Berpindah Dimensi

Berpindah Dimensi
Chapter 23


__ADS_3

Lily saat di bangku SMP dan SMA dia mengikuti pelatihan beladiri dan karena itu juga dia bisa dengan mudah mempelajari latihan beladiri yang diberikan Jendral Mo.


"Baiklah itu bagus, ayo kita mulai, kau harus menahan rasa sakitnya nanti dan jaga kesadaranmu," kata Kakek Lu dan dibalas anggukan oleh Lily.


Kakek Lu meminta Lily duduk bersila seperti saat di kolam air suci, Lily mengikuti arahan Kakek Lu.


10 menit tak terasa apapun tapi sedikit demi sedikit rasa sakit mulai muncul 30 menit rasanya semakin sakit dan pada 1 jam penyaluran sakitnya memuncak. Tubuh Lily terasa meleleh dan tulangnya seperti dipatahkan. Ini lebih sakit daripada saat berendam di kolam air suci. Lily sudah dibanjiri keringat dingin diseluruh badannya dan teriakan bergema di alam terbuka.


Minghao terlihat gelisah, karena bisa merasakan kesakitan yang dirasakan oleh Lily karena mereka memiliki ikatan batin.


Sakit mulai memudar digantikan rasa nyaman, hangat, sejuk, bercampur menjadi satu. Kakek Lu sudah membuka matanya dan menatap lekat Lily dengan senyuman dibibirnya.


Lily mulai sedikit demi sedikit membuka matanya. Terlihatlah manik mata merah yang sangat tajam, tapi itu tak bertahan lama digantikan dengan manik mata abu-abu yang jernih.


Lily tersenyum menanggapi senyuman Kakek Lu.


Lily memilih mandi berendam di kolam air suci. Setelah selesai dia meminta ijin kepada Kakek Lu untuk kembali ke tendanya, karena dia sudah cukup lama berada di sini.


"Kakek Li'er ijin kembali," kata Lily sambil memeluk tangan Kakeknya.


"Baiklah, tapi bawa Minghao bersamamu," kata Kakek Lu.


"Bagaimana aku membawanya?" kata Lily bangun dari memeluk tangan kakeknya.


Kakek mengeluarkan sesuatu dari balik lengan bajunya dan terlihatlah sebuah liontin yang sangan Indah berbahan giok berwarna biru.



Ilustrasi liontin giok biru


"Pakailah ini," kata Kakek Lu menyerahkan ketangan Lily.


Lily masih tidak menerimanya, dia menyimpan tangannya di belakang punggungnya.


"Untuk apa ini kakek," kata Lily.


"Wahhhh liontin itu," kata Minghao dengan mata yang berbinar.


Lily bingung dan menatap kakeknya meminta penjelasan.


Yang ditatap paham dan menjawab.


"Ini namanya Liontin dimensi, ini merupakan peninggalan ibumu dan merupakan satu-satunya. Karena ini diwariskan dari generasi ke generasi yang bermula dari seorang Dewi yang diselamatkan oleh kakek moyang kita dan menikah dengan sang Dewi, jadi dapat disimpulkan bahwa nenek moyang kita adalah seorang dewi, tapi sangat disayangkan sampai sekarang tidak ada yang tahu Dewi apakah dia karena setelah melahirkan keturunannya dia menghilang entah kemana. Saat ibumu sekarat dia berpesan saat kau kembali kesini dan memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga kalung ini maka kakek akan menyerahkannya padamu," jelas Kakek Lu.


Lily memahaminya dan mengangguk dia mulai mengulurkan tangannya dan Kakek Lu pun meletakkan liontin itu ketangan Lily.

__ADS_1


"Li'er jagalah baik-baik liontin ini, teteskan darahmu agar dia mengakui kepemilikanmu," kata Kakek Lu dan diangguki Lily.


Lily pun mulai melukai jari tangannya dan mengoleskan darahnya ke batu gioknya. Lily tidak takut lagi dengan segala luka maupun melukai dirinya sendiri karena jika dia terluka ataupun disengajanya maka luka itu akan mengantup kembali seperti tidak terluka.


Cahaya berwarna-warni muncul dari dalam giok dan menggumpal menyerupai bola besar dan masuk sedikit demi sedikit ke antara dua kening Lily. Perlahan cahaya warna-warni itu menghilang.


"Dewi selamat datang," ucap kakek dan Minghao membungkukkan badan mereka. Sontak itu membuat Lily kebingungan.


"Ada apa ini kek, kenapa kalian seperti itu?" tanya Lily dengan raut wajah bingung.


"Li'er kau merupakan titisan dari nenek moyang kita yang seorang Dewi atau bisa disebut dengan mendapat kekuatan Dewi semesta ini, tapi bukan reinkarnasi jiwanya tali hanya kekuatannya, dan kakek baru tahu bahwa nenek moyang kita merupakan dewi semesta alam," jelas Kakek Lu.


"Huh, apakah begitu aku tidak merasa diriku spesial malahan sebaliknya, aku selalu kesepian," kata Lily dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


kakek Lu dan Minghao secara bergantian menjelaskan dengan panjang lebar dan tak terasa Lily sudah hampir seharian di ruang dimensi Kakeknya ini.


"Jadi kesimpulannya, aku ini memang hewan kontrakmu dari saat kau menjadi dewi semesta, jadi saat aku bertemu denganmu aku merasa tidak asing dengan auramu," jelas Minghao.


"Oh begitu," ucap Lily yang paham.


Setelah menjelaskan panjang lebar mereka duduk santai, Lily yang tadinya ingin pamit tapi tidak jadi, tak terasa dia sudah satu setengah hari di ruang ini dan diapun pamit.


"Kakek kalau begitu aku akan kembali, dan kau Minghao ingin masuk ke ruang dimensi ku atau di luar saja?" tanya Lily.


"Aku diluar saja, nanti aku akan bosan sendirian disana," kata Minghao.


Lily pun keluar dari ruang dimensi kakeknya dan sudah berada di tenda, diapun memilih tidur karena hari masih malam.


++++


Seorang gadis terusik dengan tidurnya karena silau yang berasal dari cahaya matahari pagi yang masuk ke tebdanya melalui celah-celah kecil dari tenda.


"Hoammm, ah sudah pagi ya," gumam Lily.


Lily pun keluar tenda dan terlihatlah Min Jung yang duduk di depan tenda Lily, sedangkan Jendral Mo tidak tahu kemana.


"Kak Jung," panggil Lily.


Min Jung terkejut dan segera berdiri menghampiri Lily.


"Ada apa nona, ada yang anda perlukan," kata Min Jung dengan sedikit membungkuk.


Bugh.


"Agkh" ringis Min Jung

__ADS_1


"Oh maaf kak" kata Lily yang merasa bersalah. "Kenapa ini kan aku hanya menendang pelan, apakah ini kekuatan baru yang diberikan kakek" batin Lily.


"Tidak apa nona," kata Min Jung yang masih mengusap kakinya yang ditendang Lily.


"Maaf kak Jung, tapi kakak juga sih, kan kataku jangan panggil aku nona," kata Lily cemberut.


"Ahhh maaf Lily, aku lupa," kata Min Jung cengengesan.


"Iya, oh ya dimana Kak Mo?" kata Lily.


"Jenderal Mo sedang mempersiapkan keperluan berburu. Apakah kamu sudah mengetahui kelompok berburumu, kita satu kelompok," kata Min Jung.


"Ohh....aku masih tidak tahu dan syukurlah aku sekelompok dengan kakak," kata Lily dengan tersenyum di balik cadarnya. "Dan siapa lagi yang menjadi anggota kelompok kita," tanya Lily.


"Jederal Mo, dan karena Jedral Mo harus mendampingi Putra Mahkota jadi kita sekelompok dengan beliau dan satu lagi pangeran ke 2," jelas Min Jung.


"Ohh si menyebalkan itu" kata Lily yang langsung di bekap oleh Min Jung.


"Lily jangan bicara sembarangan nanti kau bisa kena masalah," kata Min Jung melepaskan bekapannya.


"Huft, aku tak suka dia, dia itu menyebalkan dengan muka sok nya itu" bisik Lily.


"Uhuk, uhuk, jangan begitu Lily," kata Min Jung gelagapan.


Lily tak merespon dia hanya tersenyum dibalik cadarnya melihat kepanikan Min Jung.


*


*


*


*


*


*


*


HALLO HALLO PARA PEMBACA SETIA, JANGAN SAMPAI BOSAN YA BACA CERITANYA DAN JUGA JANGAN BACA MULU JAGA JUGA KESEHATAN KALIAN. DIMUSIM YANG TAK MENENTU INI BANYAK PENYAKIT BERTEBARAN.


TAPI....


Jangan lupa beri saran, like, comments and vote yang banyak ya.

__ADS_1


Agar author lebih semangat


Thank You... 😊


__ADS_2