Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Dinner romantis


__ADS_3

Ajeng bangga sekaligus takjub melihat restoran mewah yang ada di depannya. Tak menyangka Andik akan mengajaknya ke tempat itu. Dari tadi siang, ia hanya membayangkan makan malam di tempat yang romantis dan sederhana. Namun kenyataannya, kata mewah itu ikut tersemat.


''Beneran kita makan malam di sini?'' Ajeng menghentikan langkah Andik yang hendak membuka pintu utama. ''Kamu gak salah?'' imbuhnya.


''Beneran, memang nya kenapa?'' Andik meraih tangan Ajeng dan menggenggamnya. Mereka masuk saling bergandengan tangan.


Sepi, benar-benar seperti di novel romantis. Tepat itu sepertinya memang sudah dipesan Andik, istilahnya di booking. Dari sekian lelaki yang pernah dekat dengan Ajeng, hanya Andik yang paling romantis. Padahal, ia hanya bekerja menjadi asisten yang merangkap sekretaris. Lalu apa kabar dengan Ainaya? Pasti mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu, pikirnya.


''Silahkan duduk, Tuan Putri.'' Andik menarik kursi ke belakang dan mempersilahkan sang tunangan untuk duduk.


Bulu halus Ajeng merinding. Ia benar-benar diperlakukan seperti Cinderella. Tidak menyangka lagi, dari sikapnya yang cuek ternyata menyimpan sejuta keunikan. Bisa romantis juga.


''Mau pesan makanan apa?'' tanya Andik yang membuat Ajeng terkejut.


''Terserah Mas Andik saja, aku ikut,'' jawab Ajeng pasrah. Ia masih menikmati momen bahagia yang tak terkira.


Obrolan kecil tercipta sembari menunggu pesanan datang. Selain menunjukkan watak aslinya, Andik juga menyatakan akan segera datang ke kampung melamar Ajeng. Bagaimanapun juga ia harus datang ke rumah orang tua gadis itu, Bu De.


''Kira-kira kapan kamu ada waktu luang?'' tanya Andik.


''Besok juga bisa, sebenarnya bulan depan aku mau resign, tapi pak Anton melarang. Bagaimana kalau Mas saja yang bilang ke dia,'' ucap Ajeng ragu.


''Itu gampang, nanti aku akan menghubungi dia. Enak saja menyuruh calon istriku kerja terus dengan nya.'' Andik terkekeh.


''Setelah ini kita akan melihat rumah masa depan kita,'' lanjut Andik.


''Rumah?'' ulang Ajeng. Lagi-lagi diberi kejutan yang tak terduga.


Lelaki yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perusahaan itu ternyata sudah memiliki rumah, benarkah?


''Iya, aku sudah membangun rumah. Dan kita akan menempatinya setelah menikah nanti. Saat ini aku masih tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor.''

__ADS_1


Tidak ada yang Ajenh ragukan lagi. Semua sudah jelas. Lelaki itu sangat serius ingin segera meminangnya.


Makan malam berjalan lancar. Romantis dan mengesankan membuat malam itu semakin berwarna dengan lilin asmara yang menggebu.


Cinta yang hadir menyembuhkan secuil luka yang tertinggal. Ajeng benar-benar melupakan masa lalunya.


''Sayang sekali, sudah dipesan semalaman tapi cuma di tempati dua jam doang,'' gerutu Ajeng saat keluar dari restoran itu.


''Gak papa, itung-itung sedekah sama yang punya tempat. Lagi pula aku juga punya usaha restoran sendiri, kalau kamu mau, kelola saja.''


Apa lagi ini? Ternyata calon suamiku ini orang kaya.


''Nanti saja, Mas. Kalau kita sudah menikah. Aku ingin fokus dengan pernikahan kita dulu,'' ucap Ajeng sembari memasang seatbelt.


Mobil melaju membelah jalanan yang gelap gulita. Sesuai ucapannya tadi, Andik akan mengajak Ajeng ke rumah yang seminggu lalu sudah bisa ditempati. Meski bukan rumah mewah ala pengusaha, setidaknya ia sudah bisa memberikan hadiah untuk istrinya.


''Jangan kecewa kalau rumahnya kurang mewah, tapi aku janji sebisa mungkin akan membuat kamu nyaman,'' ujar Andik membelokkan mobilnya ke arah area perumahan mewah yang tak jauh dari rumah Haris.


Umurnya yang sudah matang membuat Ajeng paham akan apa yang dibutuhkan dalam rumah tangga. Meskivkadang-kadang masih egois, namun ia belajar menjadi wanita dewasa.


Mobil berhenti di depan rumah mewah modern tropical. Rumah yang kini juga menjadi trending kalangan artis dan pengusaha terkemuka di tanah air. Dari arah depan sudah nampak pilar-pilar yang menghiasi menyempurnakan kemewahannya. Pot-pot bunga berjejer rapi di sekitar teras dan juga taman. Sungguh membuat sepasang mata Ajeng terpana.


''Apa kamu suka?'' tanya Andik memastikan.


Ajeng menekan dadanya untuk menghembuskan udara dengan pelan lalu mengangguk.


''Kalau gak suka aku bisa mengubahnya,'' kata Andik lagi.


Ajeng menoleh ke arah sang kekasih yang juga menatap rumah itu.


''Ini semua sudah cukup bagiku, Mas. Lagipula aku gak punya alasan untuk bilang gak suka. Semua yang kamu berikan bahkan jauh lebih indah dari yang aku bayangkan, terima kasih.'' Ajeng membuka seatbelt. Ia sudah tak sabar ingin melihat dalam nya rumah tersebut. Pasti lebih indah.

__ADS_1


Andik membuka pintu lebar-lebar. Memperlihatkan ruang tamu yang cukup luas. Terdapat sofa dan juga beberapa hiasan mahal dan elegan di sana, juga beberapa lukisan bertengger di dinding. Setelah itu, mereka beralih menuju ruang keluarga yang juga sangat indah dan sedap dipandang mata.


''Ini untuk kita bersantai nanti.'' Andik menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di bawah lampu hias. Ah, sungguh nyaman dan menyenangkan.


Ajeng hanya bisa tersenyum melihat kelakuan lelaki itu.


Kemudian, mereka beralih melihat area dapur yang ada di belakang tangga. Serta ruang makan yang ada di sampingnya.


''Kamu sendiri yang mendesain ini?'' tanya Ajeng penasaran.


''Iya, aku pikir semua perempuan akan suka dengan warna yang natural seperti ini.'' Menunjuk dinding yang tampak mengkilap, bahkan tak seperti dinding yang sering Ajeng lihat.


''Kenapa dindingnya mengkilap seperti ini?'' Ajeng lebih penasaran lagi.


'Ini cuma cat. Tapi orang yang mengecat ini harus memiliki sertifikat. Bukan sembarang orang,'' papar Andik jelas.


Ajeng geleng-geleng kepala. Kagum sekaligus bingung mau memuji dengan ucapan apa lagi.


''Tapi, jangan bandingkan dengan rumah Nona Ainaya, pasti kalah jauh,'' ucap Andik pelan.


Ajeng tertawa lepas. Menepuk-nepuk tangan lelaki itu lalu duduk di kursi makan.


''Berapa kali aku bilang. Harta bukan segala-galanya, tapi kesetian itu yang lebih penting. Aku hanya ingin kamu setia. Untuk ukuran rezeki semua sudah diatur sama Allah. Jadi jangan takut aku kabur karena kamu miskin. Tapi aku akan minggat kalau kamu selingkuh atau menikah lagi seperti pak Haris,'' terang Ajeng dengan jelas.


''Makasih.'' Sontak Andik memeluk ajeng dengan erat yang membuat sang empu terkejut, namun tak melepaskan diri dari pelukan hangat itu. Kapan lagi akan seprti ini? Apalagi Didin sangat posesif tingkat dewa.


''Dosa,'' lirih Ajeng.


Saat beberapa menit terdiam, ia pun takut kebablasan dan akan terhanyut dalam dosa yang lebih dalam lagi.


Akhirnya penantian panjangku akan segera berakhir. Aku akan menikah juga, semoga Ajeng adalah perempuan yang tepat dan bisa menjadi istri yang baik.

__ADS_1


__ADS_2