Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ibu susu


__ADS_3

Ainaya mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar suara rintihan Bilal. Ia menoleh ke samping di mana sang putra berbaring. 


"Kamu haus?" tanya nya lirih. Mengangkat tubuh mungil bayinya yang juga membuka mata. Mengajaknya duduk di sofa kemudian menatap jam yang menggantung di dinding. 


"Wah, ternyata kamu lama banget ya tidurnya." Mengelus pipi sang buah hati yang mulai berisi. 


Ainaya menoleh ke arah pintu yang tertutup lalu menyusui Bilal. 


Kira-kira mas Haris sudah datang apa belum ya? Kalau sudah, kenapa gak bangunin aku.


Tanpa disadari pintu terbuka dengan pelan. Haris menatap Ainaya sekilas dan beralih membuang muka. 


"Lain kali kunci pintunya kalau menyusui Bilal," tegur Haris dari ambang pintu. 


Suara berat itu mengejutkan Ainaya yang melamun. Ia bergegas menarik selendang untuk menutup dadanya yang terekspos. 


Ya, meskipun mereka sudah saling melihat lekuk tubuh satu sama lain, tetap saja Ainaya harus berjaga-jaga, takut Jihan mengetahuinya. Terlebih saat ini status mereka mengambang.


"Maaf, Tuan," ucap Ainaya pelan. 


"Aku sudah membelikan barang pesananmu. Kalau ada yang gak cocok buang saja," ucap Haris tanpa menatap. 


Ainaya mengangguk tanpa suara lalu menutup bajunya setelah Bilal kenyang. 


Ia membawa sang buah hati kembali ke ranjang dan membaringkannya. Menghampiri Haris yang masih ada di samping pintu. 


"Terima kasih, Tuan. Maaf merepotkan." Ainaya bergegas pergi menuju belakang. 


Haris menatap punggung Ainaya yang mulai menjauh lalu masuk ke kamar Bilal. Sudut bibirnya melukis senyum melihat bayi mungil yang saat ini kembali terlelap. 


"Anak papa, kayaknya nyaman banget tidurnya." Mencium pipi Bilal dengan lembut. 


Alangkah bahagianya seorang Haris saat ini, setelah menunggu bertahun-tahun akhirnya ia memiliki seorang putra yang akan menjadi ahli waris keluarganya. 


Tin tin 


Bunyi klakson menggema membuat Haris mengernyitkan dahi. "Siapa yang datang?  Apa mungkin mama," terka Haris. Ia membuka gorden memastikan gerangan yang ada di depan. 


Ternyata benar, Bu Ida dan Pak Indrawan yang datang. Mereka terlihat membawa banyak barang di tangan nya. 

__ADS_1


Haris keluar dari kamar itu. Bertepatan saat ia di depan pintu, Jihan pun sudah ada di bawah, wanita itu pura-pura berjalan pelan dan hati-hati. 


"Ya ampun Jihan, kenapa kamu keluar segala? Mau ke mana?" Bu Ida meletakkan barang-barang bawaannya lalu menghampiri Jihan dan Haris. 


Jihan tersenyum tipis. "Bosen, Ma. Aku pingin lihat luar," ucapnya meyakinkan. 


Bi Ida menuntun Jihan menuju ruang tengah dan membantunya duduk. 


"Lain kali saja, kamu harus menjaga kesehatanmu," tutur bu Ida lembut. 


Haris terdiam, ikut duduk di samping sang istri yang sedikit panik. 


Entah, setiap kali berada di dekat bu Ida wanita itu selalu saja gugup bahkan sikapnya itu hampir setiap kali dibaca pak Indrawan. 


Namun, pria itu hanya diam saja tanpa protes ataupun bertanya. 


"Bilal di mana?" tanya pak Indrawan teringat dengan sang cucu. 


"Dia tidur, Pa," jawab Haris memeriksa oleh-oleh dari bu Ida. 


Ainaya yang tidak tahu dengan kedatangan bu Ida dan pak Indrawan pun keluar membuat mereka tercengang. 


Ainaya menundukkan kepala. Berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat. Jihan menatap Haris berharap pria itu cepat bertindak belum Ainaya salah bicara. 


"Oh iya, Ma. Aku belum cerita." Haris mendekati bu Ida yang masih  kebingungan dengan kehadiran Ainaya. 


"Ainaya yang menjadi ibu susu Bilal. Aku pikir asi lebih baik daripada susu formula," terang Haris meyakinkan. 


"Iya, Ma. Asi ku gak bisa keluar jadi aku meminta bantuan Ainaya," imbuh Jihan menimpali. 


Bu Ida menatap perut Ainaya yang nampak datar. Kemudian mendekatinya. Menunduk, memeriksa  Ainaya yang lumayan bengkak. 


"Kamu baru melahirkan seperti Jihan?" tanya bu Ida menyelidik. 


Ainaya mengangguk tanpa suara. Ia takut bu Ida akan mengintimidasi hingga ke akar, sedangkan ia tak lihai berbohong seperti Jihan dan Haris. 


Haris ikut mendekat. Ia tak boleh lengah dan berharap Ainaya tidak membongkar semuanya. 


"Anak kamu di mana?" tanya Bu Ida lagi. 

__ADS_1


Ainaya melirik Haris sekilas pertanda meminta pria itu untuk menjawab. 


"Anak dia meninggal, Ma," jawab Haris asal yang membuat dada Ainaya sesak. Namun, ia tak bisa membantah mengingat keadaannya yang sedikit rumit. 


"Ibu ikut berduka cita atas meninggalnya  bayi mu, Nay. Semoga kamu dan suami segera diberi momongan lagi." Bu Ida memeluk Ainaya, memberikan kekuatan pada wanita itu untuk tabah menerima cobaannya. 


"Saya ke belakang dulu, Bu," pamit Ainaya kembali ke kamar belakang. Ia tak sanggup jika terus-terusan berat di dekat mereka. 


Ainaya menutup pintu. Meneteskan air matanya yang menumpuk di pelupuk. 


"Tega kamu mas, kenapa kamu bilang kalau anak kita meninggal. Padahal masih banyak alasan yang bisa kamu ucapkan.''


Ainaya mengelus dadanya. Entah sampai kapan itu semua berakhir dan berharap hatinya yang tergores pulih seperti sedia kala. Ia pun hanya selain mengikuti sandiwara yang sudah ditentukan oleh Haris. 


Bu Ida ke kamar Bilal. Mendekati sang cucu dan mencium keningnya. Aroma  khas bayi menenangkan jiwa wanita itu yang selama ini hampa. 


"Kamu beruntung sekali mempunyai ibu susu seperti mama Ainaya, Nak. Dia itu perempuan yang baik, dan oma berharap kelak kamu akan menjadi abang yang baik untuk anaknya," bisik bu Ida di telinga Bilal. 


Mendengar penuturan Haris membuat bu Ida ikut tersayat. Membayangkan saat Ainaya kehilangan bayinya, pasti wanita itu kacau tenggelam dalam kesedihan. 


Haris meninggalkan bu Ida dan Jihan yang sibuk meramut Bilal. Ia menoleh ke arah pak Indrawan yang sibuk di ruang tengah. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju belakang. 


Tanpa mengetuk, Haris membuka pintu kamar Ainaya, nampak sang istri sedang duduk termenung di tepi ranjang. 


Raut wajahnya menekuk seolah enggan  menatapnya. 


''Kenapa kamu bilang pada mama kalau anak kita sudah meninggal, Mas?'' protes Ainaya dari hati. 


Pada dasarnya ucapan adalah doa dan ia takut itu akan terjadi padanya. 


''Lalu kamu mau aku jawab apa, hah?'' bentak Haris sesekali menatap ke arah luar. ''Bilang kalau anakmu sekarang menjadi anakku dan Jihan,'' pekik nya dengan mata menatap tajam. 


Ainaya tak peduli, semarah apapun Haris, ia harus tetap mengingatkan tentang kebaikan dan seorang ayah tak patut berbicara seperti itu. 


''Bukan begitu, kamu bisa bilang kalau anakku ikut neneknya, kan?'' jawab Ainaya dengan suara lembut. Mengusap air matanya yang masih saja mengalir. 


''Itu urusanku, jadi kamu gak usah ikut campur. Urusanmu di sini hanya menyusui Bilal, tidak yang lain.'' Haris kembali mengingatkan. 


Ainaya membisu. Lelah untuk berdebat dengan Haris yang tak pernah mengalah. Bahkan, pria itu akan mekian murka jika Ainaya terus membantah. 

__ADS_1


__ADS_2