Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 35


__ADS_3

Mereka semua pun tertawa melihat tingkah imut dari Li Min. Lily pun memakai cadarnya sebelum keluar ruangan.


"Lily kenapa pakai cadar," tanya Xiao Lan.


"Aku hanya tak ingin menjadi pusat perhatian karena kecantikanku," kata Lily dengan sombongnya.


Mereka semua hanya memutar bola mata mereka jengah mendengar kepercayaan diri Lily.


+++


Mereka menaiki dua kereta, kereta pertama berisikan para pria, sedangkan kereta kedua berisikan para gadis.


Kereta mereka menyusuri jalan dan melewati hutan. 1 jam kereta berjalan sampailah mereka di ibu kota. Meskipun masih siang ibu kota sudah terlihat sangat ramai dengan para warga maupun pendatang dari luar.


"Ayo kita keluar," kata Mu Yue mengajak Lily, Xiao Lan dan Lin Sing.


Para gadis keluar dari kereta, begitu juga dengan para pria yang ternyata sudah menunggu.


Mereka jadi pusat perhatian sedari turun dari kereta, bagaimana tidak 5 pemuda tampan berbeda usia dengan 4 gadis cantik berjalan dengan sambil bercanda. Mereka penasaran dengan identitas mereka, aplagi dengan seorang gadis yang menggunakan cadar yang senada dengan pakaiannya. Ya dia adalah Lily, meskipun saat di pesta peresmian 5 bulan yang lalu dia melepas cadarnya, tapi tidak untuk di waktu selanjutnya, dia hanya melepas cadarnya saat bersama kelurga dan teman-temannya.


Mereka berjalan sambil berhenti di toko yang menarik bagi mereka dan membeli beberapa barang.


Setelah merasa lelah mereka berencana mencari penginapan untuk beristirahat.


Setelah lama mencari akhirnya mereka menemukan penginapan tapi hanya ada satu kamar tersisa, karena banyak nya orang yang datang dari berbagai daerah maupun utusan dari kerajaan lain, karena mereka akan menghadiri pesta kembalinya pangeran ketiga yang sudah lama tidak pulang yang akan dilaksanakan pada malam besok.


"Permisi apakah ada kamar kosong?" tanya Yen Mo pada pelayan penjaga.


"Ada, tapi hanya tersisa satu kamar kosong," jawab pelayan.


"Tidak apa, akan kami ambil, kami hanya sehari di sini," jelas Yen Mo.


Setelah mendapat kamar merekapun diantarkan oleh beberapa pelayan perempuan yang terlihat genit dengan Yen Mo. Lily dan yang lainnya hanya menahan tawa mereka melihat Yen Mo yang terus di goda oleh beberapa pelayan.


Mereka sampai di depan pintu dan Yen Mo memesan makanan.


"Kami pesan makanan untuk sembilan orang dan bawa kekamar kami," kata Yen Mo dengan wajah datarnya, tapi dalam hatinya risih dan jijik dengan para perempuan penggoda. Lain hal nya dengan Lily dan gadis lainnya, mereka berbeda di mata Yen Mo. Mereka itu tidak bermuka dua dan mereka itu apa adanya.


"Baik tuan-tuan dan nona-nona, kami akan menyiapkannya," kata salah satu pelayan dan merekapun pergi.


Sepertinya mereka Lily dan yang lainnya pun tak dapat lagi menahan tawa, dan akhirnya tawa mereka pecah, sedangkan Yen Mo menatap kesal kearah mereka. Mu Yue yang sedari tadi menjaga perilakunya dihadapan pria pujaannya saja tak dapat menahan tawanya.


Sampai saat di dalam kamar mereka masih saja tertawa.

__ADS_1


"Apakah kalian tak lelah daritadi tertawa terus?" kata Yen Mo dengan kesalnya.


"Maaf maafkan kami, masalahnya wajah kakak itu lho yang bener-bener lucu," kata Lily yang mulai menetralkan tawanya begitu juga dengan yang lain.


Mereka semua bercanda tanpa memikirkan status mereka dan bercandaan mereka terhenti saat suara ketukan dari pintu.


Tok tok tok, "Sebentar," kata Lily yang membukakan pintu.


"Pesanan anda nona," kata pelayan.


"Baiklah, tata di atas meja itu," kata Lily menunjuk meja besar ditengah kamar.


Selesai menata para pelayan pun keluar, sedangkan Lily dan yang lain mulai makan. Lily, Lin Sing, Li Mu dan Li Min terlihat sangat kelaparan, karena sedari pagi mereka tidal sempat makan sehabis latihan hanya sempat minum kelapa.


Meja sudah bersih menandakan mereka telah selesai dengan makan mereka. Matahari masih tinggi, melihat itu mereka memilih untuk istirahat, sebelum malam tiba.


+Sore menjelang malam+


"Ayo kita siap-siap untuk pergi, nanti kita tak akan sempat menuju pusat pestanya, karena akan banyak orang dan jalan akan menjadi padat," kata Xiao Lan. Di yang paling tahu, karena dia setiap tahunnya selalu datang ke pesta lampion.


"Baik," ucap mereka serempak.


Mereka berjalan beriringan dan itu membuat mereka selalu di perhatikan orang di sepanjang perjalanan.


30 berjalan kaki, mereka sampai di pusat kota atau pusat pesta berlangsung.


Mereka yang melihat tingkah Lily yang seperti anak kecil kegiatan gan b mendapat makanan yang disukainya hanya menggelengkan kepala mereka.


"Li Mu dan Lin Min/aku yang sesungguhnya anak kecil saja tidak seperti dia," batin mereka.


Mereka mencari tempat makan, karena setelah istirahat di penginapan mereka tak sempat makan karena terlalu kesorean bangunnya.


Mereka pun masuk di sebuah rumah makan yang ramai di kunjungin para pembeli.


"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan rumah makan tersebut.


"Ya apakah ada meja kosong yang cukup untuk sembilan orang?" tanya Xiao Lan.


"Ada silahkan ikuti saya," kata pelayan seraya mengajak mereka menaiki lantai 2 rumah makan tersebut.


"Silahkan tuan dan nona, mau pesan apa?" tanya pelayan.


"Bawakan semua makanan terenak disini," kata Xiao Lan.

__ADS_1


"Baiklah tuan dan nona, tunggu sebentar, kami akan menyiapkannya," kata pelayan dengan mata berbinar nya.


Sambil menunggu mereka berbincang-bincang, tapi sedari keluar penginapan Lily sudah merasa ada yang mengikuti mereka, tapi dia memilih untuk membiarkannya saja, kecuali orang-orang tersebut mengganggu mereka.


Beberapa menit kemudian beberapa pelayan datang dengan nampan besar di masing-masing tangan mereka.


"Silahkan dinikmati," kata pelayan tersenyum sopan.


"Terimakasih," kata mereka.


Mereka makan dengan nikmat dan menghabiskan semua makanan yang ada. Setelah kenyang mereka membayar makanan mereka dan melanjutkan berjalan melihat-lihat keramaian jalan.


Tak terasa terang berganti gelap menandakan malam sudah menjemput.


Suasana di jalan ibu kota terlihat semakin ramai dan Indah dengan gantungan lampion dimana-mana. Di sepanjang jalan banyak orang yang menjual lampion, karena akan ada puncak pesta pada tengah malam yaitu menerbangkan lampion bersama.


Mereka bersembilan menikmati pesta yang setiap tahunnya di adakan ini dan ini pertama bagi Lily mendatangi pesta di jalan, karena pada zamannya tidak ada seperti ini.


Tak terasa tengah malam akan tiba, Lily dan yang lainnya sudah membeli lampion masing-masing dan mereka menuliskan harapan mereka pada bagian lampion milik mereka.


Karena masyarakat mempercayai jika kita menulis harapan dan menerbangkan lampion kelangit, maka lampion itu akan sampai kepada dewa dan dewa tersebut akan mengabulkan harapan itu. Sebenarnya Lily tak mempercayai hal seperti itu, tapi dia ikut-ikut aja.


"Ayo, kita lepas bersama-sama ya," ucap Mu Yue dan di angguki oleh Lily dan lainnya.


"1, 2, 3, lepas," kata Xiao Lan.


Mereka pun melepaskan lampion masing-masing dan membiarkannya terbang ke atas bersamaan dengan lampion orang-orang.


Mereka berdecak kagum melihat keindahan di depan mata mereka yang menghiasi langit gelap dengan lampion yang berwarna-warni.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Happy Reading


Next...


__ADS_2