Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Pertemuan dua istri


__ADS_3

Malam semakin larut, namun Haris belum juga meninggalkan ruangan Ainaya. Lama mereka berdua dalam satu ruangan namun tetap saja masih canggung. Bahkan, tidak ada pembicaraan penting yang tercipta. Semenjak Haris mengatakan tidak peduli pada Ainaya, wanita itu memilih diam dan akan bicara jika ditanya. 


Kenapa dia gak pulang, katanya gak peduli padaku. 


Ainaya meraih obat yang ada di nakas.


Haris yang melihat akan hal itu segera mendekat. "Seharusnya kamu bilang kalau mau minum obat," tergurnya sembari mengambil obat yang dibutuhkan. 


"Aku tidak butuh bantuan kamu," jawab Ainaya ketus. 


Haris mencerna ucapan Ainaya yang nampak menyindir nya, namun ia tetap memberikan obat-obatan itu di tangan sang istri. 


Suster yang baru saja tiba ikut terharu dengan tingkah mereka yang nampak romantis hingga memilih pergi sebelum memeriksa, takut mengganggu. 


"Kenapa kamu gak pulang? Aku bisa pulang sendiri," ujar Ainaya masih dengan nada ketus. 


"Kamu mengusirku?" Haris tak kalah ketus. Meletakkan obatnya lagi. Kemudian membalikkan tubuhnya memunggungi Ainaya. 


"Bukan mengusir, tapi aku gak mau disalahkan karena ini," timpal Ainaya. 


Setelah minum obat ia kembali berbaring dan memejamkan mata.


Namun, dering ponsel yang menggema mengusik Ainaya yang hampir tertidur pulas. Terpaksa dia menoleh ke arah sumber suara. 


"Itu kan hp mas Haris. Telepon dari siapa ya, istri atau orang tuanya?"


Ainaya hanya bisa menebak-nebak tanpa ingin menyentuhnya. 


Haris keluar dari kamar mandi bertepatan dengan ponselnya yang kembali diam. Ia langsung membaringkan tubuhnya di sofa. 


Sementara Ainaya tidak memberitahu tentang ponselnya yang berdering. 


Bodo amat. Dia aja gak peduli padaku. Ngapain aku repot-repot peduli padanya. 


Ainaya memejamkan matanya lagi daripada harus pusing memikirkan kebahagiaan orang lain. 


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Ainaya meminta suster untuk membangunkan Haris yang masih terlelap. Lantas, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Merasa terusik, Haris membuka mata dan terbangun duduk bersandar di sandaran sofa. Mengembalikan nyawanya yang tercecer. 


"Kapan Ainaya bisa pulang, Sus?" tanya Haris menatap brankar kosong. 

__ADS_1


"Sekarang sudah boleh pulang, Tuan. Menunggu dokter yang akan memeriksanya lagi," kata suster seperti laporan semalam. 


Haris mengangguk. Menyambar ponsel yang sejak semalam terabaikan. 


Dua puluh panggilan tak terjawab dari Jihan. Dua pesan masuk dari wanita itu juga dan beberapa email dari klien. 


Haris membaca pesan dari Jihan yang mengatakan bahwa pagi ini akan pulang. 


"Itu artinya aku harus jemput dia sekarang." Melihat jam yang melingkar di tangannya lalu berdiri dari duduknya. Tanpa pamit ia meninggalkan Ainaya yang masih berada di kamar mandi. 


Ainaya yang baru keluar pun memasang wajah kecut. Ia tak bertanya pada suster ke mana perginya Haris. Sebab, ia sudah tahu tujuan pria itu pergi. 


"Halo, Ji. Kamu di mana sekarang?" Haris semakin gugup mengingat semalam menginap di rumah sakit dengan istri keduanya. 


"Aku baru saja tiba di bandara, kamu jemput aku!" pinta Jihan merengek. 


Haris mematikan telepon dan melajukan mobilnya menuju bandara. 


Mereka bertemu di tempat parkir. Haris memasukkan koper milik sang istri setelah tadi saling melepas rindu dengan berpelukan. 


"Tumben kamu terlambat, Mas. Apa kamu tidur di rumah mama?" tanya Jihan menyelidik. 


Pasalnya, rumah Ida dan bandara sangat jauh dari rumah yang mereka tempati. Bukan karena kedatangan Haris saja, namun juga tentang telepon tak terjawab yang membuat Jihan curiga. 


Jihan masuk ke mobil tanpa bertanya. Ia duduk di samping Haris yang mulai sibuk dengan setirnya. 


"Aku ingin bertemu dengan orang yang mau memberikan anaknya pada kita, Mas." 


Deg 


Seketika jantung Haris berdetak dengan cepat. Terkejut dengan permintaan sang istri yang sedikit konyol. 


Apa-apan sih Jihan. Aku belum siap mempertemukan Ainaya dan dia. Bagaimana kalau rahasia ini bocor, pasti Jihan akan marah padaku. 


Haris membius bibirnya. Otaknya berkelana mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Jihan.


"Gak usah, kamu kan baru pulang pasti capek." Haris mencoba membujuk Jihan supaya mau meredam keinginannya. 


"Pokoknya aku mau bertemu dengan dia, titik," ucap Jihan tegas. 


Terpaksa Haris mau menuruti permintaan wanita itu. Ia membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit, namun sebelum nya menghubungi Ainaya mengatakan bahwa dirinya dan Jihan akan datang. 

__ADS_1


Aku akan membuktikan bahwa ucapan teman-teman ku itu tidak benar, Mas. Aku yakin kamu tidak akan berpaling dariku. 


Meskipun Jihan gelisah dengan perkataan teman-temannya tentang poligami, ia berharap Haris tidak menikah lagi seperti dugaan mereka. 


Tak butuh waktu lama, mobil Haris sudah tiba di depan rumah sakit tempat Ainaya dirawat. 


Ia langsung masuk menuju ruangan sang istri dengan hati yang lumayan cemas. Meskipun begitu, Haris yakin bahwa Ainaya bisa menjaga rahasia antara mereka berdua. 


Haris membuka pintu tanpa mengetuk. Tatapannya langsung mengarah pada Ainaya yang sibuk dengan ponselnya. 


Jihan menatap Ainaya dengan tatapan curiga lalu beralih menatap Haris. 


"Dia yang nanti mau memberikan anaknya pada kita," ucap Haris berbisik. 


Jihan mendekati Ainaya dan bersalaman. Matanya tak teralihkan dari jari manis yang yang digenggamnya. 


Ternyata mereka salah. Gak mungkin dia istri mas Haris. Buktinya tidak ada cincin kawin.


Kini Jihan yakin bahwa Ainaya bukanlah istri Haris seperti yang diucapkan sahabatnya. 


"Siapa nama kamu?" tanya Jihan dengan lembut. 


Ainaya menyebut namanya dengan suara lirih. Jika kemarin hanya bisa melihat, saat ini bisa berbicara dengan istri pertama suaminya. 


"Terima kasih karena kamu mau mengandung anak kami," ucap Jihan ramah. 


Haris yang berdiri di belakang Jihan hanya bisa diam dan menatap Ainaya tajam. Berharap wanita itu tak salah bicara. Sebab, jika itu terjadi maka semua akan runyam. 


Ainaya tersenyum, ia pun bingung dengan keadaan ini. Disatu sisi ingin dihargai sebagai istri yang bisa memberikan anak untuk suaminya. Akan tetapi, ia sudah berjanji akan mengikuti semua rencana yang tertulis di atas kertas. 


"Kamu apa nya mas Haris?" Jihan tak percaya begitu saja. Ia harus mendengar langsung penjelasan dari Ainaya. Yaitu wanita yang bersangkutan dengan nya dan Haris. 


Aku istrinya mas Haris. Begitulah hatinya berbicara. Akan tetapi, bibirnya tidak mungkin mengucapkan itu.


"Keluarga Tuan Haris pernah menolong ayah. Mereka sangat baik dan dermawan. Sedangkan keluargaku tidak bisa membalas apa-apa. Mungkin dengan begini aku sedikit membantu kalian," ucap Ainaya dari hati. 


Jihan berhamburan memeluk Ainaya. Mengucapkan terima kasih berulang-ulang karena sudah mau membantunya. 


Haris dan Ainaya saling tatap dengan pikiran masing-masing. 


Sampai kapan kamu menyembunyikan statusku seperti ini, Mas. Aku juga istrimu. Apa tidak ada hak bagiku diakui keluargamu.

__ADS_1


''Di nama suamimu?" tanya Jihan yang kedua kali.


__ADS_2