Mei Lin dengan pasangannya. Dalam lamunan Jia Li tak sadar jika ada seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.
"Ya mereka sangat serasi, dan aku merasa terlangkahi untuk itu," ucap seseorang yang mendengar gumaman Jia Li.
Seketika Jia Li terlonjak kaget karena dia tak menyadari kehadiran orang tersebut. "Astaga, kau ini membuatku kaget saja," kata Jia Li sambil mengelus dadanya yang detak jantung nya masih tak teratur karena terkejut.
Orang tersebut terkekeh dan berkata lagi. "Mana janjimu malam tadi, yang akan memberitahuku siapa kamu," Kata orang itu. Dia adalah Pangeran Chen.
Jia Li menampilkan deretan giginya dengn senyum lebar dan berbisik. "Masa lupa dengan ku Chenchen, apakah ada pengganti sahabat tercintamu ini?" setelah membisikkan itu dia berlari keluar aula.
Pangeran Chen tertegun mendengar bisikan itu, bukannya kaget tapi merasakan rindu yang sudah lama ditahannya karena dia teringat bahwa 'Chenchen' itu adalah panggilan akrabnya dengan sahabatnya yaitu Lily.
Setelah sadar dengan lamunannya dia langsung mencari keberadaan Jia Li yang tak nampak di pandangannya, dia penasaran kenapa Jia Li bisa tahu nama itu, apakah dia kenal dengan Lily? Apakah dia pernah bertemu dengannya?. Banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya, tapi tak dapat di lontarkan karena dia harus mendapati keberadaan Jia Li terlebih dulu.
•
•
•
•
•
Maaf lama up nya, karena author memiliki kesibukan lain jadi jarang up. Tapi di usahakan agar up terus. Mohon doa dan dukungannya ya....
Jangan lupa like, comments and vote ya...
Happy Reading.
__ADS_1