
Bukan pertama kali Ainaya ditampar masalah besar seperti ini. Sebelumnya ia pernah merasa sakit saat ditinggal pergi oleh kedua orang tua untuk selama-lamanya. Setelah itu ia pun harus menerima kenyataan pahit saat paman dan bibi memaksanya menikah dengan Haris dan menjadi istri kedua. Kini ditambah harus meninggalkan putra tercinta.
Bertanya-tanya dalam hati kesalahan apa yang diperbuat hingga seolah ia memang dipermainkan oleh takdir. Apakah tidak ada kebahagiaan untuknya?Jika memang ada, harus menunggu berapa lama lagi?
Sudah cukup semua itu berlalu, mungkin pergi jauh akan membawanya ke kehidupan baru yang lebih cerah.
''Kamu sudah siap, Nay?'' tanya Haris tiba-tiba berdiri di ambang pintu.
Ainaya meletakkan Bilal di ranjang lalu mendekati sang suami.
''Sudah, Tuan. Apa kita bisa bicara sebentar?'' pinta hanya penuh harap.
Haris mengangguk cepat. ''Bicara saja, Jihan ada di kamar mandi.'' Haris menatap ke arah lantai dua.
Ainaya menghela napas panjang.
''Bagaimanapun juga Bilal adalah putra kandung Anda, Tuan. Saya harap Anda tidak pernah membandingkannya dengan siapapun. Meskipun ibunya bukan orang yang Anda cintai, setidaknya dia darah daging Anda sendiri. Sayangi dia sepenuh hati.''
Sekuat tenaga Ainaya membendung air matanya yang sudah menumpuk dipelupuk. Berharap tidak luruh di depan Haris.
Haris tak menjawab, matanya tak teralihkan dari wajah cantik Ainaya. Seolah ingin mengatakan sesuatu namun tertahan.
Hingga suara klakson mobil membuyarkan keduanya.
''Kamu pesan taksi online?'' tanya Haris menatap ke arah pintu depan yang sedikit terbuka.
Ainaya menggeleng. ''Itu teman saya yang jemput. Maaf saya baru bilang sekarang.''
Ainaya masuk menghampiri Bilal.
''Mama pergi dulu ya. Mama janji akan sering nengokin kamu. Jangan nangis, jangan membuat mama Jihan dan papa repot, anak pintar.'' Mencium pipi Bilal dengan lembut dan lama. Mencurahkan kasih sayang yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh orang lain.
Ting tung
Suara notif ponsel Ainaya terdengar. Ia segera membukanya, takut itu pesan dari Adam.
Uang?
Ainaya mengernyitkan dahi. Sepanjang sejarah hidupnya ini pertama kali ada uang masuk ke rekening dengan jumlah yang sangat besar dan itu membuatnya terkejut.
Ainaya yakin itu uang dari Haris. Sebab, hanya pria itu yang tahu nomor rekeningnya.
__ADS_1
''Ini terlalu banyak, Tuan. Lagipula saya bisa bekerja kok.''
Haris tersenyum kecil. ''Pakai saja, jangan bekerja terlalu berat. Kamu kan habis melahirkan,'' tutur Haris kemudian pergi meninggalkan Ainaya.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu, Mas. Tapi aku tahu kamu sebenarnya baik. Hanya saja keadaan membuatmu seperti ini.
Ainaya keluar dari kamar Bilal. Ia mengambil koper yang sudah disiapkan dari kemarin lalu ke lantai dua untuk berpamitan dengan Jihan.
''Terima kasih ya, Nay. Semoga kamu cepat memiliki momongan lagi,'' ucap Jihan memeluk Ainaya.
''Makasih, Bu. Semoga Ibu dan Tuan Haris selalu bahagia. Jaga Bilal dengan baik seperti saya menjaganya.'' Ainaya mengusap air matanya yang tak bisa terbendung lagi.
''Pasti.''
Sebenarnya aku juga gak mau meninggalkan Bilal, Bu. Tapi mas Haris menyuruhku untuk secepatnya pergi. Semoga setelah ini tidak ada tangisan lagi untukku.
Ainaya keluar dari rumah Haris. Adam langsung menghampirinya ke teras.
''Biar aku yang bawa.'' Adam meraih koper dari tangan Ainaya dan membawanya ke mobil.
''Maaf sedikit lama, tadi nungguin ibu,'' ucap Ainaya merasa bersalah.
Adam tersenyum, membukakan pintu untuk Ainaya.
Ainaya masuk dan duduk di kursi depan disamping Adam yang menyetir.
Haris menutup gorden saat mobil adam melaju meninggalkan gerbang. Matanya berkaca-kaca, seolah ada kesedihan yang merasuk.
Ternyata benar, Adam yang membantu Ainaya. Tapi bagaimana bisa mereka saling mengenal?Bukankah Adam asli orang Bali?
Haris bergegas pergi untuk mencari tahu tentang hubungan Ainaya dan Adam.
Hampir lima menit mobil membelah jalanan. Ainaya maupun Adam saling diam, sesekali mereka saling menatap dan tersenyum.
''Kalau mencari tempat tinggal yang murah saja, Mas. Mungkin untuk sementara waktu aku belum bisa kerja. Jadi takutnya gak bisa bayar,'' ucap Ainaya memecahkan keheningan.
''Jangan pikirkan itu. Yang penting kamu berada ditempat yang aman dan nyaman. Tenangkan diri kamu dulu. Jaga kondisimu. Aku tahu kamu banyak tekanan batin. Tempat tinggal akan menjadi urusanku.''
Ainaya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas pertolongan pria tersebut.
Pertemuan mereka memang sangat singkat, namun Ainaya yakin bahwa Adam adalah orang baik dan tidak akan berbuat macam-macam padanya.
__ADS_1
''Kenapa ke sini, Mas? Di kontrakan saja,'' ucap Ainaya saat Adam menghentikan mobilnya di depan apartemen mewah.
Adam tersenyum sembari membuka seat belt.
''Kamu akan tinggal di sini, jangan khawatir. Semua biaya akan kutanggung. Bisa dicicil kalau kamu sudah kerja,'' canda Adam.
Ainaya ikut turun tanpa membantah. Daripada harus tinggal di rumah paman dan bibi diperlakukan semena-mena lebih baik ia mencari kehidupan sendiri.
Mereka menuju ke lantai sepuluh dan berhenti di depan salah satu unit.
''Kamu bisa tinggal di sini.'' Adam membuka pintu dan membawa koper milik Ainaya masuk.
Tak salah lagi, tempat itu pasti mahal. Dilihat dari desain dan barang-barang yang ada didalamnya semua serba mewah. Ada dua kamar dan juga ruang makan. Setiap kamar pun terdapat kamar mandi yang cantik dan elegan. Layaknya tinggal di hotel bintang lima.
''Kalau kamu butuh sesuatu panggil aku saja. Aku ada di unit sebelah.'' Adam menyerahkan kartu nya.
Tidak ada penolakan, semua sudah terlanjur.
''Makasih ya, Mas. Kamu sudah banyak membantuku.'' Ainaya menerima kartu itu dan menyimpannya, sedangkan Adam pun langsung keluar dan membiarkan Ainaya untuk beristirahat.
Semoga setelah ini aku bisa bangkit dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.
Ainaya masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang. Meskipun sudah berada di apartemen namun hati dan pikirannya masih tertinggal di rumah Haris bersama Bilal.
Mama pasti akan merindukanmu.
Tak lama kemudian ponsel Ainaya berdering.
Nama Haris berkedip di layar. ''Tumben mas Haris menelponku? Apa ada sesuatu yang dibutuhkan? Bukankah aku sudah memberitahu semua tentang cara menjaga Bilal?
Ainaya menggeser lencana hijau tanda menerima.
''Iya, Tuan. Ada apa?'' tanya Ainaya mengawali pembicaraan.
''Pembalut mu ketinggalan, Nay. Pasti nanti kamu kebingungan nyarinya,'' ucap Haris bernada khawatir.
Ainaya mengernyitkan dahi mendengar itu. Pasti saat ini wajah Haris panik.
''Maaf, Tuan. Bukan ketinggalan, saya memang sengaja tidak membawa semua karena koper saya sudah penuh. Maaf sudah membuat kamar belakang berantakan. Saya janji seminggu lagi saya akan ke sana untuk membersihkannya,'' ucap Ainaya menjelaskan.
''Ya sudah gak papa, aku hanya takut kamu kebingungan mencarinya,'' ucap Haris kemudian menutup sambungannya.
__ADS_1
Ainaya tersenyum. ''Ada-ada saja. Masa iya aku harus membawa pembalut sebanyak itu.''