
Karena Lily telah selesai mengumpulkan herbal dia pun langsung pulang dengan mengajak Nuan.
Sesampainya di gubuk tempat tinggalnya Lily memanggil Kakek Hu.
"Kakek, apakah ada di dalam?" panggil Lily.
"Ya tunggu sebentar," ucap Kakek Hu dan tak lama dia pun keluar. "Siapa dia Lily?" tanya Kakek Hu.
"Perkenalkan nama saya Nuan, saya adalah pelayan Puteri Jia Li yang di sebelah saya ini," kata Nuan.
"Ohhh ternyata gadis ini seorang puteri," kata Kakek Hu sambil mengedipkan matanya kearah Lily.
"Benar kek, dia ada adalah Puteri dari kerajaan Langit," kata Nuan.
"Kerajaan langit," kata Lily terkejut. "Bukankah itu kerajaan tempat Pangeran Zhe dan Putra Mahkota Meng tinggal," gumam Lily penasaran, tapi dia menekan rasa ingin tahunya toh dia akan tahu juga cepat atau lambat.
"Ohh, kalau begitu sekarang kau mau apa?" tanya Kakek Hu.
"Jika boleh saya akan membwa puteri kembali, karena Raja Biao ayah Puteri sangat khawatir, selama satu bulan lebih ini Raja selalu mengirim orang untuk mencari puteri, karena saya tak pernah kembali ke istana jadi tak bisa memberitahu tentang siapa yang mencelakai puteri," jelas Nuan.
"Siapa yang mencelakaimu?" tanya Lily. "Tunggu dulu, aku tidak bilang ingin kembali dan juga aku tak ingat apapun tentang masa lalu ku, jadi menurut ku itu akan sia-sia saja untuk kembali ke kerajaan langit," kata Lily.
"Jangan bicara seperti itu, sini....aku akan bicara padamu dulu, Nuan kau boleh istirahat di dalam terlebih dahulu aku akan bicara dengannya," kata Kakek Hu.
"Baiklah," kata Nuan memasuki gubuk.
"Kau kan ingin membuat lembaran baru, kenapa tak ingin ke kerajaan langit, lagipula gadis ini di cari orangtuanya kan, jadi kau akan hidup tenang dan juga aku tak bisa menemanimu selamanya, aku harus pergi kesuatu tempat dan mungkin tak akan kembali kesini lagi," jelas Kakek Hu.
"Ahhh aku sangat tak ingin berada di istana, tapi kau ingin pergi kemana sampai tak akan kembali lagi?" tanya Lily.
"Ada lah pokoknya, jadi kau harus menjadi Puteri Jia Li untuk menjalani kehidupan barumu," kata Kakek Hu.
"Huhhhh, baiklah aku tak punya pilihan lain lagi," kata Lily pasrah.
"Bagus jika keputusan mu seperti itu," kata Kakek Hu.
"Kapan kakek Pergi?" tanya Lily.
"Saat kamu pergi aku juga pergi," kata Kakek Hu.
Mereka berdua pun masuk ke gubuk untuk menemui Nuan, memneritahuan ketersediaan Lily ikut.
"Aku akan ikut, tapi kau harus membantuku untuk mengingat tentangku dan juga kenapa kau selama satu bulan lebih ini tak kembali ke istana untuk memberitahu Raja siapa pelakunya?" tanya Lily.
"Karena....pelakunya adalah orang dalam istana," kata Nuan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Lily.
"Selir Mingmei, dia sangat iri dengan kecantikan dan kasih sayang Raja pada puteri, jadi meracuni puteri dan menyewa pembunuh untuk menculik dan membunuh puteri, tapi syukurlah puteri selamat," jelas Nuan.
"Maaf aku bukan tuanmu yang asli," batin Lily.
"Kalau begitu kita kembali ke istana harus tanpa sepengetahuan selir itu dan langsung menemui Raja, karena kalau tidak dia akan bertindak lagi," kata Lily.
Hari berikutnya di pagi hari Lily dan Nuan bersiap untuk pergi begitu juga dengan Kakek Hu. Mereka berpisah di gubuk itu karena arah mereka berlawanan.
"Hutan ini letaknya dimana sampai kau bisa tiba di sini?" tanya Lily.
"Hutan ini terletak terluar dari kerajaan langit bisa dikatakan sebagai pembatas kerajaan," jelas Nuan.
Mereka memacu satu kuda dengan cepat agar lebih cepat sampai. Mereka berdua menggunakan cadar agar tak ada yang mengenali mereka. Sesampai nya di depan pintu gerbang istana mereka di hadang oleh penjaga.
"Berhenti kalian siapa?" tanya Penjaga.
Nuan pun menyerahkan token identitasnya sebagai pelayan dan juga kepunyaan puteri Jia Li yang selalu dia pegang.
Penjaga langsung mengijinkan.
Mereka turun dari kuda dan berjalan menuju ruangan raja Biao denagan tuntunan Nuan sampailah mereka di depan pintu. Nuan memberitahu Kasim penjaga untuk memberitahukan Raja bahwa puteri Jia Li sudah kembali.
"Maaf kelancangan hamba Yang Mulia," kata Kasim.
"Tidak apa, ada apa kau tergesa-gesa seperti itu?" tanya Raja Biao.
"Puteri Jia Li ada di depan Yang Mulia," kata Kasim yang berhasil membuat perhatian Raja yang semula fokus membaca laporan menjadi menatap tajam Kasim itu.
"Kau jangan berbohong," kata Raja marah.
"Saya tidak berani Yang Mulia," kata Kasim.
"Dimana dia sekarang suruh dia masuk, cepat," kata Raja marah.
Kasim itu keluar dan menyuruh masuk Jia Li dan Nuan.
Note: sekarang nama Lily berubah menjadi Jia Li.
"Salam kepada Yang Mulia Raja Biao," kata Nuan yang sudah tak memakai cadarnya.
Jia Li hanya berdiri tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Salam kau ku terima, dimana Jia Li puteriku?" tanya Raja yang sudah berdiri di hadapan Nuan dan Jia Li.
__ADS_1
Jia Li membuka cadarnya yang menampakkan wajah cantiknya.
Raja langsung terkejut dan membelai pipi Jia Li.
"Kau sangat mirip dengan ibumu," kata Raja Biao.
Ibu Puteri Jia Li adalah seorang permaisuri kerajaan Biao yang sangat di cintai dan di hormati para rakyat dan Raja Biao sangat sangat mencintainya dan setelah meninggalnya dia posisi Permaisuri masih kosong sampai sekarang.
"Maaf Yang Mulia, saya rasa Puteri hilang ingatan akibat sebuah tragedi penculikan itu," kata Nuan.
"Apa? jadi selama kalian berada dimana?" tanya Raja marah.
"Maaf Raja saat itu saya mengikuti penculik itu dan berhasil mengetahui identitas mereka dan saat saya ingin memberitahukan pada anda saya ketahuan dan di Buru oleh mereka jadi saya tak kembali karena mencari keberadaan puteri dan menyelamatkan diri saya sendiri," jelas Nuan.
"Siapa pelakunya?" tanya Raja yang sudah sangat marah.
"Selir Mingmei," kata Nuan sambil bersujud.
"Kau jangan menuduh sembarangan Selir Mingmei itu sangat menyayangi Puteri Jia Li, untuk apa dia mencelakainya," marah Raja.
Telinga Jia Li sudah memanah mendengar teriakan Raja dan panah dihatinya juga membara dia juga tak tahu, mungkin pembawaan dari ubuh gadis ini.
"Jika tak percaya kami lebih baik kembali ketempat asal kami daripada di sini akan mengalami mati mengenaskan," kata Jia Li sinis.
Raja Biao terkejut melihat sikap Jia Li yang tidak seperti biasanya yang lembut penurut.
"Nuan ayo kita pergi," kata Jia Li menggenggam tangan Nuan dan menariknya pergi.
"Tunggu," cegah Raja Biao. "Aku akan percaya, tapi aku akan mengusut kejadian ini, jadi kalian jangan pergi," kata Raja Biao.
"Baguslah, ayah jangan hanya melihat seseorang itu dari luarnya saja, lihatlah dalamnya juga," kata Jia Li lalu berlalu pergi.
°
°
°
°
°
Jangan lupa like, comments and vote.
Happy Reading
__ADS_1