Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Minta maaf


__ADS_3

Ainaya meringsek tubuhnya sedikit ke belakang. Entah kenapa, ia ingin terus berbaring. Padahal, sudah terlalu lama tertidur, tapi ada sesuatu yang membuatnya nyaman dan enggan untuk bangun. Terlalu nyaman untuk ditinggalkan.


Apa ini efek pijatan tadi ya. 


Menarik napas dalam-dalam dan membuka mata karena ingin melihat indahnya dunia lagi. Menggeliat, sungguh ia merasa lebih segar, tubuhnya juga terasa ringan dan bugar. 


''Kenapa kamu hadir di mimpiku, Mas. Meski hanya suara, penyesalanmu yang aku dengar, tapi itu seperti nyata.'' Tersenyum kecil. 


Ainaya mengumpulkan nyawanya yang tercecer. Matanya mengelilingi ruangan yang masih sama, namun ia merasa ada yang berat di bagian perut. 


Seperti tangan. 


Tangannya meraba pelan diikuti matanya yang sedikit penasaran. Seketika itu ia terkejut melihat sebuah tangan melingkar di perutnya. 


''Aaaaa...'' Ainaya menjerit sekencang-kencangnya sambil menggeleng. Ia menarik selimut dan turun, karena buru-buru membuat tubuhnya oleng dan jatuh di lantai. 


Haris meringis sambil mengusap telinganya. Ia pun terkejut melihat sang istri yang tampak ketakutan di samping ranjang. Ia pun bergegas turun dan mendekatinya.


''Hei, kamu gak papa?'' Haris mencoba menenangkan, namun tangannya di tepis oleh Ainaya.


''Jangan sentuh aku! Pergi!" ucap Ainaya dengan mata terpejam. 


Haris tersenyum lalu mendekap tubuh Ainaya yang sedikit bergetar. Ia terus mengusap lembut punggung wanita itu dan menenangkannya. 


''Ini aku, Nay. Haris, suamimu,'' ucap Haris berbisik. 


Ainaya terdiam. Ia terbelalak saat mendengar suara yang tak asing di telinganya. Mendongakkan kepala menatap wajah yang lebih tinggi dari nya. 


Mas Haris? kenapa dia bisa ada di sini?


Ainaya mendorong tubuh Haris hingga terhuyung dan jatuh. Kemudian berdiri. Lagi-lagi ia dikejutkan dengan tubuhnya yang hanya memakai baju dalam. 


''Apa yang kita lakukan?'' Menoleh ke arah Haris yang sedikitpun tak bergerak. Menatap pria itu dengan tatapan tajam. Seolah menyalahkan. 


Apa aku goda saja dia. 


''Kamu yakin gak ingat apa yang baru saja kita lakukan?'' goda Haris menahan tawa. 

__ADS_1


Ainaya menggeleng. Mengambil bajunya yang teronggok di lantai lalu memakai nya. Mengingat-ingat kejadian sebelum ia ketiduran. 


''Memangnya apa?'' tanya nya lagi antusias. 


Haris tersenyum lalu berdiri. Maju satu langkah lebih mendekat lagi sehingga ia bisa melihat wajah Ainaya dengan intens. 


''Kita melakukan hubungan suami istri di kamar ini,'' ucap Haris sembari menundukkan kepala.


Plak


Sebuah tamparan mendarat dengan keras di pipi Haris. Ainaya tak bisa lagi membendung amarahnya mendengar kata itu. Buliran bening menetes membasahi pipinya, seolah harga dirinya dijatuhkan untuk yang kesekian kali. 


Haris hanya bisa mengusap pipinya yang terasa perih tanpa protes, mungkin rasa sakit itu tak seberapa dibandingkan luka yang ia berikan. Seperti janjinya, ia sanggup melakukan apapun untuk bisa membawa Ainaya pulang. 


''Kenapa kamu melakukan ini, Mas? Apa selama ini belum cukup kamu menyakitiku? Kenapa harus mengulanginya lagi?" pekik Ainaya di sela-sela tangisnya. 


Sungguh, momen ini tidak diinginkan seorang Haris, namun ia terlanjur terjebak dalam permainannya sendiri. Tidak mungkin mengatakan itu hanya sebuah kebohongan belaka. Pasti Ainaya pun tidak akan percaya padanya. 


''Tapi aku tidak bisa menahan hasratku, Nay. Dan aku pikir kita bisa melakukannya karena masih sah menjadi suami istri.'' Haris melanjutkan sandiwaranya. 


''Kamu jahat, Mas. Kamu jahat,'' ucapnya tersendat. 


Seketika itu Haris kembali merengkuh tubuh Ainaya yang bergetar hebat lalu mencium keningnya.


''Tenanglah, aku bisa jelasin,'' ucap Haris menenangkan.  


Ainaya membisu seribu bahasa, ia terlalu lelah untuk memukul Haris. Bukan puas, justru ia yang merasakan sakit sendiri. 


Hening 


Isakan Ainaya pun semakin lambat, itu artinya wanita itu mulai tenang dan siap mendengarkan penjelasan dari Haris. 


''Kita tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menemanimu tidur dengan izin bu De. Tadi sepertinya kamu terlalu lelah sampai ketiduran dan gak sempat memakai baju, jadi aku hanya menutupnya dengan selimut,'' terang Haris meyakinkan.  


Ainaya meresapi setiap kalimat yang meluncur dari bibir Haris. Mencoba percaya, karena ia pun tak terusik sedikitpun saat tertidur. Namun, sedikit curiga saat melihat suaminya itu juga hanya memakai kaos dalam.


''Lalu, kenapa kamu juga ikut membuka baju?'' tanya Ainaya balik. Mencengkal tangan Haris dan berjalan menuju ranjang. 

__ADS_1


''Di sini terlalu panas. Sepertinya kipasnya tidak berfungsi dengan baik, dan aku gak kuat.'' Menunjuk kipas angin yang nampak lemot. 


Artinya tadi aku tidak mimpi, itu benar-benar suara mas Haris. Kenapa dia bisa ada di sini? Apa jangan-jangan Ajeng yang memberi tahu dia. 


''Mikirin apa?'' celetuk Haris meraih kemeja dan memakainya lalu berdiri di belakang Ainaya. 


''Ngapain kamu ke sini?'' tanya Ainaya ketus. 


Haris tersenyum tipis. Tangannya mengulur merapikan rambut Ainaya yang sedikit berantakan. Ingin sekali memeluknya lagi untuk mengurai rindu, namun sepertinya itu bukan waktu yang tepat sehingga ia memilih untuk menahannya. 


''Aku ke sini nyusul kamu, istriku,'' ungkapnya jujur. 


Ainaya memutar badan. Menyunggingkan bibirnya. Seakan tak percaya Haris menyebutnya sebagai istri. Bukankah selama ini dia yang tidak mau mengakui itu, tapi sekarang saat ingin melepas kenapa semuanya berbalik arah. 


''Apakah masih pantas kamu disebut sebagai suami? Apakah ada seorang suami yang membiarkan istri nya kesakitan, sedangkan dia bersenang-senang di luaran sana dengan istri lainnya, bahkan berjuang melawan maut seorang diri. Kenapa sekarang kamu baru mengakui kalau aku ini istrimu.'' Menunjuk dadanya sendiri. 


Kembali, buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi Ainaya. Begitu juga dengan Haris yang ikut menangis sesenggukan  mendengar kata itu. Ia merasa menjadi manusia paling kejam jika mengingat perlakuannya selama ini. Namun apa daya, itu masa lalu yang tak bisa diulang lagi. 


''Apakah ada seorang suami mengabaikan istri yang sedang hamil, padahal dia mampu untuk memenuhinya.'' Suara Ainaya semakin lemah bahkan nyaris tak terdengar. 


''Maafkan aku.'' 


Haris ambruk dan berlutut di depan Ainaya. Merendahkan harga dirinya demi mendapatkan maaf dari wanita itu. 


''Tidak semudah itu, Mas. Lebih baik sekarang kamu pergi. Aku ingin hidup dengan tenang tanpa kamu,'' ucap Ainaya yakin. Meski masih terasa berat, ia harus bisa melepas semuanya termasuk cinta nya. 


''Aku tidak akan pergi dari sini tanpa kamu. Kita akan membesarkan Bilal bersama-sama. Kamu akan menjadi istriku selamanya sampai maut memisahkan.'' 


Ainaya mengerutkan alis. Ingin sebuah penjelasan yang lebih detail.


Hampir saja membuka suara, ponsel Haris berdering membuyarkan keduanya. 


Ternyata bu Ida yang video call. 


Haris mendekati Ainaya dan mengusap air mata wanita itu.


''Marahnya dilanjutkan nanti. Mama mau bicara,'' ucap Haris sembari menggeser lencana biru tanda menerima. 

__ADS_1


__ADS_2