Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 31


__ADS_3

"Baiklah aku akan kesana, kalian jangan ikut," kata Lily seraya pergi.


Lily mulai menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian tipis. 2 jam Lily berendam, badannya terasa ringan dan hangat.


"Wah air ini sangat nyaman untuk berendam," gumam Lily keluar dari kolam dan memakai pakaiannya.


"Bird, White aku akan keluar dari sini, jagalah dengan baik dimensi ini," kata Lily.


"Tenang Lily kami akan merewatnya dengan baik, jangan lupa sering-sering berkunjung," kata White Dragon.


Lily pun keluar dari dimensinya. Dan bertepatan dia keluar terdengarlah suara ketukan dari pintu.


"Tok tok tok, Lily apakah kamu sudah bangun," panggil Lin Sing.


"Iya aku sudah bangun, masuklah," kata Lily berbohong.


"Kata pengawal Minghao kamu tidur, tapi lama amat kamu tidur apakah tak lapar, ini aku bawakan makanan," kata Lin Sing seraya menyusun makanan dimeja.


"Lapar...," kata Lily mengelus perutnya.


"Cepat makan," kata Lin Sing yang sudah selesai menata makanan di meja.


"Makasih, kamu yang selalu mengerti aku," kata Lily yang membuat Lin Sing merinding.


"Kenapa kamu Lily? Setelah tidur lama kenapa kamu lebih terlihat berbeda dan juga kamu lebih cantik" kata Lin Sing yang mulai duduk didepan Lily.


"Benarlah aku lebih cantik? Itu artinya aku berhasil dong," kata Lily yang membuat Lin Sing semakin bingung.


Lily sudah selesai dengan makannya. Dan dia pun berencana untuk istirahat.


Hari demi hari berjalan dengan terasa lambat, sekarang bertepatan dengan kedatangan Jenderal Mo dari perbatasan dan pesta peresmian Lily dilaksanakan.


Kediaman Jenderal Mo sudah dihiasi dengan mewah dengan memadukan warna putih dan biru beserta lampion merah yang menggantung disetiap sudutnya. Pesta ini dilaksanakan pada malam hari karena akan lebih Indah melihat lampion yang meyala.


Tamu undangan sudah mulai berdatangan, mulai dari Bangsawan, Pangeran, Putra Mahkota, Para Putri, Pejabat, Para Menteri dan termasuk juga keluarga besar Jenderal Mo yaitu ayah, ibu, para kakak dan pada adik Jenderal Mo.


Jenderal Mo sedang asik berbincang dengan keluarganya sambil menyambut para tamu undangan.


Terlihat juga Putri dari Perdana Menteri Mu Shen yaitu Putri Mu Yue bersama dengan temannya yang masih tidak diketahui namanya.


Semua tamu undangan sudah berkumpul di aula yang terbuka, tetapi pemeran utama dari pesta belum juga muncul, dan itu membuat mereka bertanya-tanya.


"Apakah dia malu dengan wajahnya ya, karenakan dia memakai cadar,"


"Mungkin,"

__ADS_1


"Bagaimana bisa pemeran utama dari pesta ini datang terlambat,"


Jenderal Mo hanya menahan emosinya mendengar semua perkataan dari para tamu. Tak lama mereka semua dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis yang sangat cantik bak Dewi. Dia menggunakan pakaian berwarna merah maroon dengan hiasan kepala sederhana dan make up natural yang memancarkan kecantikan alami.


Orang-orang yang melihat ada dengan tatapan memuja, mengagumi, cemburu, iri dan lainnya. Mereka terlena dengan kecantikan Lily yang baru pertama kali membuka cadarnya di depan publik.



"Wahhh cantiknya,"


"Siapa dia, sangat cantik,"


"Nanti aku akan minta ayah untuk menjadikannya selirku,"


"Siapa gadis itu, lebih cantik aku,"


"Huh bilang aja iri,"


Banyak lagi bisikan yang di lontarkan pada Lily. Saat ini Lily tidak menggunakan cadar karena dia tidak ingin Yen Mo mendapat hinaan dari orang karena dirinya. Lily hanya acuh menanggapi reaksi dari orang-orang. Ekspresinya datar dan memancarkan aura keanggunan seorang bangsawan.


"Kakak, maaf adik datang terlambat," ucap Lily.


"Aah ternyata dia gadis bercadar, adik angkat Jenderal Mo itu, aku tidak menyangka dia secantik ini,"


"Benarkah ini Lily, aku melihat wajahnya sangat berbeda saat pertama aku melihatnya" batin Putra Mahkota.


"Aku hanya ingin," kata Lily dengan senyumannya.


Lagi-lagi orang dibuat tertegun dengan senyumannya yang bisa menghancurkan sebuah kekaisaran. Ada yang mimisan, ada yang menganga bankan ada yang pingsan melihat senyuman Lily.


"Lily...," panggil Putri Mei Lin.


"Ah Putri Mei Lin datang juga, terimakasih sudah datang," kata Lily tersenyum dan membuat pemuda-pemuda yang berdiri di belakang Putri Mei Lin merah merona di pipi mereka bahkan ada yang mimisan.


"Pangeran ke lima hidungmu mimisan tuh," tegur Pangeran ke dua.


Cepat capat Pangeran ke lima menutup sebagian wajahnya dengan lengan pakaiannya sambil membersihkan darah.


"Tidak masalah, aku juga datang dengan Putra Mahkota dan Pangerang ke dua dan kelima," jelas Putri Mei Lin.


"Yen Mo apakah dia adik angkatmu?" tanya ayah Jenderal Mo.


"Iya ayah, nanti aku akan mengumumkannya," jelas Yen Mo seraya mengumumkan.


"Para hadirin sekalian saya salaku tuan rumah mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena sudah datang di pesta peresmian adikku, oleh sebab itu aku akan memperkenalkannya kepada kalian," kata Yen Mo seraya memanggil Lily dengan lambaian tangan.

__ADS_1


"Namanya Lily Mo dan dia akan resmi menjadi adikku dari sejak malam ini," jelas Yen Mo.


"Karena perkenalannya sudah selesai maka acaranya akan kita mulai," kata Yen Mo.


Pesta pun dimulai, tarian, nyanyian membuka acara pesta ini.


Karena terlalu bosan Lily pun ingin pergi dari samping Yen Mo.


"Mau kemana?" tanya Yen Mo.


"Ahh, aku bosan di sini biarkan aku duduk di pojok sana," kata Lily seraya menunjuk meja dan kursi kosong yang berada paling ujung.


"Baiklah," kata Yen Mo mengijinkan.


Lily pun menuju kearah yang di tuju. Belum sempat duduk, tiba-tiba banyak yang sudah mengelilinginya.


"Ada apa?" kata Lily dengan wajah datarnya.


Yang ditanya pun malu-malu menjawab.


"Ahh tidak ada, kami hanya ingin berkenalan," jelas salah satu pemuda yang tak dikenal Lily. Bukan hanya dia tapi semua pemuda yang mengelilingi, Lily tak mengenalnya.


"Kalian kan sudah dengar saat kakakku memperkenalkanku, mau apa lagi" kata Lily datar.


"Cih sombong sekali kau, hanya adik angkat seorang Jenderal saja sudah sombong," kata salah satu pemuda.


Lily masih menahan emosinya karena hinaan yang dilontarkan si pemuda. Dia tidak ingin membuat keributam.


"Jika sudah selesai, pergilah kalian," kata Lily yang menerobos keluar dari rombongan pemuda itu dan duduk di kursi tujuannya.


"Kau tak tahu kami siapa?" kata pemuda lainnya.


"Aku tak ingin tahu siapa kalian," kata Lily sambil meminum tehnya.


Belum sempat salah satu pemuda ingin menggebrak meja ada suara yang menghentikan mereka.


"Kalian jangan ganggu dia" kata Putra Mahkota dingin.


Para pemuda berbalik dan terkejut dengan tatapan Putra Mahkota yang jika itu pisau maka akan mampu menusuk mereka.


"Maaf Putra Mahkota, kami akan pergi," kata pemuda serempak.


Putra Mahkota pun duduk berseberangan dengan Lily.


Happy Reading

__ADS_1


Next...


__ADS_2