
Ajeng masih memikirkan jawaban atas pertanyaan Andik. Beberapa kali ia menjalin asmara dengan lelaki tampan dan memiliki pekerjaan mapan. Namun, dari mereka tidak ada yang serius. Saat diajak menikah pasti berbagai alasan dilontarkan. Ada yang mengatakan belum siap, ada juga yang mengatakan ingin sukses dan naik jabatan dulu. Terlalu menunda-nunda. Sekalinya ada yang mau, dia malah selingkuh di belakangnya. Terdengar miris, namun itulah yang sering kali ia alami.
Berbeda dengan Andik. Lelaki itu justru mengutarakan niatnya sebelum mereka menjalin hubungan apapun, bahkan bertemu saja baru beberapa kali dan itu dalam keadaan yang kurang baik.
''Bagaimana, Ajeng? Apa kamu setuju dengan lamaran Andik?'' tanya Didin serius.
Ajeng memejamkan matanya. Membolak-balikkan hati nya yang masih sedikit ragu. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, di antaranya ia harus siap menjadi istri dan ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering dilakukan selama ini.
Dilihat dari manapun Andik tetaplah lelaki yang sempurna. Ditolak sayang, diterima ia belum mengenal sepenuhnya.
''Belum tahu, Mas. Aku bingung. Lagipula ini terlalu cepat bagiku,'' ucap Ajeng.
Membaringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan bantal.
Otaknya berkenala membayangkan jika lelaki kaku itu menjadi suaminya, pasti rumah tangganya akan merasa canggung dan jarang sekali bercanda, namun jika ia menolak, kapan lagi ada lelaki tampannya di atas rata-rata melamar dia. Apalagi saat di kampung, tidak ada yang menandinginya.
"Terima saja, kayaknya dia itu baik,'' ucap Didin membujuk. Demi pekerjaan, ia pun membantu sang asisten untuk mendapatkan adiknya.
''Tapi aku butuh pendekatan dulu, Mas. Aku belum mengenal mas Andik.''
''Cie cie, yang sudah berani memanggil mas,'' goda Didin lalu berlari meninggalkan Ajeng, takut terkena timpuk olehnya.
''Apa sebaiknya aku terima saja, ya,'' gumam Ajeng lagi. Menjambak rambutnya. Bahkan memikirkan lelaki itu membuat nya lebih pusing daripada memikirkan pekerjaan.
''Kayaknya aku harus tidur supaya besok bisa berpikir lagi.''
Ajeng memejamkan matanya. Berharap besok pagi sudah menemukan jawaban yang terbaik dan tepat.
''Bagaimana Mas? Apa Ajeng sudah mau bicara dengan kamu?'' tanya Andik lewat video call.
''Belum,'' jawab Didin pelan. Sesekali menoleh ke arah kamar Ajeng yang tertutup rapat.
Andik berdecak kesal. Sungguh, ini membuatnya tak bisa tenang. Hatinya sudah tak sabar menerima jawaban dari gadis itu.
''Kalau begitu besok pagi kamu datang saja, jemput dia. Siapa tahu dia akan luluh.'' Didin mencoba untuk memberi ide.
Andik mengangguk setuju. Mungkin dengan begitu Ajeng akan melihat cintanya yang memang benar-benar tulus.
__ADS_1
''Sekarang tidurlah, sudah terlalu malam, besok kan kamu banyak pekerjaan,'' suruh Didin layaknya seorang abang pada adiknya.
Andik segera menutup telponnya dan berbaring di atas ranjang. Menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Matanya menatap langit-langit kamar. Berandai-andai dengan sesuatu yang mungkin akan segera terjadi.
***
Pagi ini terasa berbeda. Jika biasanya Ajeng langsung berangkat dan makan di luar, kali ini ia terpaksa memasak di rumah untuk sang kakak yang memang akan tinggal dengannya.
Ketukan pintu membuat Ajeng kesal. Dari awal masak banyak sekali gangguan. Gadis itu menatap lama sambil menggerutu.
''Sebentar,'' teriaknya dari arah dapur lalu matikan kompor. Ia bergegas membukanya.
''Eh, pak RT,'' sapa Ajeng ramah. Diiringi dengan senyum manisnya.
''Ada apa pagi-pagi ke sini, Pak?" tanya Ajeng selanjutnya.
''Kata warga sini kamu tinggal dengan seorang laki-laki. Siapa dia?" tanya pak RT serius.
''Oh itu abang saya, Pak. Dia masih ada di kamar.'' Ajeng menunjuk kamar yang ada di sebelah kiri, ''dan itu kamar saya.'' Kemudian beralih ke ke arah kamar yang ada di sebelah kanan.
''Mana buktinya kalau kalian itu saudara kandung?'' tanya pak RT menengadahkan tangan. Sebagai pamong, ia pun harus memastikan bahwa gadis itu tidak berbohong, karena jika itu terjadi akan mencemarkan nama baiknya.
Tak lama kemudian pintu terbuka, nampak Didin sudah rapi dengan kemeja putih dan celana kain hitamnya, serta jam tangan mewah pemberian Andik kemarin.
''Ada apa?'' tanya Didin sembari merapikan penampilannya.
''Mana kk yang Mas bawa? Ditanya pak RT.'' Menyungutkan kepalanya ke arah lelaki tua yang memiliki perut buncit tersebut.
Didin mengambil fotocopy kk yang ia bawa dari kampung lalu menunjukkannya pada pak RT. Ia juga menjelaskan jati dirinya yang memang benar-benar saudara kandung Ajeng.
''Kalian gak bohong, 'kan?'' tanya pak RT menyelidik.
Meski dari bukti sudah jelas-jelas mereka bersaudara, tetap saja ingin mendengarnya lagi.
''Gak, Pak. Ini asli.'' Andik mengucap dengan serius.
''Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kalian boleh tanya.'' Pak RT pamit meninggalkan rumah kontrakan Ajeng.
__ADS_1
Baru saja memutar badan. Sebuah mobil mewah berhenti di depan pagar membuat Ajeng terkejut dan malu.
Bukan karena siapa yang keluar dari mobil itu, namun karena penampilannya yang seperti emak-emak berdaster. Sungguh, ini adalah momen yang tak diinginkan.
''Kenapa dia datang disaat aku seperti ini?'' Ajeng mengeluh dalam hati .
Ia bergegas masuk dan meninggalkan Didin yang nampak cengengesan saat lelaki yang baru datang itu menghampirinya.
''Sudah siap, Mas?'' tanya Andik bersalaman.
''Sudah, tapi Ajeng belum siap, kayaknya dia masak dulu,'' kata Didin menggiring Andik masuk.
Benar saja, dati arah ruang tamu pun masakan Ajeng sudah tercium membuat perut kedua lelaki itu keroncongan.
''Maskannya banyak, 'kan? Mas Andik mau makan di sini,'' seru Didin.
''Sudah, Mas. Makan saja, aku mau mandi dulu,'' ucap Ajeng panik.
Andik terkekeh dan menggelengkan kepala. Sungguh, ia tak menyangka akan mendapat dukungan dari sang kakak secara live.
''Kalau nanti Ajeng masih menolak kamu, kita harus membawa bu De ke sini, pasti dia luluh,'' bisik Didin bersiasat.
Sepertinya cara itu memang cukup jitu dan kemungkinan besar akan berhasil. Andik mengangguk setuju.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya Ajeng keluar dari kamarnya. Ia menghampiri Andik dan Didin yang masih ada di ruang makan.
''Kamu gak makan dulu, Ajeng?'' tanya Andik pelan.
''Gak, Mas. Sudah siang, nanti terlambat. Aku gak mau dipecat,'' ucap Ajeng cemas.
Andik berjalan menuju dapur. Ia mengambil tupperware dan membawanya keluar. Lalu, memasukkan nasi dan lauk kedalamnya.
''Sarapan itu sangat penting, ini bisa kamu makan nanti di kantor.'' Memberikan makanan yang sudah di tutup rapat itu pada sang calon istri.
''Makasih, Mas,'' jawab Ajeng sembari tersenyum.
Kini, detakan jantungnya mulai berirama lebih cepat saat ia berdiri di depannya dengan jarak begitu dekat.
__ADS_1
Apakah ini yang dinamakan cinta?