Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Pengalihan


__ADS_3

Setiap kali melihat postingan status wa kedua sahabatnya, Ainaya merasa iri. Bagaimana tidak, mereka terlihat bahagia di pematang sawah, sedangkan dia harus betah di kamar menemani sang suami yang sangat manja. Bahkan, sedikitpun tak memberi kesempatan padanya untuk bisa keluar.


''Awas ya kalian, nanti akan ku balas,'' ancam Ainaya melalui pesan.


Centang biru. Itu artinya mereka sudah membaca pesan darinya. Tidak ada balasan, Ajeng dan Lidya justru memasang lagi status baru. Nampak keduanya berdiri di samping kerbau dan tersenyum.


''Dasar teman gak tahu diri, seneng banget aku sengsara,'' celotehnya kecil, namun itu mampu mengusik ketenangan Haris yang berada di alam mimpi.


''Ada apa, Sayang?'' tanya Haris dengan suara serak khas bangun tidur. Meraih ponsel yang ada di tangan Ainaya lalu meletakkannya di sembarang arah.


''Ajeng dan Lidya, mereka sengaja memamerkan kebahagiaannya di kampung padaku,'' ucapnya ketus.


Haris terkekeh. Kembali mengeratkan pelukannya yang sempat memudar akibat ia ketiduran.


''Tenang saja, aku akan lebih membahagiakan mu daripada mereka," ucapnya dengan tersenyum nakal. Tak lama kemudian, serangan ciuman bertubi-tubi mendarat di pipi dan bibirnya hingga keduanya kembali beradu di dalam satu selimut.


Namun, sepertinya usaha Haris akan sia-sia saat mendengar pintu diketuk dari arah luar. Keduanya terdiam dan saling tatap.


"Mungkin itu Bilal, Mas." Ainaya mendorong tubuh lelaki itu hingga ambruk ke samping. Lantas, mengambil bajunya yang teronggok di lantai dan buru-buru memakainya. Begitu juga dengan Haris. Ia pun melakukan hal yang sama.


Mereka berdua merapikan penampilannya supaya tidak terlalu kentara selesai bergulat ranjang.


"Kamu bersihin ranjang nya, Mas," ucap Ainaya sembari memakai lipstik, juga menutup noda merah di leher nya dengan fondation.


"Sudah?" tanya Haris memastikan.


Ainaya mengangguk mengizinkan. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Haris membuka pintu dan tersenyum melihat sang putra sedang merangkak di depan pintu. Pemandangan yang sangat menyejukkan mata membuat hatinya mendayu-dayu.


"Ini anak kamu gak mau di gendong, Ris. Sepertinya dia suka sekali tiduran di lantai," ujar bu Ida heran.

__ADS_1


"Gak papa, Ma. Biarin saja. Banyak gerak itu lebih bagus untuk bayi di usia seperti Bilal,'' jawab Ainaya yang baru saja muncul dari belakang.


Haris menggeser tubuhnya. Memberi ruang sang istri untuk keluar menghampiri putranya.


''Haris, papa mau bicara,'' teriak Pak Indrawan dari arah ruang kerja.


Haris pamit pada sang istri dan juga bu Ida, kemudian menghampiri papanya yang tampak serius. Selama ini mereka memang jarang sekali berbincang, kecuali masalah kantor. Dan sepertinya, saat ini dipanggil juga masalah itu juga.


''Ada apa, Pa?'' tanya Haris duduk di depan sang papa.


Pak Indrawan membuka beberapa map di tangannya lalu menyodorkan ke arah Haris. ''Itu adalah sertifikat perusahaan yang harus kamu tanda tangani,'' ucapnya kemudian.


''Maksud, Papa?'' tanya Haris memastikan. Yang ia tahu tidak ada masajah dalam perusahaan itu, namun kenapa harus tanda tangan.


''Tempat itu memang milik papa, tapi sebagian besar kamu yang mengembangkan. Jadi kamu yang berhak memilikinya. Sekarang sudah saatnya kamu memimpin dan bertanggung jawab sepenuhnya pada perusahaan. Papa sudah waktunya istirahat.


Haris menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. Ucapan pak Indrawan seolah beban baru untuknya. Bagaimana tidak, jika ia yang bertanggung jawab penuh atas perusahaan itu, maka waktunya untuk keluarga akan lebih sedikit.


''Gak ada alasan Haris, ini sudah keputusan papa. Kamu bebas ke mana saja, liburan. Bulan madu atau apapun itu. Tidak ada yang melarang. Lagipula ini hanya pindah posisi saja.'' Dengan entengnya pak Indrawan membujuk.


Bukan tanpa alasan, dulu ia juga pernah berada di posisi Haris. Berat memang, namun akhirnya ia berhasil dengan kegigihannya.


''Baik Pa, nanti aku akan bicarakan ini dengan Ainaya.''


Terpaksa Haris menyetujui permintaan sang ayah. Lagipula ia pun kasihan dengan lelaki itu jika harus bekerja di usianya yang sudah menginjak kepala enam.


"Papa mana?" tanya Ainaya pada Bilal yang dari tadi menunjuk orang orang di sekitarnya.


Haris menghentikan langkahnya di ambang pintu. Bibirnya terus mengulas senyum saat Bilal mengabsen semua orang. Kini bayi itu menatap ke arahnya lalu menunjuk dengan jari mungilnya.


''Ah, pintar sekali anak papa,'' puji Haris pada akhirnya. Mengangkat tubuh mungil sang bayi dan menggelitik perutnya dengan bibir.

__ADS_1


Mungkin ini waktu yang tepat aku bicara dengan Aianya.


Haris melambaikan tangannya ke arah pengasuh dan memberikan Bilal padanya. Lalu, mendekati Ainaya yang dari tadi tersenyum manis.


''Aku mau bicara sebentar dengan kamu,'' ucap Haris yang membuat Ainaya deg-degan.


Takut apa yang dibicarakan suaminya itu adalah hal yang menyangkut tentang Jihan atau mungkin juga tentang keluarga mereka.


Ainya mengangguk mengikuti Haris menuju kamar. Meninggalkan bu Ida yang terdiam tanpa kata. Mungkin wanita itu sudah tahu semuanya apa yang dimaksud Haris, makanya tal penasaran sedikitpun.


''Ada apa, Mas?'' Ainaya menekan dadanya yang tiba-tiba bergemuruh menahan takut.


Haris menepuk sisi ranjang yang kosong. Memberi kode Ainaya untuk duduk di sana.


''Sebenarnya ada apa sih, Mas? Jangan nakut-nakuti,'' ucap Ainaya cemas.


Haris tersenyum penuh teka-teki. Ia sangat suka membuat sang istri gelisah. Sebab, disaat seperti ini justru wanita itu terlihat menggemaskan dan imut. Balutan make up tipis menyempurnakan kecantikan wajahnya yang alami.


Ainaya berjalan mendekati Haris dan duduk di sampingnya. Kedua tangannya meremas ujung drres yang dipakainya. Mengurai rasa takut yang menyelimuti.


''Papa menyuruhku bertanggung jawab di perusahaan. Itu artinya aku akan sering keluar kota dan lembur. Jadwalku juga padat dan mungkin hanya pulang saat malam saja. Aku harap kamu mengerti," pinta Haris penuh harap.


Ainaya menundukkan kepala. Dari lubuk hati terdalam, ia ingin kalau lebih banyak meluangkan waktu bersama lelaki itu, namun ia juga tak bisa mengabaikan tugas sang mertua yang diamanahkan kepada suaminya.


''Terserah Mas saja, bagaimana baiknya,'' ucap Ainaya pasrah.


Mungkin itu lebih baik daripada memberikan jawaban sendiri yang menyulitkan suaminya. Bukankah seorang istri wajib mendukung apa yang di lakukan suami? Terlebih itu melibatkan banyak orang.


''Terima kasih, Sayang. Aku janji, sebisa mungkin akan tetap menyempatkan waktu untuk kamu dan Bilal.'' Haris memeluk Ainaya dengan erat.


''Besok kita akan meresmikan pernikahan. Aku harap kamu bersiap-siap mengarungi rumah tangga bersamaku.''

__ADS_1


Ainaya mengangguk tanpa suara. Ia pun sudah menyiapkan diri menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anaknya.


__ADS_2