
''Kamu dari mana, Ris?'' tanya bu Ida mendekati Haris.
Ainaya yang hampir memutar knop pun mengurungkan niatnya. Menyandarkan punggungnya membelakangi pintu.
''Tadi aku ngajak anakku jalan-jalan, Ma,'' jawab Haris gugup. Menggeser tubuhnya menghalangi pandangan bu Ida yang langsung mengarah pada ruangan Ainaya.
Bu Ida menoel pipi gembul bayi yang ada di gendongan Haris lalu menggendongnya. "Tampan sekali, dia mirip kamu," ucap bu Ida yang langsung terpesona dengan wajah Bilal.
Haris menatap pak Indrawan yang ada di belakang bu Ida. Berharap mereka tidak curiga dengannya yang baru saja keluar dari kamar Ainaya.
''Papa dan mama sudah dari ruangan Jihan?" Haris mengalihkan pembicaraan.
''Sudah, dia sedang tidur. Mama gak mau mengganggunya,'' ujarnya.
Mereka kembali ke ruangan Jihan tanpa rasa curiga sedikitpun.
Sedangkan Ainaya mengintip, menatap punggung kedua mertua dan suaminya berlalu.
''Mama, papa. Itu memang cucu kalian, tapi bukan dari rahim mbak Jihan, melainkan dari rahim ku,'' gumamnya.
Ainaya masuk dan duduk di tepi ranjang. Menunggu paman dan bibi kembali karena hari ini ia memutuskan untuk pulang.
''Ternyata proses melahirkannya Jihan cepat sekali ya, Ris. Mama salut padanya,'' ucap bu Ida bangga.
''Iya, Ma, jawab Haris singkat. Sebab, ia pun tak tahu apapun saat Ainaya melahirkan dan baginya itu tak penting untuk diungkit.
''Bagaimana dengan keadaan Jihan, apa dia baik-baik saja? Apa Asi nya juga lancar?'' tanya Bu Ida lagi sembari membuka pintu.
Haris menyusun kata-kata di ujung lidah. Ia semakin panik saat bu Ida menatapnya. Mungkin jika pertanyaan itu hanya tentang Jihan ia akan bisa menjawabnya. Akan tetapi, jika menyangkut tentang bayi mereka pasti akan sulit dijawab.
"Kalau Jihan belum bisa menyusui gak papa diberi susu formula yang terbaik saja,'' lanjutnya.
Haris mengangguk cepat, setidaknya itu adalah solusi yang lebih baik daripada harus membawanya pada Ainaya. Sedangkan bu Ida, ia pun tak mau memaksa Jihan jika memang belum terbiasa.
Semoga mama gak pernah menanyakan yang aneh-aneh. Begitulah harapan Haris kedepannya.
Jihan membuka mata perlahan. Sayup-sayup mendengar percakapan dari arah sofa. Ternyata bu Ida dan pak Indrawan yang sibuk mengganti popok Bilal, sedangkan Haris memilih baju untuk bayinya.
__ADS_1
''Kapan mama datang?'' tanya Jihan dengan suara lemah.
Seperti yang direncanakan wanita itu pun tak bergerak dari tempatnya.
''Baru beberapa menit yang lalu,'' jawab bu Ida dari kejauhan. ''Maaf mama tidak bisa menemanimu saat melahirkan,'' imbuhnya dengan rasa bersalahnya.
''Gak papa,'' jawab Jihan. Ia bisa melihat antusias bu Ida saat merawat bayinya.
Seandainya mama tahu kalau itu bukan bayiku dan mas Haris, apa dia masih mau menyayanginya?' tanya Jihan dalan hati.
Suasana semakin hangat saat Jihan menghampiri Bu Ida dan pak Indrawan. Layaknya orang yang selesai melahirkan, ia berjalan pelan dengan bantuan sang suami.
''Lain kali kamu harus perhatikan Jihan, Ris. Takutnya ceroboh dan tidak memperdulikan dirinya.'' Bu Ida mengingatkan.
Jihan menggendong Bilal dan menatapnya lekat. Kemudian beralih menatap Haris yang ada di depannya.
Kok dia mirip mas Haris ya, apa ini cuma perasaanku saja, atau __
Jihan menepis prasangka buruk yang tiba-tiba melintas dan teringat pada ucapan Ainaya waktu itu.
Tidak, ini adalah anak Ainaya dan suaminya, bukan anak mas Haris.
Bunyi notif dari ponsel Haris terdengar.
Pria itu langsung berdiri dari duduknya dan merogoh saku celananya.
Ternyata itu adalah pesan dari Ainaya.
Maaf Mas, aku mau pulang sekarang. Dan setelah ini aku akan tinggal di rumah bibi. Jaga anak kita dengan baik.
Haris menatap seluruh keluarganya bergantian kemudian berhenti pada sosok mungil yang ada di depan Jihan.
Pulang saja itu lebih baik, nanti aku yang akan ke sana, tapi aku harap kamu menepati janjimu. Mulai sekarang Bilal adalah anakku dan Jihan, bukan anakmu. Ingat itu.
Haris mengirim pesan itu sebagai jawaban. Lalu masukkan ponselnya lagi. Berharap Ainaya tidak mengganggu keluarga kecilnya.
Ainaya yang ada di kamar itu menatap nanar ke arah baju bayi yang ada di pangkuannya. Memeluknya dengan erat. Mencium aroma khas yang tertinggal disana.
__ADS_1
Jawaban Haris seakan adalah peringatan keras. Mungkin saat ini ia bisa menampung segala beban yang terpendam, namun suatu saat berharap akan ada keadilan untuknya.
''Mama pasti akan merindukanmu, Nak. Mama akan selalu berdoa semoga Allah menyatukan kita.''
Ainaya menumpahkan sisa air matanya yang tertinggal. Matanya yang sudah membengkak seolah tak lelah untuk terus menangis.
Keluar dari kamarnya. Sebelum benar-benar pergi dari rumah sakit itu, Ainaya meminta suster untuk mengantarkannya ke ruangan Jihan.
''Apa Nona mau masuk?'' tanya suster saat mereka sudah tiba di depan ruangan yang dituju.
Ainaya menggeleng tanpa suara. Matanya menatap ke arah dalam dari pintu kaca transparan.
Semoga kita bisa bertemu lagi, bagaimanapun juga aku ibunya dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut.
Jika dilihat dari luar Ainaya memang seperti mengikhlaskan putranya di rengkuh orang lain. Namun, dalam hati terasa berat untuk melepasnya. Keadaannya yang masih lemah tak berdaya tak memungkinkan untuk berbuat lebih dan menunggu waktu yang tepat.
Ainaya dan bibi serta paman turun dari angkut tepat di depan rumah. Tanpa sengaja beberapa warga melintas menatap mereka dengan tatapan curiga. Terlebih, saat melihat kondisi Ainaya yang berbeda.
''Ainaya sudah melahirkan, Bu?'' tanya salah satu warga yang penasaran.
''Sudah,'' jawab bibi singkat menggandeng tangan Ainaya berjalan.
Paman menurunkan beberapa tas milik Ainaya lalu menyusul sang istri. Tak mengindahkan cubitan dari mereka yang mungkin akan berpikir macam-macam.
Kalau sudah melahirkan ke mana bayinya? Kenapa gak di bawa pulang? Begitulah pertanyaan orang-orang yang saat ini berdiri di depan pagar rumah paman.
Ainaya duduk di ruangan tamu. Mencoba untuk melupakan apa yang terjadi. Sekeras apapun ia melawan keadaan tetap sama.
''Mulai sekarang kamu tinggal disini saja, paman dan bibi yang akan bekerja,'' ujar bibi masuk ke kamar Ainaya lalu membersihkan nya.
Tidak ada jawaban, Ainaya merasa hidupnya sudah hancur, bahkan tidak bisa bangkit lagi. Untuk apa sibuk menata hidup baru sedangkan separuh nyawanya saat ini ada pada orang lain.
Sungguh ini tidak adil, ia yang harus menderita sedangkan orang lain yang bahagia. Pengorbanannya sia-sia dan tak dianggap, itu sangat menyakitkan.
''Paman yakin suatu saat nanti kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya,'' ucap paman menepuk lengan Ainaya dengan pelan lalu pergi.
Ainaya mencoba untuk menerima dan bangkit lagi.
__ADS_1
Ya Allah, Engkau tidak kan menguji hamba-Mu di luar batas kemampuannya. Berikan petunjuk supaya Hamba bisa menghadapi ini semua.