
Perjalanan itu di warnai canda tawa dari Huan Tian dengan Jia Li. Mereka sampai di istana awan pada malam hari, karena mereka berangkat juga pada pagi menjelas siang.
Sesampainya mereka di istana awan mereka di sambit oleh para pelayan dan prajurit, belum sempat Huan Tian beristirahan ada seorang pelayan yang menginfokan bahwa para Menteri setiap harinya selalu menunggu kedatangannya dan berkumpul di aula rapat hari ini pun juga begitu.
"Yang Mulia Huan memasuki aula," ucap penjaga dengan lantang.
Para Menteri yang memang sudah menunggu langsung berdiri menyambut kedatangan Huan Tian. Huan Tian berjalan penuh wibawa menuju singgasananya yang megah.
"Apalagi yang kalian inginkan?" tanya Huan Tian dengan dingin sambil menatap tajam keseluruhan Menteri di ruang aula tersebut.
Semua Menteri dan orang yang ada di ruangan itu seketika pucat pasi dengan susah payah menelan saliva mereka.
Dan ketegangan itu pecah saat seorang Menteri membuka suara. "Mohon maaf Yang Mulia kami berkumpul di sini dan menunggu anda karena ingin meminta anda untuk secepatnya mengambil selir lainnya untuk meneruskan keturunan anda, karena sudah lama anda menikah dengan Permaisuri tetapi belum di karuniai seorang penerus dan lagi Permaisuri jarang berada di istana ini, bukankah tugas seorang Permaisuri itu berada di samping Yang Mulia untuk membantu, bukan malah kelayapan kemana-mana," ucap Perdana Menteri.
Rahang Huan Tian mengeras dan tangannya mengepal kuat menatap tajam Perdana Mneteri menyinggung wanita yang di cintainya.
Dengan berusaha menahan amarah Huan Tian berkata. "Kau tenang saja, meskipun Permaisuri jarang berada di sini tetapi dia masih membantuku, dan untuk selir, aku masih menolak membuat harem, aku hanya membutuhkan Permaisuri sebagai pendampingku tidak lebih, dan juga kami akan mengadakan pernikahan lagi di kerajaan langit dan menyebarkan keseluruh negeri tentang pernikahan kami ini. Jadi dalam satu bulan ini aku tidak ingin mendengar permintaan konyol kalin lagi, ku rasa cukup untuk rapat hari ini, silahkan bubar," ucap Huan Tian yang langsung berdiri dan pergi keluar ruangan.
...
Dikamar Jia Li sedang merebahkan tubuhnya di peraduan, karena sangat melelahkan melakukan perjalanan tanpa henti. Tak terasa Jia Li tidur dengan lelapnya. Tapi tidur nya terganggu saat ada tangan yang mengelus lembut pada pipinya.
"Bangun sayang, kita makan yuk," ucap orang yang membangunkan.
"Hmmmm, nanti saja ya, aku ngantul berat ini, lelahh...," ucap Jia Li dengan suara malasnya.
"Bangunlah dulu, nanti kamu sakit tidak makan, nanti setelah makan bisa di lanjutkan tidurnya," ucap Huan Tian berusaha membujuk Jia Li.
"Hmmm, baiklah," sahut Jia Li yang beranjak ke kamar mandi untuk membasuk wajahnya.
setelah beberapa saat dia keluar dan mendapati Huan Tian yang sudah duduk di meja makan menunggunya.
"Ayo makan," ajak Huan Tian sambil melambaikan tangannya.
Jia Li dengan lesu menghampiri meja dan duduk pada kursi. Huan Tian dengan sigap mengambilkan makanan untul Jia Li, dierlakukan dengan baik dan manis seperti ini seulas senyum tampil di wajah Jia Li. "Makasih," ucap Jia Li dan di balas dengan senyuman manis oleh Huan Tian.
__ADS_1
Mereka pun makan bersama, sesekali bercanda untuk menghilangkan keheningan yang melanda. Setelah usai makan Jia Li mengutarakan keinginannya untuk pergi ke kerajaan Feng untuk bernegosiasi dengan Putra Mahkota Feng Ann.
"Kau yakin jika dia mau menerima?" tanya Huan Tian.
"Tidak terlalu yakin, tapi di coba aja dulu lagipula aku akan mengajak Xiao Chen untuk kesana," kata Jia Li.
"Baiklah aku akan ikut membantumu," ucap Huan Tian.
"Tidak perlu kau ikut, jika kau ikut di sini akan kacau lagi, kau serahkan saja padaku, dalam satu bulan ini aku akan menepati janjiku dan kita akan melakukan pernikahan seperti yang sudah di rencanakan," kata Jia Li dengan menampilkan senyumannya.
"Huhhh, baiklah aku percaya padamu," pasrah Huan Tian.
...
Dua hari sudah Jia Li berada di istana awan dan sekarang dia akan kembali ke kerajaan langit dan melakukan rencananya.
"Mau ku antar?" tanya Huan Tian yang sebenarnya sangat berat melepas kepergian Jia Li.
"Tidak perlu, jika ada sesuatu aku akan mencarimu nanti, tenang saja," kata Jia Li sambil tersenyum.
Jia Li pun pergi dati istana awan bersama Minghao, Bird dan White Dragon sebaagai pengawalnya. Karena jika tidak seperti itu Huan Tian akan mengerahkan puluhan prajurit untuk mengawal kepergian Jia Li, itu sangat merepotkan bagi Jia Li.
Perjalanan yang menempuh waktu hampir setengah hari itu dengan menaiki punggung Minghao yang berubah menjadi singa berjalan dengan mulus sampai ke tujuan.
Di depan gerbang istana Jia Li disambut hangat oleh para prajurit penjaga gerbang.
"Selamat datang Puteri," ucap mereka serempak.
"Ya," jawab Jia Li dengan tersenyum menanggapi mereka.
Jia Li menuju kamarnya dan di sana sudah ada Nuan yang menunggu dan menyambut Jia Li.
"Selamat datang Puteri," ucap Nuan seraya menunduk.
"Ya, siapkan air mandiku ya, rasanya gerah setelah perjalanan jauh," ucap Jia Li yang langsung merebahkan tubuhnya di peraduan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Nuan datang memberitahukan air nya sudah siap dan langsung saja Jia Li mandi.
"Ahhh segarnya," gumam Jia Li sambil mengeringkan rambutnya yang basah di dalam kamar juga sudah tersedia makanan untuknya.
Setelah kegiatannya selesai semua, dia berencana untuk mengunjungi ayahnya dan kakak-kakaknya.
...
Sekarang dia sudah berada di ruang kerja ayahnya untuk membicarakan rencana nya untuk menikah dengan Huan Tian. Ayahnya merasa senang dan merestui nya begitu juga Kakak-kakaknya yang juga berada di ruang kerja ayahnya itu.
Semua orang nampak senang dengan keputusan Jia Li yang ingin mengumumkan pernikahannya bersama Huan Tian yang sebenarnya sih sudah menikah, tapi karena suatu alasan dia menyembunyikannya dan hanya ayahnya yang tahu kan.
Hari-hari berlalu dengan damai Jia Li mengunjungi rumah Yongsheng dan Yimin untuk menemui Xiao Chen, dia akan mendiskusikan tentang rencananya itu dan sekarang sudah sepakat dengan Xiao Chen untuk menemui dan bernegosiasi dengan Putra Mahkota Feng.
...
Keesokan harinya Jia Li bersama Xiao Chem pergi kekerajaan Feng dengan menyamar dan mengirimkan surat kepada Putra Mahkota Feng untuk bertemu.
Selama perjalanan mereka masih mendiskusikan rencana B kalau-kalau rencana awal gagal. Tak terasa mereka sudah menginjakkan kaki kuda mereka di kerajaan Feng.
"Huhhh akhirnya waktunya tiba juga," gumam Jia Li sambil menghiruf udara segar.
Mereka berdua menuju tempat pertemuan yang sudah di rencanakan yaitu di sebuah rumah makan 3 tingkat. Mereka memesan 2 ruangan VIP. Selama beberapa waktu akhirnya Putra Mahkota Feng datang, di dalam ruangan hanya ada Jia Li sedangkan Xiao Chen berada di ruang sebelah menunggu di panggil.
•
•
•
•
•
Jangan lupa like, comments and vote ya...
__ADS_1
Happy Reading.