Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
BD (S2)


__ADS_3

Jia Li sampai di dapur dan orang-orang yang berada di sana nampak terkejut dan langsung memberi hormat. "Selamat datang Ratu, apakah ada sesuatu yang anda perlukan?" tanya kepala pelayan yang tak berubah sejak dulu saat Jia Li masih menjadi Lily.


Jia Li tersenyum menanggapi mereka, tanpa niat menjawab Jia Li masuk dan mengambil beberapa bahan untuk memasak. "Kalian boleh beristirahat, aku akan memasakkan makanan untuk Raja kalian," ucap Jia Li tanpa memandang mereka yang masih terkejut. Belum sempat mereka menolak Jia Li langsung angkat bicara lagi. "Tidak ada penolakan, kalian istirahtlah, aku hanya perlu beberapa orang untuk membantuku,"


Mereka pun keluar dari dapur dan mengerjakan pekerjaan lainnya dan di dapur hanya tersisa Jia Li dan 4 pelayan untuk membantu.


Beberapa jam kemudia Jia Li telah selesai dengan acara masaknya dan sekarang waktunya untuk mengunjungi suami tercintanya.


Di sepanjang jalana menuju ruang kerja Huan Tian Jia Li selalu bersenandung ria. Darimana dia tahu jika Huan Tian berada di ruang kerjanya? ya tentu tau lah karena dia bertanya pada pengawal pribadi Huan Tian yang sehabis dari ruang kerja Huan Tian.


Jia Li sampai di depan pintu coklat yang di lapisi emas dengan ukiran rumit. Di depan pintu ada seorang 2 orang penjaga, di saat penjaga hendak mengumumkan kedatangannya Jia Li melarangnya, karena dia ingin memberikan kejutan pada Huan Tian seperti di kehidupannya yang dulu.


Perlahan tapi pasti Jia Li mendorong pintu dengan pelan, dia melanglah masuk dan duarrr penglihatannya yang suci terkontaminasi dengan adegan dewasa huhuhu mataku, hanya khayalan Jia Li hahaha. Tapi adegan dewasa nya yaitu seorang gadis centil sedang merayu suaminya yang amat sangat tampan itu.


"Ekhem," deheman Jia Li yang membuat kedua insan itu gelabakan bak ketahuan selingkuh.


Terlihat sangat jelas dari raut wajah Huan Tian tang gugup sampai keringat dingin bercucuran di pelipis sampai membasahi sebagian wajahnya. Berbeda dengan sang gadis setelah terlihat gugup dia menjadi semakin angkuh setelah tahu siapa yang mengganggunya merayu suami orang.


Di pandanginya Jia Li dari atas sampai bawah. "Cantikkan aku," ucapnya santai.


"Istri aku bisa jelaskan, i-ini tidak seperti yang terlihat," ucap Huan Tian Menjelaskan dengan gugup.


Sang gadis penggoda berdiri dan bergelayut manja di lengan Huan Tian meski sudah di tepis Huan Tian tapi sang gadis masih menempel bak perangko.


"Sudahlah Yang Mulia, akui saja kita ini memiliki hubungan," ucap sang gadis dengan suara manjanya yang membuat Jia Li mau muntah, menjijikan.


"Sayang percayalah ini tidak seperti yang terlihat," jelas Huan Tian meyakinkan Jia Li, tapi Jia Li masih diam melihat drama apa lagi yang akan di mainkan sang gadis centil.


"Yang Mulia ayolah akui saja dan aku juga mengandung anakmu kan," ucap sang gadis.


Tak tahan lagi melihat drama murahan di hadapannya Jia Li tertawa lantang.


"Hahahahaha, hamil? Anak? kau pikir aku percaya?" ucap Jia Li setelah puas tertawa. Dia berjalan menuju meja dan menaruh makanan di meja serta mempersilahkan pelayan untuk menatanya.

__ADS_1


"Mau makan?" tanya Jia Li pada Huan Tian yang masih was was, kalau-kalau amarah Jia Li meledak, karena meskipun dia kuat dari Jia Li tapi dia tak akan mampu melawan wanita yang sangat di cintainya, cukup dulu dia kehilangannya dan sekarang dengan cara apa pun dia harus bisa mempertahankan rumah tangganya.


Huan Tian duduk berhadapan dengan Jia Li, tapi sebelum itu dia menghempaskan tangan gadis centil agar melepaskan lengannya.


Huan Tian tak berani bersuara maupun bergerak duluan. "Makanlah, sebelum makanan ini dingin, nanti tak enak lagi," ucap Jia Li yang kemudian menata makanan untuk Huan Tian.


Huan Tian terlihat sedikit lega dengan perlakuan Jia Li, tapi juga khawatir karena lautan yang tenang kita tak tahu seberbahaya apa di dalamnya kan.


Sanga gadis centil kesal emosi karena di acuhkan dia mengambil kursi dan duduk di sebelah Huan Tian dengan selalu menempel padanya. Jia Li hanya acuh, belum saatnya dia marah, karena perutnya masih berdemo meminta di isi.


Beberapa saat kemudian mereka selesai makan, yaa tentu saja yang makan hanya Jia Li dan Huan Tian, sang gadis centil hanya bergelayut manja di lengan Huan Tian, sesekali Huan Tian menepis tangannya yaa gadis centil yang tetap tak tahu malu.


Selesai pelayan membersihkan meja Huan Tian dan gadis centil di sidang oleh Jia Li.


"Jelaskan dari awal hingga akhir," ucap Jia Li dingin.


Deg deg deg.


"Dia Puteri dari Menteri Kehakiman Meishu, yang merupakan gadis yang di tawarkan untuk menjadi selir," ucap Huan Tian hati-hati.


"Lalu? Kenapa katanya dia hamil?"


"Itu aku juga tidak tahu, aku tidak pernah menyentuhnya," jelas Huan Tian.


"Yang Mulia apa maksudmu, apakah kau tak ingat saat itu kita telah bermalam," ucap Meishu.


"Huh, aku tahu maksudmu, kau merasa bermalam dengan suamiku, tapi padahal lelaki yang menidurimu itu bukanlah suamimu," ucap Jia Li santai.


"Apa maksudmu? Aku tak berkhayal lelaki itu memang Yang Mulia," teriak Meishu.


"Aku tidak pernah," sanggah Huan Tian.


"Sudah sudah, aku tahu siapa lelaki itu, jangan berbohong, karena jika aku tahu kau masih mengelak dan berbohong aku tak tahu apa yang akan terjadi padamu beserta keluarga besarmu itu," kata Jia Li dengan tatapan tajam dan nada dingin.

__ADS_1


Meishu gemetar tangannya perlahan melepas lengan Huan Tian. "Aku tidak berbohong anak di rahimku ini benar-benar anak Yang Mulia," kata Meishu bersikukuh.


"Baiklah, aku memberimu pilihan untuk terkahir kalinya," menarik nafas berat. "Jujur maka aku akan mengampuni mu beserta keluargamu dan jika kau masih berbohong maka jangan salah kan aku jika kau beserta keluargamu akan musnah dari daratan ini," ucap Jia Li dingin.


"Aku tak berbohong, malam itu Yang Mulia dengan ku benar-benar bermalam bersama," ucap Meishu pada pendiriannya, yaa sebenarnya terlihat dia sangat gemeteran, dari tangan yang mencengkram erat dengan tangan lainnya.


"Baiklah jika itu pilihanmu,"


Huan Tian was was dengan apa yang akan di lakukan Jia Li.


"Aku tanya padamu, kau mau istana ini seperti dulu lagi atau ingin seperti sekarang?" tanya Jia Li pada Huan Tian.


"Aku serahkan padamu saja," ucap yakin Huan Tian, toh dia juga tak akan mampu menghentikan Jia Li jadi dia percayakan saja semuanya pada Jia Li, kan tidak mungkin juga Jia Li akan mempertaruhkan nyawa yang tak berdosa.


"Bawa dia masuk," teriak Jia Li memerintahkan beberapa orang masuk.


Muncullah dua orang berpakaian serba hitam dengan penutup wajahnya serta seorang lagi yaitu seorang pemuda yang terlihat tampan dan memakai pakaian yang mewah, terlihat dari situ dapat di pastikan dia seorang bangsawan.


Meishu terlihat gugup keringat dingin mulai bercucuran dan membasahi wajahnya sampai menetes melalui dagunya.







Jangan lupa like, comments and vote ya...


Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2