Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 28


__ADS_3

Isi surat:


*Jika kalian menemukan surat ini berarti aku sudah tak berada di gubuk hutan bulan ini. Jika kalian ingin menemuiku, maka sempurnakan lah kekuatan Dewi Semesta, maka aku akan datang sendiri menemuinya*


"Kakek ini berarti aku harus menyempurnakan kekuatan Dewi Semesta dulu, baru bisa bertemu dengannya dan kembali ke zaman ku," kata Lily sedih.


"Sudah lah cucuku, kita akan menyempurnakan kekuatanmu, tapi sebelum itu kau harus menemukan seseorang untuk menyempurnakannya," kata Kakek Lu menenangkan Lily.


"Orang seperti apakah yang harus kutemukan?" tanya Lily.


"Kau tak perlu susah mencarinya, dia yang akan datang sendiri karena aura yang terdapat pada dirimu," jelas Kakek Lu dan diangguki Lily.


Kakek Lu dan berpisah. Sampailah Lily di kamarnya, cepat-cepat dia berganti pakaian dan bertepatan Lily selesai berpakaian ketukan pintu terdengar.


"Tok tok tok, Lily apakah kau ada di dalam," kata Orang yang mengetuk.


"Masuklah," ucap Lily.


Pintu terbuka dan menampilkan Lin Sing, Li Mu dan Li Min.


"Kakek dari mana saja, tadi siang Li Min masuk ke kamar kakak, tapi kakak nya tidak ada," kata Li Min cemberut.


"Maaf maaf tadi siang kakak kepasar" jelas Lily berbohong sambil mengangkat Li Min kepangkuannya.


"I iih kakak tidak ngajakin kami," kata Li Min semakin cemberut dan di angguki Li Mu dan Lin Sing.


"Maaf maaf kakak akan ajak kalian besok kepasar, bagaimana," kata Lily merayu.


"Yeayy, besok kepasar," ceria Li Mu dan Li Min.


"Benar ya Lily, jangan tinggalin kami lagi," kata Lin Sing.


Lily manggut manggut.


"Lin Sing, siapkan air untukku mandi, badanku terasa sangat lengket," pinta Lily.


"Baik Lily," jawab Lin Sing.


Selama Lin Sing pergi menyiapkan air, Lily dengan kedua adik laki-lakinya bermain dengan ceria, canda tawa terdengar sampai keluar kamar. Para pelayab dan penjaga yang mendengar hanya tersenyum hangat.


"Sekarang kediaman ini sudah berwarna dengan suara-suara yang membuat hati tenang," batin para pelayan dan penjaga yang mendengar.


Beberapa menit menunggu air mandi Lily telah siap dan Lily bergegas mandi.


30 menit berlalu Lily selesai dengan ritual mandinya. Setelah berpakaian tidur Lily langsung membaringkan tubuhnya di peraduannya. Karena terlalu lelah Lily pun tertidur dengan cepat.

__ADS_1


+++


"Kakak bangun..bangun, hari sudah siang," kata Li Mu dan Li Min seraya menggoncangkan tubuh Lily.


"Ekhmm, 5 menit lagi ya," kata Lily yang masih memejamkan matanya.


"Bukankah kita ingin kepasar, cepat bangun" kata Lin Sing menggoncang lebih keras. Karena tenaga Li Mo dan Li Min yang kecil, mungkin tak terasa bagi Lily.


"Iya iya aku bangun, Lin Sing siapkan air mandiku," kata Lily seraya duduk ditepi peraduannya tapi masih dengan mata terpejam.


Li Mu dan Li Min yang melihat hanya bisa memutar bola matanya jengah melihat kelakuan Lili.


"Kakak ini kenapa? Kami yang kecil aja sudah bangun dari pagi tadi," kata Li Mu.


Kebetulan pagi ini tidak ada latihan seperti biasa, karena Jederal Mo diperintahkan oleh kaisar Qin untuk mengecek perbatasan, jadinya mereka libir latihan.


"Ahhh, adik kakak ini rajin sekali, kakak kelelahan kemaren jadinya bangunnya telat," kata Lily yang sudah berdiri menuju pemandian karen airnya sudah siap.


1 jam Lily telah siap dengan segalanya dari mandi, berpakaian dan dandan.


Mereka pergi kepasar dengan kereta. Setengah jam perjalanan mereka sampai di pasar. Mereka keluar dari kereta dan menjadi pusat perhatian karena Lily yang menggunakan cadar, banyak bisik-bisik.


"Siapa mereka, dan coba lihat gadis yang memakai cadar itu, sepertinya wajahnya buruk rupa jadi menggunakan cadar,"


"Siapa mereka dilihat dari kereta yang mereka gunakan, sepertinya bangsawan,"


Mereka ber empat berjalan menyusuri pasar yang sangat ramai, karena masih pagi banyak penjual yang berteriak menawarkan dagangan mereka dan pembeli tawar menawar.


"Kakak aku mau itu" kata Li Min menunjuk kedai permen kapas dan Li Mu pun yang menginginkannya juga mengangguk.


"Baik, kita kesana," kata Lily.


Sesudahnya mereka berjalan dan jika mereka tertarik dengan toko apapun mereka singgah di toko tersebut.


Setelah merasa capek mereka mencari rumah makan.


"Huh, sangat melelahkan," keluh Li Mu.


"Lelah, benarkah, sedari tadi kakak lihat kalian loncat-loncat kegirangan, masa segini aja sudah capek," kata Lily menaik turunkan alisnya sedangkan yang di sindir hanya cengengesan. Mereka adalah Li Mu dan Li Min.


Tak lama mereka bercanda gurau, datanglah pelayan rumah makan itu.


"Permisi tuan-tuan muda dan nona-nona muda, apa yang ingin kalian pesan," tanya pelayan dengan senyum sopannya.


"Bawakan semua makanan yang paling enak di rumah makan ini, dan juga bawakan teh terenak di sini," kata Lily.

__ADS_1


"Baik, saya akan membawakannya, tunggu sebentar," kata pelayan dengan senyum merekahnya.


Selama menunggu mereka bercanda gurau dan candaan mereka terhenti setelah ada segerombol orang yang menggunakan pakaian mewah menuju meja makan di seberang mereka. Kenapa Lily dan lainnya terdiam karena mereka melihat bahwa segerombol orang tersebut sedang membully seorang gadis yang sama menggunakan pakaian mewah juga tapi diantara mereka yang paling cantik adalah si yang dibully kemungkinan mereka adalah bangsawan.


Mereka menyuruh sang gadis untuk menarik kan kursi yang ingin mereka duduki dan setelah semua nya duduk sang gadis dibiarkan berdiri tapi yang terlihat dari wajah sang gadis seperti bahagia. Entahlah apa yang dia pikirkan.


Makanan kami datang dan makanan mereka pun juga datang. Tapi saat salah satu makanan yang di bawa pelayan di ambil sang gadis yang ingin menaruhnya di atas meja tak disangka makanan itu tumpah ke pakaian pemuda yang ikut rombongan itu.


"Heh ja***g kau tak punya mata ya, lihat pakaian sutraku kotor," marah sang pemuda.


Sang gadis yang dimarahi hanya mampu menunduk dan meminta maaf. Sang pemuda ingin memukul sang gadis tapi ditahan, siapa yang menahan?


"Heh pengecut, beraninya dengan perempuan, apakah kau tak malu," kata Lily. Ya Lily yang menahan tangan pemuda yang ingin memukul atau menampar si gadis.


Para pengunjung rumah makan dan warga sekitar mulai memenuhi rumah makan untuk melihat tontonan.


"Siapa kau, jangan ikut campur urusanku, kau tak tahu siapa aku?" kata pemuda marah sambil menghempas tangan Lily.


"Hehehe, kalau aku ingin ikut campur bagaimana dan juga aku tak ingin tahu kau siapa," kata Lily dengan senyum sinisnya.


"Beraninya dia melawan tuan muda tang dan teman-temannya,"


"Kasihan sekali nasib gadis itu, sudah berani dengan tuan tang,"


Ucapan-ucapan para penonton yang menyayangkan tindakan Lily.


"Kalian hajar dia," kata pemuda memerintah pengawalnya.


*


*


*


*


*


*


*


JANGAN BOSAN YANG MEMBACA KARYAKU INI.


Berikan saran, like, comments, and vote yang banyak

__ADS_1


Thank You....😘


__ADS_2