
Di tengah kebahagiaan terselip duka yang mendalam, begitulah kehidupan. Disaat Ajeng berbahagia mendapat restu dari sang ayah, justru Ainaya dibuat cemas karena hari ini ia dan Haris dipanggil polisi untuk menjadi saksi atas kejadian yang menimpa.
Rasa takut menyelimuti saat ia menginjakkan kakinya di depan gedung pengadilan. Sekujur tubuhnya gemetar pelan. Selama hidupnya, ini pertama kalinya harus mengalami peristiwa pahit yang hampir menghilangkan nyawanya.
"Jangan takut, Sayang. Pokoknya kamu harus jujur, nanti juga ada orang lain lagi yang menjadi saksi seperti kamu." Haris merangkul pundak kecil sang istri lalu menciumnya dengan lembut. Menyalurkan keberaniannya yang sedikit berkurang.
"Siapa, Mas?" tanya Ainaya.
"Orang yang memberimu sabun, dia juga bersedia menjadi saksi demi membela kebenaran."
Ainaya mengangguk kembali, memantapkan hati dan pikiran untuk tidak goyah dan mengasihani Jihan. Ia duduk di samping Haris, matanya mengabsen setiap orang yang tampak tegang dan berbisik. Mereka menunggu beberapa orang lagi yang belum hadir, termasuk pak Hakim dan terdakwa, Jihan.
Selain Ainaya dan Haris, di sana juga ada beberapa pengacara yang disewa untuk menangani kasus ini. Sepertinya Haris berbicara serius dengan dia. Entah apa yang dibahas, membuat suasana semakin mencekam.
Ainaya menoleh ke arah belakang. Ada polisi yang masuk bersama seorang lelaki yang berbadan hitam. Tangannya diborgol dan memakai setelan khas seorang tahanan.
Apa mungkin dia yang memberi racun di makanan ku?
Ainaya menoleh, menghindari tatapan tajam lelaki itu. Menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Haris yang masih sibuk berbicara dengan pengacara.
"Mas, kok aku gugup ya?" bisik nya.
Haris menghentikan ucapannya. Mendekatkan bibirnya di telinga sang istri yang sedikit pucat.
"Jangan gugup, anggap saja kamu berbicara denganku. Pasti semua akan baik-baik saja."
Ainaya mengangguk. Mengusir rasa gugup yang mengendap di dada. Mencoba menguasai dirinya sendiri. Percaya pada Haris bahwa semua akan baik-baik saja.
Andik dan Ajeng yang baru datang ikut duduk di samping Ainaya.
"Tangan kamu dingin banget, Nay?" Ajeng menggenggam tangan sang sahabat yang terasa bak es batu.
"Ini efek aku gugup saja, nanti juga hilang," jawab Ainaya santai.
Selama sidang berlangsung, Haris terus berdoa, berharap masalah ini tidak berbelit-belit seperti kasus yang lagi viral itu, dan akan segera usai dengan sebuah kemenangan.
Hampir tiga jam berada di ruang yang penuh dengan ketegangan itu. Akhirnya Ainaya memilih keluar. Ia sudah mengatakan semuanya dengan jujur dan menyerahkan keputusan itu pada pihak yang berwajib.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Haris menyusul dengan senyuman. Meski keputusan akan dilangsungkan beberapa hari lagi, ia yakin akan menang.
Sekian banyaknya para saksi. Ia juga memiliki bukti yang kuat atas kebenaran.
"Kita pulang sekarang, kata mama Bilal menangis." Haris memeluk Ainaya dari samping lalu mencium pelipisnya. Memamerkan kemesraannya di depan dua sahabat sang istri yang sampai sekarang belum menikah.
"Bagaimana? Pokoknya aku gak mau datang ke sini lagi." Ainaya berjalan menuju mobil bersama dengan Ajeng dan Lidya.
"Iya, ini pertama dan terakhir kali kita ke sini, dan semoga tidak ada masalah lagi." Membukakan pintu untuk Ainaya yang kini lumayan lebih tenang.
Ajeng hanya bisa melambaikan tangannya ke arah Ainaya yang sudah duduk manis di bagian depan.
"Salam untuk bu De," teriak Ainaya yang tidak bisa ikut ke kampung, namun tetap mendoakan mereka supaya acaranya berjalan lancar.
Ajeng mengangguk dan tersenyum lalu menoleh ke arah Andik yang ada di samping mobilnya.
"Kita langsung berangkat sekarang. Lebih cepat lebih baik," ucapnya.
Andik sudah tak sabar ingin segera menikah dengan gadis itu. Selain umurnya yang hampir kepala tiga, ia juga ingin segera memiliki keturunan seperti Haris.
''Kalau kamu suka beli saja, nanti aku yang bayar.''
Andik menatap sang kekasih dari pantulan spion.
''Beneran?" tanya Ajeng memastikan.
Andik mengangguk cepat. Lalu, mengambil sebuah kartu dan memberikannya pada Ajeng.
''Kamu bisa beli apa saja yang kamu mau,'' ujarnya serius.
Wanita mana yang tak meleleh jika diberikan fasilitas lengkap seperti itu. Tidak hanya dengan uang, Andik juga menunjukkan rasa cintanya dengan perilaku.
Didin hanya bisa terdiam. Ini yang ia takutkan, disaat lelaki lain berlomba-lomba memanjakan wanita nya, justru ia belum memiliki apapun untuk dibanggakan. Sekarang ia pasrah dan tak ingin mengekang Lidya. Takut gadis itu menuntunnya seperti yang Ajeng dapatkan dari Andik.
''Oh iya, tadi katanya mas Didin mau ajak aku melihat kerbau." Lidya mengalihkan pembicaraan.
''Iya, tapi seperti nya nanti sore saja. Cuacanya terlalu panas. Sayang sekali dengan kulitmu yang putih,'' jawab Didin.
__ADS_1
Lidya tersenyum.
Kebahagiaan tidak harus dengan uang, Mas. Tunjukkan saja apa yang kamu miliki. Aku suka laki-laki yang apa adanya. Untuk apa bermewah-mewahan kalau pada akhirnya hanya akan buat sakit hati.
Lydia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di sana. Ia mengirim pesan untuk Didin supaya tidak merasa insecure.
Aku bukan perempuan yang suka barang mewah, tenang saja, Mas. Asalkan kamu serius, aku akan membuka hati dan kedua telapak tangan untuk menerimamu.
Dalam hitungan detik, Didin membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Bibirnya melukis senyum kemudian membalas dengan emoji hati.
Seolah itu pertanda bahwa ia memang benar-benar serius mencintai Lidya.
''Kapan kamu melamar aku?'' balas Lidya dengan emoji senyum.
Didin yang membacanya pun semakin deg-degan. Bingung mau menjawab apa, akhirnya ia mengikuti kata hatinya.
Setelah Ajeng dan Andik menikah, aku akan langsung melamarmu. Tapi maaf kalau aku belum bisa memberikan barang mewah seperti Andik.
Ehemmm
Tiba-tiba deheman Andik membuat Didin panik. Lelaki itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana sebelum membalas pesan dari Lidya.
''Apa sih Mas? Ngagetin saja," keluh Ajeng.
Selain Didin, ia pun terkejut.
''Gak papa, cuma iseng saja,'' jawab Andik konyol dan kembali fokus dengan setirnya.
Tanpa terasa, mobil berhenti di rumah bu De. Mereka langsung turun dan masuk. Rumah nampak sepi, sepertinya bu De memang tidak ada di rumah.
''Mang Rahmat,'' teriak Didin pada salah satu buruhnya.
"Eh, Mas Didin pulang. Saya kira sudah kecantol gadis kota dan lupa sama kampung,'' kekeh mang Rahmat bercanda.
Didin tersenyum simpul. Entahlah, selama di kota, hatinya pun sering berselancar ke kampung. Wajah-wajah petani seolah menghantuinya dan meminta bantuan padanya.
''Mana ada, aku akan tetap pulang, ini tempat kelahiranku, sampai kapanpun tidak akan lupa.'' Menepuk pundak mang Rahmat dengan pelan.
__ADS_1